Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Outing


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh tim pengembangan, tiba juga. Bus wisata telah berderet di depan lobby kantor. Para peserta outing juga sudah sibuk dengan ransel dan bawaannya masing-masing.


Seperti yang dikatakan Leo, ternyata dia benar-benar mengirim Lita untuk ikut outing. Bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk menjaga Shasa yang juga ikut dalam outing itu. Leo menceramahinya panjang lebar tentang apa saja yang harus diperhatikan Lita dalam menjaga Shasa. Lita selalu berdiri tidak jauh dari posisi Shasa berdiri.


Shasa yang sedang mengobrol dengan Tira dan teman-teman lainnya, melirik Lita yang berdiri di hadapannya. Benar kata Leo, Lita termasuk salah satu orang yang disegani. Beberapa manajer pengembangan termasuk manajer Lim, juga menyapa Lita dengan hormat. Shasa mencoba mendekat ke arah Lita. Melihat Shasa mendekat, Lita memberi hormat padanya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Shasa mencoba mengingatkan Lita untuk tidak memberinya hormat seperti itu. Dia takut teman-temannya berasumsi lain. Namun biar bagaimanapun, Shasa adalah istri dari Leo, yang juga bos besar Lita. Sudah sewajarnya Lita menghormati Shasa.


"Nona, apakah anda membutuhkan bantuan untuk membawa ransel anda?" Lita menawarkan untuk membawakan tas Shasa sambil melirik ransel dipunggung Shasa.


"Ah, tidak perlu. Isinya tidak banyak juga." Shasa menolak dengan sopan. "Apa kau baik-baik saja sendirian begini?"


"Nona tidak perlu mengkhawatirkanku. Disini justru aku yang akan lebih banyak bertanya apakah anda baik-baik saja."


"Hahahaha... Kau ini!" Shasa menepuk bahu Lita.


"Apa tidak masalah Nona naik bus wisata seperti itu? Apakah tidak sebaiknya kita berangkat menggunakan mobil pribadi, Nona?"


"Kalau berangkat pakai mobil pribadi, namanya bukan outing dong. Ciri khas outing kantor, ya naik bus wisata." Shasa mencibir. "Kau tenang saja, Aku akan baik-baik saja."


"Nona harus ingat bahwa aku akan siap kapanpun Nona membutuhkan bantuan. Aku pastikan berada dalam radius 1 meter dari anda."


"Ah, Lita kau ini benar-benar merepotkan." Shasa cemberut. "Tidak, tidak. Sepertinya aku yang merepotkanmu."


"Tidak, Nona. Suatu kehormatan bisa melayani anda."


"Aku tidak mengerti kenapa orang dengan posisi tinggi sepertimu hanya dijadikan supir dan asistenku." Shasa menggeleng-geleng kepala masih tak percaya pada Leo yang menugaskan Lita seperti ini.


Lita hanya tersenyum melihat kelakuan Shasa. "Karena, menjadi supir dan asisten seorang Nyonya Gusta adalah tugas besar, bahkan banyak orang yang mengingankannya."


"Hahahaha... Cita-citamu kenapa dangkal sekali! Hanya ingin jadi supir dan asisten." Shasa mendengus kesal.


'Nona, mungkin anda tidak tahu banyak tentang Keluarga Gusta. Kalau sampai ada publik yang tahu kalau seorang Nyonya Gusta ikut acara seperti ini, mungkin akan ada berita tentang anda di surat kabar besok pagi. Apalagi kalau sampai Komisaris Gusta tahu anda di kerumunan tanpa protokoler yang semestinya seperti ini. Niko, si asisten sialan itu, pasti akan mengirimkan banyak pengawal untuk mengikuti anda. Bahkan mereka tidak akan membiar semut mendekati anda. Seperti itulah Keluarga Gusta dijaga. Seketat itu, Nona.' Lita menyimpan kata-katanya dalam hati.


*****

__ADS_1


Di dalam bus, Shasa duduk berdua dengan Tira. Sedangkan Lita, duduk persis di belakang Shasa. Sepanjang perjalanan, mereka bernyanyi bersama, mengobrol ini-itu, makan camilan bersama, sampai bercanda-canda. Satu-satunya yang duduk diam dengan wajah dingin, hanya Lita saja.


Belum sampai di lokasi outing, Shasa sudah dicecar pertanyaan oleh Leo melalui ponselnya.


Leo: Kau sudah sampai? Kau baik-baik saja kan? Lita ada di dekatmu kan?


Shasa: Belum, masih dijalan. Aku baik-baik saja, kenapa kau khawatir sekali. Aku kan bukan bocah yang dilepas ibunya untuk pergi outing sendiri.


Shasa kesal dengan Leo yang cerewet sejak tadi pagi sebelum berangkat.


Leo: Jangan melakukan hal aneh-aneh.


'Cih, memangnya aku mau melakukan apa?' batin Shasa kesal. Sudah dari pagi Leo memang membuat Shasa kesal dengan ocehannya. Bahkan, Leo memaksa untuk mengantar Shasa ke kantor dan melepasnya pergi outing.


Setelah perjalanan 4 jam yang cukup melelahkan, rombongan outing sampai juga di lokasi. Tempat outing kali ini berada di sebuah resort besar di bawah kaki gunung. Ada banyak vila disana. Tetapi, mereka akan memakai area kemah yang berada sedikit ke atas dari kawasan vila.


