Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Sendiri


__ADS_3

“Dokter Sam, kau datang?” Shasa yang sedang bersantai di ruang tengah selepas makan malam, menyapa dokter Sam yang baru saja memasuki paviliunnya. “Oh, hai, dokter. Kau juga datang rupanya.” Shasa terkejut melihat dokter kandungannya berjalan mengikuti dokter Sam dari belakang.


“Halo, Nyonya. Apa kabar? Apa kau sehat-sehat saja?” balas dokter Sam menyapa.


“Tentu saja. Aku sangat sehat. Apa yang ingin kalian lakukan di sini?” Shasa tidak tahu alasan kedua dokter ini datang ke rumahnya.


“Leo, memanggilku. Dia juga memintaku mengajak dokter kandunganmu.” Jawab dokter Sam.


“Ah… begitu. Tapi kebetulan dia sedang di ruang kerjanya sekarang bersama asisten Haris. Sepertinya ada pekerjaan yang sedang mereka selesaikan. Sebentar ya, aku akan memanggilnya dulu.” Shasa sudah ingin beranjak bangun dari duduknya, tetapi seseorang menghentikannya.


“Kau mau kemana, sayang? Duduklah.” Leo tiba di ruang tengah. Dia berjalan mendekati Shasa dan menggiringnya duduk di sofa bersama. Asisten Haris juga ikut bergabung di ruangan itu.


“Aku ingin mengetahui kondisi kehamilan istriku, berikut juga dengan perkiraan tanggal persalinannya.” Leo langsung memulai pembicaraan dengan serius.


“Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Belum lama kan kita sudah cek ke dokter dan kau bisa mengecek catatan dokternya.” Shasa menyela pertanyaan Leo.


“Aku tidak bertanya padamu. Aku ingin mendengar penjelasan dokter secara langsung.” Leo menanggapi dengan tegas hingga membuat Shasa tidak dapat berkata-kata lagi.”


“Sesuai dengan catatan pemeriksaan minggu lalu, kondisi Nyonya Shasa dan bayinya sangat baik. Tanggal perkiraan lahirnya kurang lebih 3 minggu kedepan.” Dokter Sam menjelaskan.


“Aku ingin tahu tanggal pastinya.” Leo menegaskan apa yang ingin diketahuinya.


“Tuan, sebagai tim medis, kami hanya bisa memperkirakan tanggal lahirnya berdasarkan usia kandungan serta kondisi sang bayi. Jika Tuan menanyakan tanggal pasti, itu mustahil untuk dikatakan. Bisa saja tanggal persalinannya lebih cepat, bisa juga lebih lambat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.” Dokter kandungan Shasa menjelaskan dengan rinci.


“Apa ada sesuatu yang kau khawatirkan?” dokter Sam bertanya.


Leo melirik ke arah Shasa. “Aku ingin tahu apa tidak masalah kalau aku meninggalkan Shasa beberapa hari kedepan. Aku tidak mau melewati tanggal persalinan istriku.” Ucap Leo yang tak memindahkan pandangannya dari Shasa.


Shasa menatap Leo dan melihat ada kekhawatiran di matanya. Shasa menghela napas sambil berpikir. Dia ingin sekali meyakinkan Leo bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak perlu khawatir secara berlebihan.


“Berapa lama kau akan pergi?” tanya dokter Sam.


“Sepuluh hingga empat belas hari. Aku akan usahakan pulang lebih cepat.” Jawab Leo.

__ADS_1


Seakan mengerti yang diinginkan Leo, dokter Sam langsung menanggapi. “Aku akan mengirim perawat khusus yang akan memonitor kandungan Nyonya Shasa. Kita akan mengabarimu perkembangannya setiap hari. Kau bisa bekerja seperti biasa dan tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa.”


“Sayang, kau lihat aku kan? Aku sangat baik dan sehat. Begitu juga dengan anakmu. Percaya padaku kalau aku akan menjaga anakmu. Dia pun akan menunggu papanya pulang. Pergilah dan kembali dengan sehat dan selamat. Anakmu akan tetap baik-baik saja sampai kau kembali.” Shasa berbicara dengan sangat hati-hati.


Leo menghela napas dengan berat. “Baiklah. Aku sudah mendiskusikan keberangkatanku dengan mama dan papa juga. Aku sudah menugaskan pelayan lebih banyak untuk mengawasimu.”


'Ish… Kalau dia sudah mengatur semuanya, kenapa masih saja mengumpulkan dokter-dokter ini malam-malam..’ Batin Shasa kesal.


“Pokoknya, kau tidak boleh melahirkan sebelum aku pulang.” Ucap Leo dengan serius dan memandang Shasa dalam.


Shasa menghela napas berat. “Baiklah, sayang. Apapun yang terjadi, aku akan menahan persalinanku hingga kau kembali.” Ucap Shasa agak jengkel. ‘Nak, mama mohon mengertilah sikap papamu ini.’ Batin Shasa sambil mengelus-elus perut besarnya.


