Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Rumah Keluarga Gusta


__ADS_3

Mobil Leo memasuki sebuah gerbang besar. Besar rumah ini kira-kira sepuluh kali lebih besar dari pada apartemen Leo. Tidak, mungkin lebih dari itu. Pintu masuk rumah ini juga begitu kokoh dan megah. Mobil Leo berhenti di teras rumah dimana terdapat air mancur di tengah-tengahnya. Seorang kepala pelayan menyambut mereka beserta sepuluh orang pelayan lain di belakangnya.


Leo turun dari mobil dan mengulurkan tangannya membawa Shasa keluar. Leo menggenggam erat tangan Shasa. Mereka berdua menuju pintu masuk, diikuti asisten Haris dan Lita di belakangnya.


"Selamat datang Tuan dan Nona." Kepala pelayan memberikan hormat kepada Leo dan Shasa. Begitupun dengan pelayan lain di belakangnya. "Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu anda." Kepala pelayan mempersilahkan mereka masuk.


Shasa begitu gugup saat ini. Pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah seorang konglomerat, benar-benar membuat dirinya merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.


Seorang wanita mendekati mereka dengan senyum yang begitu cantik.


"Leo, sayang..." Wanita itu memeluk Leo. "Mama kangen banget sama kamu. Kenapa jarang telepon mama sih? Maaf ya, mama baru bisa datang kesini." Sedikit protes namun tetap dengan wajah yang cantik berseri.


'Apa? Ini mamanya? Secantik ini? Duh, aku mau pingsan aja.' batin Shasa.


Nyonya Sofia terlihat begitu cantik dengan gaun panjang yang sopan dan elegan. Perhiasannya tidak berlebihan, tetapi tetap terlihat mewah dipakainya.


"Ma, ini Shafira. Istriku." Leo memperkenalkan Shasa pada Nyonya Sofia.


Nyonya Sofia mengalihkan pandangannya pada Shasa dan menyambut dengan senyum hangat.


"Ini dia menantu mama. Manis sekali." Nyonya Sofia memegang tangan Shasa. "Selamat datang, Shafira." Shasa merasa sedikit tenang karena sikap Nyonya Sofia yang begitu baik padanya.


"Terima kasih Nyonya atas sambutannya." Shasa membalas senyum Nyonya Sofia.


"Apa? Kenapa kau panggil aku begitu? Panggil aku mama. Kalau kau istrinya Leo, berarti kau juga anakku."


"Ah, iya, Mama." Shasa mengatakannya dengan ragu tetapi dia senang. Dia melihat Nyonya Sofia sebagai ibu yang hangat, sama seperti ibunya Shasa. Dia bahkan berpikir kalau paras dan kebaikan hati Leo merupakan turunan dari ibunya.


"Ayo kita masuk. Papa sudah menunggu di dalam."


Saat mereka beranjak masuk, tiba-tiba Shasa mengeluarkan suara mengaduh.


"Aw..." Suaranya pelan sekali, tetapi karena rumah besar itu begitu sunyi, semua orang di sekelilingnya mendengar bahkan menghentikan langkahnya.


"Kakimu sakit lagi?" Leo terdengar cemas.


"Tidak tidak. Hanya sedikit salah gerak tadi." Jawab Shasa cepat.

__ADS_1


"Kakimu kenapa?" Tanya Nyonya Sofia yang juga ikut penasaran.


"Kemarin kakinya terkilir, Ma. Padahal dokter sudah mengeceknya kemarin." Leo yang menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa tidak konsultasi dengan dokter keluarga di luar negeri? Harusnya lakukan x-ray saja. Aku akan minta Grace untuk membuat janji temu dengan dokter." Nyonya Sofia tiba-tiba cerewet.


"Ma, aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir. Dokter sudah memeriksa kakiku dua kali." Shasa berusaha menenangkan. Dia berharap Leo membantunya menenangkan Nyonya Sofia, tetapi justru wajahnya masih terlihat khawatir. "Ayo kita masuk saja." Shasa menarik tangan Leo. Semua pun melanjutkan langkah mereka menuju ruang tengah.


'Apa? Cuma terkilir saja harus x-ray dan konsultasi dengan dokter luar negeri? Ini aku cuma salah gerak dikit, lho. Lagian, suaraku juga pelan sekali tadi.' batin Shasa menahan kesal. 'Ternyata Leo bukan satu-satunya yang gila disini. Bahkan, mamanya lebih gila lagi.' pikir Shasa dalam hati.


