Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Tidak Peka


__ADS_3

Shasa sedang mengeringkan rambutnya yang basah, sedangkan Leo sedang ada di kamar mandi. Benar kata Nyonya Sofia pemandangan kamar ini memang indah sekali. Ternyata Komisaris Gusta sangat merawat taman belakang. Entah itu taman atau kebun, pokoknya ada banyak tanaman yang membuat udara segar di pagi hari serta kolam yang dikelilingi sungai kecil.


Leo keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke arah Shasa yang masih mengeringkan rambutnya. Mereka berdua sama-sama mengenakan jubah mandi.


"Sayang, keringkan rambutku ya." Leo memeluk Shasa dari belakang yang masih duduk di kursi kecil di depan meja rias.


"Sini." Shasa bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Leo untuk duduk.


"Sayang..." Leo memanggil Shasa.


"Hemm." Shasa menyahut singkat sambil mengeringkan rambut Leo.


"Apa kau yang mengatakan kalau aku suka memiliki ruang baca di kamarku?"


"Kau pernah mengatakannya kan kalau itu tempat favoritmu."


Leo tersenyum puas. "Kau benar-benar hapal seleraku."


Tak lama Shasa mengeringkan rambut Leo, terdengar suara bel di kamar itu yang mengagetkan Shasa.


"Ya Tuhan! Apa ada bel di kamar ini?" Shasa melonjak kaget.


"Hahaha... Kamar ini terlalu besar sayang. Tidak akan terdengar kalau hanya dari ketukan pintu." Leo menjawab.


"Sebentar ya aku lihat dulu." Shasa mematikan pengering rambut dan menuju ke pintu kamar. Dia membuka pintunya perlahan.


'Astaga! Ini ada demo di depan kamarku?' batin Shasa, kaget bukan main. Di depan kamarnya sudah ada enam orang pelayan yang memberikan hormat kepadanya.


"Selamat pagi, Nona." Mereka serentak menyapa Shasa.


"Ya, ada apa?" Shasa mencoba tersenyum.


"Kami akan membantu anda bersiap, Nona. Tiga orang dari kami akan membantu anda dan tiga orang lainnya akan membantu Tuan Leo." Salah seorang dari mereka menjawab.


"Apanya yang disiapkan ya?" Shasa tidak mengerti.

__ADS_1


"Kami akan membantu anda menyiapkan pakaian, merapikan penampilan dan riasan anda. Itu tugas kami dari Nyonya Gusta."


'Hah, jadi ini yang sempat dibilang mama kemarin. Aku kan bisa melakukannya sendiri!' batin Shasa.


"Em... Bolehkah aku menyiapkannya sendiri? Aku rasa aku bisa melakukannya sendiri." Shasa merayu.


"Tapi, itu tugas dari Nyonya untuk kami. Bagaimana cara kami mengatakannya kalau anda menolak?"


"Ah, tapi aku juga ingin menyiapkan sendiri pakaian suamiku. Aku kan istrinya, aku merasa tidak berguna kalau orang lain yang melakukannya."


Keenam pelayan itu masih diam dan belum menjawab pertanyaan Shasa. Tiba-tiba Leo sudah ada di depan pintu.


"Sayang, ada apa?" Leo mengambil posisi di samping Shasa dan melihat ke arah luar.


"Ah, ini sayang. Mama menyuruh mereka untuk membantu kita bersiap. Tapi aku ingin melakukannya untukmu." Shasa agak sedikit manja.


'Terserah deh dibilang manja. Yang penting dibelain Leo supaya mengusir pelayan-pelayan ini!' pikir Shasa dalam hati.


Leo melingkarkan tangannya di pinggang Shasa. "Istriku akan membantuku bersiap. Kalian tidak perlu kesini."


"Baik, Tuan."


"Tapi kami akan membantu Nona bersiap nanti. Kami akan kembali."


"Lakukanlah."


Shasa langsung menatap Leo dan memicingkan matanya. Keenam pelayan itu undur diri. Leo menoleh ke arah Shasa.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Leo.


"Kenapa kau membiarkan mereka untuk membantuku? Aku ingin bersiap sendiri." Shasa sedikit kesal.


"Kau tidak mengatakannya tadi. Kau hanya bilang ingin membantuku bersiap."


"Aku pikir kau mengerti. Kau tidak peka!"

__ADS_1


Leo menarik tubuh Shasa mendekat. "Kenapa tidak langsung bilang tadi? Apa kau ingin aku yang membantumu bersiap?" Tanya Leo menggoda.


Shasa mendengus. "Tidak."


"Aku membiarkan mereka membantumu karena mereka perempuan. Kalau mereka pelayan laki-laki, tidak secuil pun aku ijinkan mereka menyentuhmu."


Shasa melepaskan diri dari Leo dan berjalan masuk ke kamar dengam langkah kesal.


'Dia gila kali ya! Mana mungkin juga mama mengirim pelayan lelaki untuk membantuku memakai pakaian.' batin Shasa.


Leo tertawa geli melihat Shasa yang kesal. Dia tahu, Tuan dan Nyonya di rumah ini pasti punya pelayan sendiri untuk membantu mereka bersiap. Tapi karena Shasa sudah menawarkan diri untuk membantunya, buat apa ditolak juga kan, hahahaha.


'Kenapa jadi aku yang salah sih?!' gerutu Leo tetapi masih saja tertawa.


*****


Di dalam mobil, Leo mengecek data pengurus yayasan yang telah dilaporkan oleh asisten Haris.


"Jadi ketua pengurus yayasan saat ini adalah Nyonya Renee dan dia adalah istri dari pamanku. Hemm... Posisi suaminya adalah direktur senior." Leo sedang berpikir keras.


"Secara resmi, Nyonya Sofia masih tercatat sebagai ketua yayasan, hanya saja yang banyak terlibat aktif selama ini adalah Nyonya Renee. Karena Nyonya Sofia telah kembali, maka dia dapat kembali sebagai ketua yayasan yang aktif."


"Tidak. Mamaku akan bolak-balik mengurus butiknya di luar negeri. Kemungkinan dia akan menyerahkan posisi itu pada Shasa."


"Lalu, apa yang anda khawatirkan, Tuan? Bahkan istri anda juga merupakan seorang Nyonya Gusta, dia memang berhak menduduki posisi itu."


"Kedudukan dia yang terlalu dini, bisa saja menciptakan perlawanan di antara pengurus lama. Aku tidak ingin itu terjadi, karena semua usaha untuk membuat Shasa beradaptasi bisa kacau. Aku hanya ingin dia bergerak normal, perlahan." Leo menatap ke luar jendela. "Kau tahu, dia sangat pandai menyimpan luka dibalik senyum manisnya. Aku tidak suka itu."


Asisten Haris mengintip wajah Leo dari kaca spionnya. Leo terlihat memikirkan sesuatu dengan sangat dalam.


"Berapa banyak pengurus inti di yayasan?" Leo bertanya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


"Saat ini ada tujuh orang, Tuan."


Leo menghela napas. Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku berkali-kali melihat sisi lemahnya. Saat dia lemah, itu yang paling aku tidak suka.' batin Leo dengan pikiran yang masih kemana-mana.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2