
“Permisi suster, bolehkah aku tahu dimana ruang perawatan atas nama Shafira Millia?”
“Sebentar Nona, kami cek dahulu.”
Petugas resepsionis rumah sakit menghubungi seseorang melalui telepon kabelnya. Dia terlihat berbicara dengan serius di telepon itu, membuat si penanya terheran seolah habis menanyakan pertanyaan ujian yang sulit.
“Nona, mohon ditunggu sebentar ya.” Balas petugas resepsionis itu pada si penanya.
Beberapa menit berlalu, si penanya masih menunggu di meja resepsionis. Asisten Haris berjalan mendekati meja resepsionis.
“Di mana tamunya?” tanya asisten Haris pada petugas resepsionis.
“Ini, Tuan.” Petugas resepsionis menunjuk ke arah si penanya dengan sopan.
Asisten Haris melihat dengan seksama. Sesekali dia mengerutkan dahinya. Di hadapannya kini, ada seorang wanita muda berambut pirang, lurus cukup panjang, dengan pakaian ala penduduk asing. Wajahnya terlihat lokal, tetapi tidak dengan penampilannya yang begitu tampak berunsur mancanegara.
‘Aku tidak yakin Nyonya Shasa memiliki teman seperti ini. Kebanyakan teman-temannya berpenampilan standar layaknya masyarakat domestik.’ Pikir Asisten Haris dalam hati.
“Tuan, halo.” Sapa gadis itu pada asisten Haris.
“Nona ingin mencari siapa?” tanya asisten Haris datar.
“Aku ingin menjenguk pasien yang kemarin baru saja melahirkan. Namanya Shafira. Shafira Millia. Dia juga menantu dari keluarga Gusta.” Jawab gadis itu.
“Anda siapanya Nyonya Shasa?” tanya asisten Haris lagi.
'Nyonya? Hahaha… ternyata kau benar-benar menantu konglomerat ya.’ Gerutu gadis itu mengejek Shasa dalam hatinya.
“Aku temannya. Teman baiknya.” Balas gadis itu.
Asisten Haris tersenyum tipis. “Nona, tidak hanya satu-dua orang mengaku sebagai teman Nyonya belakangan ini. Dari mana saya bisa memastikan kalau anda benar-benar teman baik Nyonya?”
Gadis itu mulai kesal. “Hei, dengar. Nyonya-mu sendiri yang mengabariku tentang persalinannya. Dia juga yang memintaku mengunjunginya segera. Perlu aku tunjukkan pesan darinya padaku?” gadis itu segera merogoh sakunya mengambil sebuah ponsel. Dia menunjukkan sebuah pesan dari Shasa.
‘Itu benar nomor ponsel Nyonya Shasa! Tidak sembarang orang mengetahui nomor ponsel ini.’ Batin asisten Haris terkejut karena gadis ini bisa membuktikan bahwa dia adalah temannya Shasa.
__ADS_1
“Nama anda, Nona?” tanya asisten Haris.
“Gaby.” Jawab gadis itu singkat.
“Baiklah, mari ikut saya.” Asisten Haris berjalan meninggalkan meja resepsionis. Gadis bernama Gaby itu pun mengekor asisten Haris menuju ke sebuah tempat.
Tiba-tiba saja, asisten Haris membalikkan badannya, membuat Gaby lompat terkejut karena harus mengerem tiba-tiba.
“Nona, anda hanya punya 15 menit untuk bertemu Nyonya.”
“Kau sudah gila? Aku harus naik pesawat lebih dari delapan jam menuju ke sini dan sekarang kau mengatakan padaku hanya bisa menemuinya dalam 15 menit?” protes Gaby tanpa jeda sedikit pun.
'Astaga, kenapa cara dia menggerutu mirip sekali dengan Nyonya Shasa?’ batin asisten Haris.
*****
Niko sudah disibukkan dengan pengurusan dokumen kelahiran Niel. Baru saja dua hari bayi itu hidup di dunia ini, dia sudah mengobrak-abrik jadwal kerja Niko. Komisaris Gusta sudah memberikan pekerjaan rumah beruntun sejak kemarin pada Niko.
Niko memasuki ruangan sekretariat perusahaan. Kehadirannya cukup menggemparkan orang-orang di sana. Beberapa jam dia habiskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di sana. Setelah semuanya beres, Niko beranjak keluar dari ruangan itu. Namun, tak sengaja dia mendengar obrolan pegawai di sana yang sedang membicarakan Lita.
‘Lita akan pergi? Ke mana? Kenapa aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu?’ batin Niko heran. Otak Niko terus berpikir tentang Lita. Dia menebak-nebak apakah ada sesuatu yang dirahasiakan darinya, sedangkan Niko tahu betul setiap seluk-beluk yang terjadi di keluarga Gusta maupun perusahaannya.
Niko berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit. Sesampainya di depan ruangan Shasa, Niko membuka pintu ruangan yang entah kenapa terasa berat saat itu. Betapa terkejutnya Niko melihat siapa di dalam ruangan itu. Bukan hanya itu, dia juga berusaha memahami situasi apa yang terjadi di dalam ruangan.