*****


Nyonya Sofia duduk di samping Komisaris Gusta, berhadapan langsung dengan Leo dan Shasa yang juga duduk bersebelahan. Suasananya sangat sunyi. Setelah Leo memperkenalkan Shasa pada ayahnya, belum ada tanda-tanda pembicaraan panjang akan dimulai. Nyonya Sofia melirik ke dua orang lelaki yang saling diam satu sama lain seperti sedang menunggu siapa duluan yang akan bersuara. Shasa masih menundukkan kepalanya karena gugup tidak tahu harus melakukan apa.


Nyonya Sofia tidak tahan dengan situasi seperti ini. Dia mencoba memecah situasi tegang dengan mengajak Shasa berbicara.


"Shafira, kamu bekerja di XY Group? Sudah berapa lama?"


"Iya Ma. Aku bekerja di tim pengembangan XY Group sudah sejak empat tahun belakangan ini." Shasa agak terkejut karena tiba-tiba ditanya oleh Nyonya Sofia. Shasa berusaha tetap tenang menjawabnya.


"Kalau boleh tahu, kapan pertama kali kalian bertemu?" Nyonya Sofia menunjuk Leo dan Shasa bergantian sambil tertawa kecil.


"Apa yang kau sukai darinya?" Nyonya Sofia memperdalam pertanyaannya dengan nada yang sedikit dipelankan.


"Ehem, ehem." Komisaris Gusta berdehem cukup keras menandakan kalau dia ingin membuka suara. Semua orang menoleh ke arahnya. "Sebentar lagi akan ada pertemuan dengan pejabat tinggi XY Group. Aku akan mengumumkan pertunangan kalian pada mereka. Di akhir bulan ini, kita adakan pesta pernikahan."


Leo mulai menatap Komisaris Gusta, mencerna kata-katanya barusan. "Apa tidak terlalu cepat, Pa? Kita perlu memberitahu keluarganya Shasa tentang ini. Dan... Kita juga perlu tanyakan apakah Shasa sudah siap." Jawab Leo, kemudian melirik Shasa setelah menyelesaikan kata-katanya.


"Kesiapan apalagi yang kau maksud? Bahkan kalian sudah menikah. Akan lebih mudah dan cepat untuk mempersiapkannya. Kita hanya tinggal mengatur pestanya kan? Niko akan mengurusnya." Balas Komisaris Gusta.


"Gusta, aku yang akan mempersiapkan pesta pernikahan anakku. Ini pesta sekali seumur hidup. Aku yakin, pasti Shafira juga ingin ikut mengurusnya." Nyonya Sofia menatap lembut Shasa.


"Shafira, akan banyak hal yang harus kau pelajari. Mungkin lebih tepatnya adaptasi. Beradaptasi dengan lingkunganmu yang baru setelah kau menikah nanti." Pertama kalinya Komisaris Gusta menyebut nama Shasa hingga membuat Shasa sedikit gemetar.


"Aku juga yang akan mendampinginya, Gusta." Nyonya Sofia menyela.


"Aku tidak keberatan dengan pengumuman pertunangan ataupun pestanya. Aku akan menyerahkannya pada Mama. Tapi, sebagai etika keluarga, pada saat seorang lekaki ingin menikahi seorang wanita, keluarga lelaki itu harus menemui keluarga wanita dulu. Aku tidak akan melewatkan proses itu." Leo berbicara dengan datar tapi tegas. "Dan... Aku yang akan mengajari istriku tentang hal-hal yang perlu dia ketahui setelah menikah nanti." Leo menatap Shasa dan memegang tangannya. Sentuhan Leo ini benar-benar menenangkan hati Shasa.

__ADS_1


"Baiklah, Mama tidak keberatan untuk mengatur pertemuan dengan keluarga Shafira. Tapi, Leo, Mama rasa akan lebih tepat kalau Mama yang mengajarinya. Biar bagaimana, Mama lebih tahu peran wanita di Keluarga Gusta." Nyonya Sofia meyakinkan Leo.


Leo menghela napas. "Baiklah, Ma. Aku percaya padamu."


'Mengajari, mengajari, mengajari apa sih? Aku gak ngerti!' batin Shasa masih belum berani membuka suara.


Nyonya Sofia tersenyum senang. "Kalau begitu, mulailah tinggal di rumah ini. Akan lebih mudah jika Mama selalu dekat dengan menantu Mama. Sekaligus, biar Mama makin akrab dengan Shasa."


