
Hari pelaksanaan festival budaya tiba juga. Sejak pagi, Shasa sudah sibuk mengurus persiapan acara yang diadakan di sebuah stadion besar di kota itu. Para pengurus yayasan juga turut sibuk bersama Shasa. Ada yang mengatur panggung, ada yang mengatur pengisi acara, ada yang mengatur meja-meja bazar, dan sebagainya.
Ketika gerbang lokasi acara mulai dibuka, para pengunjung langsung masuk dan meramaikan acara tersebut. Ada yang datang bersama pasangannya, ada yang datang bersama keluarganya, dan ada juga yang datang bersama teman-temannya. Acaranya begitu meriah dengan pawai khas daerah mengenakan baju-baju yang spektakuler. Ada juga penampilan tarian dan nyanyian khas daerah yang menarik perhatian pengunjung. Semua pendapatan dari tiket masuk dan pendapatan sewa meja bazar akan disumbangkan ke beberapa panti asuhan di kota itu.
Pengunjung datang dari berbagai kalangan. Tiket masuk yang terjangkau membuat keluarga sederhana pun bisa menyaksikan acara itu. Shasa begitu puas melihat meriahnya acara ini. Dia melihat banyaknya tawa dan kebahagiaan dari orang-orang yang datang.
Shasa begitu aktif mondar-mandir mengawasi jalannya acara. Dia mengenakan baju sederhana yang membuatnya bebas bergerak. Shasa sudah mengatur seragam untuk panitia acara dengan membagikan kaos. Tetapi tetap saja, para pengurus inti mengenakan kaos itu dengan pasangan yang kurang pas. Shasa memakai kaos dengan celana jeans serta sepatu kets yang nyaman dipakai, sedangkan beberapa pengurus yayasan lainnya ada yang mengenakan kaos dan rok dan ada juga yang memakai sepatu hak tinggi. Shasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa.
Pelaksanaan acara yang dibuka untuk umum ini, membuat para pengawal Shasa yang selama ini memantau kegiatannya, harus bekerja ekstra. Komisaris Gusta bahkan menugaskan pengawal dengan jumlah dua kali lipat dari biasanya. Lita juga senantiasa mengikuti Shasa ke sana-sini.
Dari kejauhan, Leo mengamati Shasa. Dia melihat istrinya itu sangat cantik di bawah sinar matahari yang bersinar cukup terik. Shasa terlihat begitu menikmati kegiatan yang sedang dilakukannya itu. Meskipun, beberapa kali Leo terlihat khawatir karena Shasa tersenggol-senggol pengunjung yang datang begitu ramai.
Acara puncak festival budaya ini tiba juga. Penampilan grup band populer di kota itu, menutup acara festival budaya ini. Beberapa teman kantor Shasa terlihat berdatangan. Shasa menyambut mereka dengan riang. Mereka bahkan menikmati penampilan grup band itu bersama.
Leo tidak mau mengganggu Shasa yang asyik bersama teman-temannya. Kalau tiba-tiba dia bergabung, pasti situasinya akan canggung. Leo hanya tertawa kecil melihat Shasa yang terlihat seperti anak remaja yang datang ke pentas seni. Tapi dia juga bangga pada Shasa yang sudah sangat berani mengadakan acara sebesar ini. Kalau Nyonya Sofia hadir, dia pasti juga akan bangga dengan Shasa.
*****
Acara festival budaya sudah usai. Para pengunjung berangsur-angsur meninggalkan lokasi acara. Beberapa pengurus yayasan juga sudah ada yang pamit undur diri. Shasa terduduk lelah di salah satu bangku. Dia meneguk air mineral dingin dari sebuah botol. Shasa begitu lega acara hari ini berjalan dengan lancar. Dia menepuk-nepuk kakinya yang pegal karena harus bolak-balik ke sana-sini.
Leo berjalan ke arah Shasa. Melihat Shasa yang lelah, Leo langsung bersimpuh di hadapannya dan memijat kaki Shasa.
"Sayang!" Shasa kaget karena tiba-tiba Leo sudah ada di hadapannya.
"Kau capek ya? Harusnya kau menyuruh orang saja untuk membantumu mengaturnya." Ucap Leo sambil masih memijat kaki Shasa.
__ADS_1
Shasa tersenyum. "Aku ingin memberi contoh yang baik bahwa beginilah cara seorang pekerja sosial bekerja. Aku tidak hanya bisa berbicara atau memberi teori pada pengurus yayasan. Aku harus memberikan contoh."