“Presdir Leo, aku berterima kasih dengan kepercayaan yang telah anda beri selama ini. Aku sangat bangga telah dipercaya untuk menjaga seorang Nyonya Gusta yang anda cintai.” Lita sedang berbicara pada Leo dan Shasa di hadapannya. “Dan… Nyonya, aku sangat terkesan dengan dirimu. Kau mempunyai cara-caramu sendiri untuk menyampaikan ketulusannmu. Semoga ketulusanmu akan dibayar dengan kebahagiaan. Maaf jika selama aku bertugas mengawalmu, ada hal-hal yang tidak kau sukai dariku.”
Leo menyadari kedatangan Niko di belakang Lita.
“Setelah ini kau langsung pergi?” tanya Leo dengan sedikit memicingkan matanya.
“Ya, Tuan.” Jawab Lita singkat.
“Kau tidak ingin berpamitan dengan yang lainnya?” tanya Leo lagi.
“Selama ini, aku bekerja untuk anda, Tuan. Kenapa aku harus berpamitan dengan yang lainnya?”
__ADS_1
“Kau tidak memberitahu Niko tentang kepergianmu?” Shasa menyela bertanya pada Lita. “Aku pikir hubungan kalian sudah membaik akhir-akhir ini.” ucap Shasa polos.
Lita hanya terdiam mendengar pertanyaan Shasa. Dia mencoba mengatur napasnya agar tidak tersengal.
Tiba-tiba saja Niko mendekat. Dia memberi hormat pada Leo dan Shasa dengan membungkukkan kepalanya. Sekejap, Niko menarik tangan Lita dan membawanya keluar ruangan. Leo dan Shasa saling bertatapan satu sama lain.
“Sayang, kenapa kau ijinkan Lita mengundurkan diri?” tanya Shasa dengan wajah sedihnya karena hari ini adalah hari perpisahan Lita.
“Sayang, terkadang kita harus kehilangan dulu sebelum menyadari bahwa sesuatu itu berharga untuk kita. Jika memang mereka saling mencintai, mereka akan kembali dengan cara mereka sendiri. Tanpa kita suruh-suruh, tanpa kita rekayasa.” Jawab Leo.
Shasa menatap wajah Leo beberapa saat. Shasa baru sadar, ternyata Leo juga memperhatikan hubungan Niko dan Lita. Biar bagaimana pun tegas dan kerasnya Niko, dialah salah satu orang yang melindungi Leo sampai hari ini.
*****
Niko membawa Lita ke sebuah balkon rumah sakit. Niko menatap tajam Lita di hadapannya. Tangannya masih mengepal lengan Lita.
“Niko, kau ingin menyakiti tanganku?” Lita memecah keheningan di antara keduanya.
Niko pun melepaskan tangannya dari Lita. “Apa yang kau lakukan?” tanya Niko.
“Kenapa kau peduli dengan apa yang ingin aku lakukan?” Lita bertanya balik.
“Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.” Tegas Niko. “Kau adalah kepala sekretaris perusahaan. Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kau mengundurkan diri?”
“Kau lupa? Selain sebagai kepala sekretaris perusahaan, aku juga asisten Nyonya Shasa. Di antara keduanya itu, posisiku sebagai asisten Nyonya Shasa jauh lebih penting daripada posisiku sebagai kepala sekretaris. Terlepas dari itu semua, baik sebagai kepala sekretaris ataupun asisten Nyonya Shasa, aku bekerja untuk Presdir Leo. Aku tetap bekerja atau pun berhenti, semua ada di bawah kendali Presdir Leo.”
“Lalu, dengan begitu kau berpikir kau tidak perlu mengatakannya pada Komisaris Gusta, Nyonya Sofia, jajaran direksi dan komisaris, dan padaku?” Niko menaikkan nada bicaranya.
“Aku tentu saja akan mengatakan pada Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia. Aku juga akan melaporkan pengunduran posisiku pada jajaran direksi dan komisaris. Tapi, kenapa aku harus mengatakannya padamu?” tanya Lita.
Niko menyipitkan matanya. “Untuk apa kau datang lagi jika akhirnya akan pergi?”
Lita menghela napas. “Aku sudah ingin pergi sejak lama. Tapi hatiku tidak mengijinkannya. Aku menunggu beberapa tahun. Aku berharap ada yang memintaku tetap tinggal. Aku menyerah karena menunggu terlalu lama.” Ucap Lita. “Aku ingin mengatakan padamu tentang kepergianku sesaat sebelum Nyonya melahirkan. Tetapi, aku belum sempat mengucapkannya karena kita semua sibuk mengurus persalinan Nyonya Shasa. Baiklah, sekarang aku akan mengatakannya padamu.” Lita melangkah mendekat tepat di depan Niko. “Kau tahu kan, kakakku tinggal di luar negeri? Sejak lama, dia mengajakku untuk tinggal di sana. Kakakku mengatakan kalau ini saatnya aku menikmati kesenanganku sendiri.” Lita tersenyum tipis pada Niko.
“Kenapa kau harus jauh-jauh mencari kesenangan yang bahkan belum kau lihat dan melupakan kesenangan yang mungkin saja kau dapatkan di hadapanmu?” mata Niko menatap Lita begitu dalam. Tak mereka sadari, jantung mereka berdetak sangat kencang. Telinga mereka sampai tidak mendengarnya karena otak mereka terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
__ADS_1
*****
bersambung...