"Tidak, Ma. Aku dan Shasa akan tetap tinggal di apartemen." Leo menolak permintaan ibunya.


"Leo, rumah ini adalah tempat yang tepat untuk melindungimu dan istrimu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kau tahu, berapa banyak media yang telah menyoroti hubungan kalian belakangan ini?" Komisaris Gusta berterus terang. "Privasi kalian akan lebih aman, jika kalian tinggal disini."


Leo berpikir keras. Betul yang dikatakan ayahnya. Setelah pertunangannya dengan Shasa diumumkan, tidak sedikit orang yang akan menelisik kehidupan Shasa dan mencari tahu lebih dalam tentang keduanya. Ini jelas akan jadi hal yang baru bagi Shasa. Rasanya rumah ini memang tempat yang paling aman bagi mereka karena rumah ini dijaga ketat dan berada di kawasan elit yang tidak sembarang orang bisa masuk atau berlalu lalang.


"Kalian akan mendapat paviliun sendiri. Kalian akan tetap leluasa melakukan kegiatan apapun yang kalian inginkan." Komisaris Gusta menambahkan.


"Baiklah. Aku akan urus perpindahanku dan Shasa kesini." Jelas Leo. Shasa kaget dengan keputusan Leo ini. Shasa merasa tidak akan lebih leluasa jika tinggal disini. Dia pasti tidak bisa sembarangan mengajak keluarganya menginap ataupun mengundang teman-temannya untuk sekedar bermain.


"Dan ini..." Komisaris Gusta menyodorkan sesuatu di meja. Shasa terkejut melihat yang benda yang disodorkan Komisaris Gusta.


'Itu kan kartu bank yang pernah ingin dia berikan padaku.' batin Shasa heran.


"Shafira pasti tahu benda ini. Aku pernah menyodorkan padanya sebelum ini. Tapi, dia menolaknya mentah-mentah." Sindir Komisaris Gusta. "Di dunia ini, hanya ada tiga kartu yang seperti ini. Satu untukku, satu untuk istriku, dan satu lagi untuk anakku." Lanjut Komisaris Gusta. "Aku sudah menyiapkan satu kartu lagi untuk istri anakku. Calon nyonya baru di Keluarga Gusta."


Deg. Shasa jadi merasa bersalah karena telah salah paham pada Komisaris Gusta. Dia menyangka kalau itu adalah sogokan untuknya agar meninggalkan Leo.


"Maafkan saya, Tian. Sepertinya saya salah paham." Shasa tertunduk malu.


"Shafira, kartu ini hanya dimiliki oleh anggota inti Keluarga Gusta. Ini seperti tiket kemana saja dan apa saja. Di tempat-tempat besar di negara ini bahkan di luar negeri, kau cukup menunjukkan kartu ini. Secara otomatis, mereka akan memberikan pelayanan khusus VIP untukmu." Nyonya Sofia menjelaskan dengan lembut. "Kau bahkan bisa membeli apapun yang kau mau dengan kartu ini. Rumah, mobil, apartemen, apapun, cukup tunjukkan kartu ini."


'Mereka ini sebenarnya keluarga apa sih? Keluarga pabrik uang?' batin Shasa yang mulai pusing mendengar obrolan yang semakin tinggi menjulang langit.


"Ah, sudah jam makan siang. Aku juga sudah lapar." Komisaris Gusta bangkit dari kursinya. Serentak Nyonya Sofia, Leo dan Shasa juga ikut berdiri. Komisaris Gusta melangkah menuju meninggalkan ruang tengah. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Ah, Shafira, satu pelajaran pertama yang ingin aku beritahu. Di keluarga ini, tidak ada menantu yang memanggil ayah mertuanya dengan sebutan Tuan. Panggilah yang benar."


Mendengar itu, Nyonya Sofia tak tahan lagi menahan tawanya. Dia berbisik pada Shasa, "Kalau kau memanggil aku dengan sebutan Mama, berarti dia ingin kau memanggilnya dengan sebutan Papa. Inti kata-katanya sesederhana itu." Shasa jadi gugup, tetapi dia juga melihat Leo yang sedikit tersenyum. Di waktu yang bersamaan Shasa juga merasa senang. " Baik... Papa." Shasa agak ragu memanggilnya. Seketika Komisaris Gusta tersenyum tipis. Begitu juga dengan Leo. Kalau Nyonya Sofia? Jangan ditanya, dia sedang tertawa terbahak-bahak sekarang.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2