Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Janji


__ADS_3

Shasa tidak mengerti apa yang terjadi selama dia tertidur pulas. Saat dia terbangun, dia disuguhkan pemandangan yang tidak biasa.


'Kok dia bisa akrab sama Bi Imah gitu ya? Padahal baru aja kenal.' Shasa tidak mengerti bagaimana bisa orang se-dingin Leo, yang kalau disapa selamat pagi saja tidak pernah menyahut, sekarang mengobrol dengan asisten rumah tangga di rumahnya.


"Kalian sedang membicarakanku?" Shasa memecah situasi dua orang yang sedang asyik bergosip.


"Kemarilah! Kau belum makan kan dari tadi? Aku bahkan sudah memakan makanan penutup." Leo menunjuk sepiring buah yang ada di hadapannya.


'Cih! Ini kan rumahku. Kenapa seolah-olah dia ini pemiliknya!' Shasa bergumam pelan sambil turun tangga ke arah dapur.


"Non, ini makan dulu." Kata Bi Imah sambil meletakkan makanan di meja untuk Shasa.


"Iya Bi. Oh iya, habis ini aku mau ke rumah sakit lagi. Nanti biar Abil pulang dulu aja, kasihan dia biar istirahat." Shasa mulai menyantap makanannya.


Leo hanya tertawa kecil memandangi wajah Shasa membayangkan masa kecil Shasa seperti yang diceritakan Bi Imah.


*****


Shasa kembali lagi ke rumah sakit ditemani Leo. Ibu dan Shabila masih duduk di depan ruang ICU menunggu Ayah.


"Bu, ayah gimana?" Shasa yang baru datang langsung menanyakan kondisi ayahnya.


"Belum ada perkembangan. Tapi tadi kita sudah boleh masuk ke dalam. Kamu masuk sana, temui ayah."


"Bil, kamu pulang aja dulu, istirahat. Ibu juga ya. Biar aku disini temani ayah." Ucap Shasa sebelum masuk ke ruangan.


"Biar saya temani Shasa disini, Bu." Leo mendukung Shasa.


Akhirnya, Ibu dan Shabila pulang ke rumah dan bergantian jaga dengan Shasa dan Leo. Sementara, Shasa memasuki ruang ICU. Leo tak mau ketinggalan, dia juga mengikuti Shasa masuk menemui ayahnya.


"Ayah..." Suara Shasa terdengar lirih. "Ayah, ini Shasa. Maaf, aku baru bisa menemui ayah sekarang." Shasa duduk di kursi samping dan mengelus lengan ayahnya. Leo masih terdiam melihat Shasa di samping ayahnya. "Ayah, cepatlah bangun. Ayo kita main catur lagi. Shasa sudah bersusah payah kesini untuk ketemu ayah. Memangnya ayah tidak mau melihat Shasa?"


Leo tersentuh hatinya. Entah kenapa di saat-saat seperti ini, dia teringat dengan ayahnya.

__ADS_1


Kehadiran Shasa membawa keajaiban di ruangan itu. Ayah yang terbaring lemas, mulai membuka kelopak matanya. Jarinya bergerak lemah. Meskipun begitu, Shasa menyadarinya dengan cepat.


"Ayah." Shasa berharap ayah mendengar suaranya. "Ayah, ini Shasa."


Ayah telah membuka matanya dan menatap Shasa. Ada satu guratan kesedihan di wajahnya. "Sha... " Ayah memanggil dan berusaha mengelus wajah anaknya. Shasa buru-buru menyambut tangan ayahnya. Dia tangkupkan tangan ayahnya ke pipi Shasa.


"Ayah, kangen, Sha." Ayah berbicara dengan begitu lemah. Shasa yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya sambil menahan tangis. "Shasa. Kamu adalah kebanggaan ayah. Sejak kamu kecil, ayah sudah berjanji akan melihat kamu lulus kuliah, bekerja menjadi wanita karir, hingga menikah. Kamu sudah wujudkan semuanya. Tinggal satu lagi. Ayah ingin melihat kamu menikah."


"Ayah, jangan pikirkan Shasa dulu. Ayah harus sehat dulu. Kalau ayah sudah sehat nanti, ayah bisa melihatku menikah."


Ayah menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan buat ayah menunggu, Sha. Ayah tidak tahu bisa menunggu berapa lama lagi."


"Ayah kok bicaranya begitu? Ayah pasti sembuh. Habis ini ayah akan sehat."