Kedatangan mereka disambut dengan minuman menyegarkan dari pihak resort. Mereka beristirahat sejenak sambil menikmati udara sejuk pegunungan. Shasa dan Tira duduk di sebuah meja di bawah pepohonan. Tak lama mereka menyesap minuman di mejanya, datang tiga orang lelaki yang kemudian duduk bersama mereka. Lita yang duduk tepat di seberang Shasa, seketika menatap tiga lelaki itu seperti menyelidik.


"Nanti malam kita nampilin apa nih?" Dika memulai percakapan diantara mereka. Dua lelaki lainnya adalah Dito dan Dimas, yang juga rekan satu tim bersama Shasa dan Tira di tim pengembangan.


"Terus kalian ngapain?" Tanya Dito.


"Kita mah tim hore aja, ya gak Sha?" Tira menyenggol lengan Shasa.


"Mending, kak Tira aja yang nyanyi. Aku sama kak Shasa yang dansa." Dimas menggoda Shasa. Dia bahkan meraih tangan Shasa yang duduk di hadapannya. Namun Shasa berusaha melepasnya. Mereka tertawa bersama.


"Ehem, ehem." Entah sejak kapan Lita sudah ada di depan meja mereka. "Boleh aku bergabung disini?" Belum sampai pertanyaan itu terjawab, Lita sudah menggeser Dimas dari duduknya. Sekarang, Lita duduk persis di hadapan Shasa. Lita menatap Shasa dengan sedikit mengangguk seperti ingin memberi hormat.


'Lita ini sudah seperti hantu saja, mengangetkanku.' batin Shasa.


"Silahkan dilanjutkan ngobrolnya." Lita berbicara dengan sopan, tetapi tatapannya masih dingin ke tiga lelaki yang ada disitu.


Meskipun Lita mencoba membuat keadaan se-normal mungkin, tatpi tetap saja yang lainnya menjadi canggung. Mereka yang duduk disana tahu siapa Lita karena manajer Lim sudah memberitahu mereka kalau dia adalah perwakilan tim VIP di outing kali ini. Tentu saja, yang lain menjadi segan kepada Lita.


Harapan Shasa untuk bisa bercanda-canda dengan temannya, ketawa-ketawa bersama, sepertinya akan sirna karena ada Lita yang selalu mengikutinya. Padahal teman-temannya ini memang hobi sekali bercanda, namun sayang sepertinya Lita tidak punya selera humor yang sama.

__ADS_1


Setelah istirahat sejenak dan makan siang, rombongan outing bersiap untuk menuju area kemah. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari vila, namun mereka harus sedikit mendaki karena posisinya memang di atas.


Satu per satu, mereka menapaki tangga yang terbuat dari batu dan pegangannya terbuat dari bambu. Semua orang tampak senang karena mendapat pengalaman baru berkemah bersama. Maklum, mungkin terakhir mereka kemah itu waktu masih di bangku sekolah.


Setengah jalan mereks mendaki, tiba-tiba Shasa tegelincir karena menginjak sebuah ranting pohon yang ada di atas kerikil. Seketika itu juga Tira yang ada di sampingnya menangkap Shasa dan memegang lengannya. Namun, dia sudah terlanjur jatuh. Shasa mengaduh, membuat Lita yang berjarak dua orang di belakangnya, langsung menorobos masuk. Lita sudah melihat Shasa terduduk di tanah.


"Nona!" Lita memeriksa kaki Shasa. "Nona, apakah kaki anda sakit?" Lita terlihat khawatir. Beberapa orang disana jadi menghentikan perjalanannya.


"Aaaaa... Jangan pegang kakiku!" Shasa mengaduh.


"Nona, sepertinya kaki anda terkilir. Saya akan membawa anda ke vila bawah." Lita sudah dengan sigap membangunkan Shasa dan membopongnya kembali untuk turun.


"Bu, biar kami bantu bawa Shasa ke bawah." Dika menawarkan diri. Di dekat sana juga ada Dito dan Dimas.


"Tidak perlu. Kau bantu saja untuk mencarikan dokter disini." Lita menjawab tanpa meilhat ke arah mereka dan hanya fokus memapah Shasa turun. Lita teringat pesan Leo untuk tidak membiarkan siapapun menyentuh Shasa.


Shasa dibawa ke sebuah vila. Dengan cepat, pihak resort memanggil dokter dari sebuah klinik di sekitar sana. Ternyata benar. Kaki Shasa terkilir. Untung saja tidak terlalu parah sehingga masih bisa dibantu dengan perban di kakinya, namun Shasa tidak boleh banyak bergerak dulu.


Dokter klinik sudah selesai membalutkan perban di kaku Shasa. Lita berbicara sebentar dengan dokter itu dan kemudian meminta teman-teman Shasa yang ikut ke vila bersamanya tadi untuk kembali melanjutkan aktivitasnya. Lita yang akan menemani Shasa di vila ini. Mereka pun hanya bisa menurut dan kembali ke area kemah. Lita menemui Shasa yang berada di salah satu kamar di vila itu.


"Nona, apa ada bagian lain yang sakit?"


"Tidak ada Lita. Aku sudah baik-baik saja. Hanya sedikit terkilir saja kok, sebenarnya tidak perlu diperban juga tidak apa-apa." Shasa tersenyum sambil mengelus-elus kakinya.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa menjaga anda dengan baik."


"Hei, kau ini kenapa. Ini bukan salahmu Lita. Aku yang tidak melihat jalanan tadi sampai-sampai aku terjatuh." Shasa menepuk bahu Lita. "Oh iya, kau tidak memberitahu presdir kan?"


Lita hanya diam mendengar pertanyaan itu. Shasa menatap dan meminta jawaban darinya.


'Kenapa perasaanku tidak enak ya?' batin Shasa.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2