*****


Shasa membereskan isi koper Leo untuk keberangkatannya besok. Dia memastikan tidak ada yang tertinggal satu pun. Shasa juga mengirim pesan pada asisten Haris untuk mengingatkan kebutuhan Leo selama dinas ke luar negeri nanti.


Ini adalah kali pertama Leo meninggalkan Shasa untuk jangka waktu yang cukup lama. Hal ini lah yang membuat Leo memikirkan beribu macam cara agar tetap bisa mengawasi Shasa. Leo masih mendiskusikan beberapa hal dengan pelayan-pelayan rumahnya.


“Sayang, kenapa kau membereskan koperku sendirian?” Leo bergegas mendekati Shasa dan membantunya menutup koper.


“Aku ingin memastikan tidak ada satupun yang tertinggal.” Shasa menatap Leo di sampingnya. “Aku ingin kau mengingatku setiap mengambil pakaian dari dalam kopermu.”


Kini, Leo juga menatap Shasa. “Kalau begitu, aku tidak akan ijinkan Haris menyiapkan pakaianku.” Leo tersenyum lebar. “Aku akan menelponmu sesering mungkin. Jangan lewatkan vitaminmu setiap malam.” Shasa mengangguk-angguk mendengar nasehat Leo. “Jangan lakukan apapun yang tidak ku sukai.”


“Memang apa yang tidak kau sukai?” tanya Shasa.


“Apapun yang bisa menyakitimu.” Jawab Leo dengan lugas.


Shasa tersenyum mendengar jawaban Leo. “Kau juga. Jangan lakukan apapun yang tidak ku sukai.”


“Memang apa yang tidak kau sukai?” Kini, Leo yang balik bertanya.


“Apapun yang membuatmu melupakanku.” Shasa melingkarkan lengannya di bahu Leo.

__ADS_1


“Baiklah.” Leo hendak memeluk Shasa, tetapi sesuatu mengejutkannya. “Ah!”


“Kenapa sayang?” tanya Shasa terkejut juga.


“Anakmu menendangku. Sepertinya, dia sangat posesif terhadapmu.”


Keduanya pun tertawa bersamaan. ‘Kenapa kau tak sadar sih? Anakmu sama sepertimu!’ batin Shasa gemas.


*****


Setelah keberangkatan Leo ke luar negeri bersama asisten Haris pagi tadi, Shasa menghabiskan banyak waktu di rumah bersama pelayan-pelayannya. Seperti biasa, tak ada yang berbeda. Hanya saja, Komisaris Gusta menjadi lebih sering mengunjungi paviliun Shasa dan Nyonya Sofia menjadi lebih sering menelepon Shasa.


Sore hari, Leo mengirim pesan pada Shasa kalau pesawatnya sudah mendarat dengan selamat. Namun, Leo belum sempat meneleponnya karena harus langsung mengurus pekerjaan di sana. Shasa begitu lega mendengarnya.


Malam hari, Shasa menghabiskan waktu di kamar. Dia sedang asyik berkirim pesan dengan Gaby. Tak jarang Shasa tertawa geli membaca pesan-pesan Gaby, sampai-sampai dia bisa sedikit melupakan kerinduannya pada Leo.


Melam semakin pekat. Shasa belum kunjung mengantuk. Dia mengelilingi seisi kamar dengan matanya. Dia membayangkan setiap aktivitas yang dilakukan Leo sehari-hari. Membaca buku, menyalakan televisi, memakan buah, membuat Shasa tersenyum kecil saat mengingatnya.


Sampai tengah malam, Shasa masih belum tidur juga. Entah kenapa, dia sangat merindukan Leo.


“Aku baru menyadari betapa berartinya kehadiran Leo di sampingku. Meskipun dia sangat berisik dan tak henti mengkhawatirkanku, tapi sikapnya itulah yang membuatku tenang menjalani setiap detik di hari-hariku. Pasti aneh rasanya jika tidak mendengar suara berisiknya.” Shasa merenunginya dalam hati sambil tersenyum tipis.


Kita memang tidak akan pernah tahu arti kehadiran seseorang sebelum dia pergi dari kehidupan kita. Shasa bersyukur Leo seringkali cerewet padanya karena itu adalah tanda kasih sayang Leo. Mungkin Shasa akan merasa hilang jika Leo berubah menjadi pendiam dan tidak lagi cerewet padanya.


“Bagaimanapun kau, aku bersyukur karena aku tahu kau menyayangiku. Aku malah akan lebih takut kalau kau tidak jadi merepotkan seperti sekarang ini.” Tak sadar Shasa tertawa kecil. “Ah… aku bosan sekali. Aku akan menginap saja di kamar Lita malam ini.” Shasa mengambil jubah tidurnya dan melangkah keluar kamar. Dia berjalan menuju kamar Lita dengan hati-hati. Lampu-lampu di paviliunnya sudah redup karena semua orang sudah tertidur di tengah malam begini.


Shasa hendak mengetuk pintu kamar Lita, tapi kenop pintu kamarnya sudah bergerak dan pintu pun sedikit terbuka. Shasa terkejut menatap orang yang membuka pintu kamar Lita hingga membuatnya tak berkedip selama beberapa detik.


“Niko?”


*****


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2