Ayah hanya tersenyum mendengar suara Shasa yang begitu menyemangatinya.


Tiba-tiba, seorang perawat wanita masuk ke ruang ICU. Perawat itu memeriksa kondisi ayah yang telah siuman. Setelah mengecek beberapa alat yang terpasang ke tubuh ayah dan menanyakan beberapa pertanyaan kecil pada ayah, perawat itu keluar lagi dari ruang ICU.


"Jadi kapan?" Ayah bertanya lagi. "Kapan ayah melihat kamu menikah? Ayah kan juga mau gendong cucu."


Shasa tersenyum getir. "Pokoknya ayah sembuh dulu ya."


Kemudian perawat yang tadi masuk ke ruangan ayah, membuka pintu dan menolehkan sedikit kepalanya.


"Maaf, keluarga Bapak Himawan ada yang bisa bertemu dokter sekarang?" Perawat itu bertanya sopan.


"Oh iya suster. Saya kesana." Shasa menjawab cepat. "Ayah, Shasa tinggal sebentar ya." Shasa bangkit dari kursinya menyusul perawat tadi.


Shasa teringat sesuatu dan berbalik lagi. "Ah iya, Tuan, maaf aku akan bertemu dokter dulu. Boleh aku titip ayahku sebentar?" Shasa bertanya kepada Leo yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara atau gerakan apapun.


"Iya, kau pergilah. Aku akan menjaganya disini." Leo menjawab. Kemudian Shasa keluar dari ruang ICU.


"Nak..." Leo yang masih menatap Shasa yang keluar dari pintu, mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ayah ternyata memanggil Leo. Leo berusaha mendekat.

__ADS_1


"Nak, duduklah." Leo menurut dengan perkataan ayah dan mulai duduk di sampingnya. Leo masih belum berani mengatakan sepatah kata pun.


"Kau, temannya Shasa?" Tanya ayah pelan.


Leo menyunggingkan senyum di wajahnya. "Iya, om."


"Kalian dekat?" Ayah agak tersenyum.


Leo kaget mendengar pertanyaan ini. "Apakah kami terlihat dekat, om?". Ayah malah tersenyum dan sedikit memejamkan matanya.


"Kau tahu? Shasa itu kelihatannya saja kuat dan tegar. Padahal, hatinya rapuh, seperti anak kecil." Leo hanya tersenyum mendengar pengakuan ayahnya itu.


"Om tidak pernah tahu, apakah om masih bisa menjaga dan menguatkannya. Om takut.... Takut melihat Shasa yang masih sendirian seperti itu." Ayah menelan ludahnya. "Om tidak pernah tahu, dia bahagia atau tidak. Karena Shasa selalu tersenyum. Om tidak bisa membedakannya. Om hanya ingin melihat Shasa bahagia dengan keluarga kecilnya nanti. Menurutmu, apakah om masih bisa melihatnya?"


"Om, tentu saja. Sama seperti yang Shasa bilang tadi. Om pasti sembuh. Om pasti bisa melihat Shasa bahagia."


"Namamu siapa?"


"Namaku Leo, om."


"Nak Leo, sebagai sesama lelaki, om bisa melihat bagaimana kamu menatap Shasa." Leo tertunduk malu mendengar kata-kata ini. "Kamu tidak seperti Shasa yang pandai menutupi perasaannya."


Leo menyadari memang banyak perubahan dalam dirinya. Bagaimana dia bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana dia bisa peduli dengan orang lain. Pertama kalinya dia menjadi manusia yang lebih ekspresif. Itu semua terjadi semenjak mengenal Shasa.


"Berjanjilah, kamu akan menjaganya, memastikan dia bahagia." Wajah ayah tampak begitu berharap. "Om tidak tahu harus mengatakan ini kepada siapa. Tetapi om percaya, siapapun lelaki yang dibawa Shasa ke hadapan om, dia pasti lah orang baik dan juga dipercaya Shasa."


Leo menatap wajah ayah dengan lekat. "Om, jika om percaya padaku, beri aku kesempatan untuk menjaganya. Om bisa andalkan aku. Akan aku pastikan hidup Shasa bahagia mulai sekarang." Leo berbicara begitu mantap.


Ayah tersenyum lega. "Om selalu bilang pada Shasa. Harga seorang laki-laki adalah janjinya. Tepatilah janjimu, nak." Leo menjabat tangan ayah yang masih begitu lemas tergeletak di atas perutnya.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2