"Setelah ini beristirahatlah. Aku akan menemanimu bersantai-santai di rumah." Leo tersenyum pada Shasa. Dia menatap wajah istrinya dengan lekat. "Kenapa kau cantik sekali sih? Aku jadi takut membawamu ke luar seperti ini."
"Ish..." Shasa tersenyum tipis. "Sayang, terima kasih ya sudah banyak mendukungku." Ucap Shasa lembut. "Aku mencintaimu." Shasa sedikit membungkukkan badannya mendekati Leo.
Leo mencium bibir Shasa lembut. Dia memeluk tubuh Shasa yang bersandar padanya. Leo berkali-kali mengecup bibir Shasa. Mereka tertawa bersama ditemani matahari terbenam kala itu.
Leo menggendong Shasa ke mobilnya. Dia tidak ingin kaki Shasa bertambah pegal. Mereka melesat pulang dengan cepat bersama asisten Haris dan Lita.
*****
Keesokan harinya, Shasa berangkat kerja seperti biasa. Padahal, Leo memintanya untuk istirahat dulu, tetapi Shasa bersikeras untuk berangkat ke kantor karena dia merasa baik-baik saja, hanya badannya sedikit pegal-pegal.
Kemarin malam Shasa mengobrol panjang dengan Nyonya Sofia, bercerita tentang jalannya acara festival budaya. Mereka begitu asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. Leo yang mengamati sambil bekerja dengan laptopnya, hanya bisa geleng-geleng kepala ketika dua orang itu tidak seperti mengobrol lewat telepon, lupa diri.
Shasa sudah duduk di kursi kerjanya. Dia sesekali meregangkan tubuhnya yang pegal atau sekedar memijitnya pelan-pelan. Tira melihat kalau Shasa kelelahan sekali.
"Sha, kenapa gak istirahat aja sehari ini? Kemarin kan habis mengadakan acara besar, pasti capek kan?" Tanya Tira pada Shasa.
"Cuma pegal-pegal aja, Ti. Wajar lah." Shasa tersenyum pada Tira.
Ketika jam makan siang tiba, Lita datang ke meja kerja Shasa membawakan makanan. Shasa yang tadinya ingin makan di luar bersama teman-temannya, jadi batal ikut.
"Nyonya, Presdir Leo meminta anda untuk tidak pergi ke luar karena anda pasti masih capek. Itulah kenapa presdir mengirimkan makanan untuk anda." Jelas Lita pada Shasa.
__ADS_1
"Hahahahaha... Ini sih hanya pegal seperti habis berolahraga. Kenapa dia menganggapnya serius sekali sih?" Balas Shasa dengan tawanya. Tapi karena melihat makanan yang dibawanya begitu menggiurkan, Shasa cukup bersemangat menikmati makan siangnya di meja.
Lita meninggalkan Shasa di mejanya. Kemudian, Shasa mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan ke seseorang.
"Iya, sayang. Kamu sudah makan?"
"Ini aku lagi makan, sayang. Terima kasih ya makanannya."
"Tadinya aku mau makan siang bareng kamu, tapi aku ada rapat di jam makan siang. Jadi, aku hanya bisa mengirimkan makanan lewat Lita."
"Gak apa-apa, sayang. Nanti malam aja kita makan bareng." Goda Shasa.
"Oke baiklah istriku sayang."
Makan siang yang tidak jadi membosankan. Mendengar suara Leo sebentar saja sudah mengubah suasana hati Shasa. Leo selalu pandai memperlakukan Shasa dengan manis. Membuat Shasa tidak pernah bosan menjalani hari-harinya.
*****
Setelah makan malam yang akhirnya tidak berdua, tetapi bertiga bersama Komisaris Gusta, Leo dan Shasa kembali ke kamar untuk beristirahat. Leo sebenarnya unjuk rasa karena dipikirnya mereka akan makan malam berdua. Tapi, Shasa juga tidak tega membiarkan Komisaris Gusta makan malam sendirian. Alhasil, mereka jadi makan malam romantis bertiga.
Di tengah malam, Leo tak henti memperhatikan Shasa yang tidur dengan gusar. Tidurnya resah dan tidak tenang. Sesekali Leo mendengar Shasa seperti meringis. Leo sempat berpikir apa badannya semakin pegal-pegal. Padahal, dokter Sam sudah memberikan obat untuk menghilangkan pegal-pegal lewat Lita.
Leo menyalakan lampu kamarnya dengan remote dari dalam laci di meja samping kasur. Leo memperhatikan Shasa yang tidur dengan gelisah. Tak sengaja, selimut yang menutupi Shasa tersibak dan seketika itu juga Leo membelalakkan matanya melihat sesuatu yang aneh di kasurnya.
Darah!
__ADS_1
*****
bersambung...