Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Obrolan Panjang


__ADS_3

Setelah makan siang ala konglomerat, yang dimeja makannya berjajar berbagai macam sendok, garpu, dan pisau berbeda ukuran sampai membuat Shasa bingung harus menggunakan yang mana, Nyonya Sofia dan Shasa melanjutkan obrolannya di bangku taman sambil menyesap teh hangat. Situasi tegang yang sejak tadi mengelilingi atmosfir rumah ini, mulai mencair. Komisaris Gusta bahkan sudah asyik mengobrol tentang bisnis dengan Leo di ruang kerjanya. Meskipun poin pembicaraannya tergolong tidak asyik sebagai obrolan di dalam keluarga, Nyonya Sofia masih bersyukur ada topik bahasan yang bisa mempererat Komisaris Gusta dan Leo.


"Shasa, apa yang kau lihat dan rasakan dengan minum teh bersama seperti ini?" Nyonya Sofia bertanya pada Shasa.


Shasa agak bingung dengan maksud pertanyaan Nyonya Sofia. Tetapi, dia mencoba menjawab. "Yang aku rasakan, kita bisa mengobrol dengan santai, nyaman dan saling terbuka."


Nyonya Sofia tersenyum. "Jawabanmu itu adalah yang dilihat oleh orang normal."


Shasa makin bingung dan mengerutkan dahinya.


"Keluarga Gusta tidak minum teh dengan sembarang orang. Situasi duduk bersama yang kau bilang nyaman itu, bisa jadi berbeda. Setelah menikah nanti, mungkin akan banyak orang yang mengajakmu minum teh atau bahkan mengajakmu makan. Kau tidak boleh sembarangan menerimanya." Nyonya Sofia menjelaskan.


"Kenapa?" Shasa ingin meminta penjelasan lebih lanjut.


"Pertemuan anggota Keluarga Gusta dengan siapapun itu, bisa memunculkan opini berbeda di publik. Mungkin niatannya hanya sekedar minum teh, tetapi orang lain bisa saja menilainya untuk kepentingan bisnis atau kepentingan tertentu." Terang Nyonya Sofia. "Siapapun yang ingin kita temui, akan diatur oleh asisten pribadi kita. Lokasinya, apa yang akan kita makan ataupun minum, itu juga akan diatur sedemikian rapi oleh asisten kita."


Nyonya Sofia melihat kebingungan di wajah Shasa. "Kau tidak perlu khawatir. Akan banyak orang yang menjagamu. Kau tidak perlu merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Em... Mungkin kau akan merasa tidak leluasa, tetapi keberadaan mereka bisa membantu menjaga posisimu."


"Apa Leo pun menjalaninya seperti itu?" Shasa bertanya penasaran.


"Iya tentu saja. Siapa saja yang ditemui, makanan apa yang dia makan, tempat-tempat yang dia datangi, semuanya dipantau secara khusus. Mungkin kau tidak melihatnya, tetapi pasti ada pengawal yang mengikuti kemanapun Leo pergi." Nyonya Sofia mulai terlihat serius. "Roda perputaran bisnis di negara ini banyak dipengaruhi oleh bisnis yang dijalankan Keluarga Gusta. Akan banyak orang-orang yang mendekati kita karena ada hal yang diinginkannya, bukan karena mereka tulus. Kita harus hati-hati sekali menghadapi orang seperi itu."


Shasa menyadari alasan Leo tidak banyak berinteraksi dengan orang. Ternyata karena ini.


"Keluarga Gusta memiliki reputasi dan nama baik yang begitu besar. Di setiap langkah kaki yang kita ambil ataupun kata-kata yang kita ucapkan, bisa mempengaruhi reputasi dan nama besar itu. Karenanya, kau tidak perlu menjawab pertanyaan orang lain ataupun berusaha menjelaskan sesuatu. Jika memang Keluarga Gusta ingin memberitahu sesuatu, kita akan memberitahunya secara formal."


"Aku pasti perlu banyak belajar." Shasa banyak tidak tahu tentang Keluarga Gusta.

__ADS_1


"Aku akan mengajarimu." Nyonya Sofia memegang tangan Shasa. "Pertemuan dengan pejabat tinggi XY Group akan dilaksanakan akhir minggu ini. Apa kau bisa mengambil cuti? Akan banyak yang perlu dipersiapkan. Mungkin akan berat di awal, tapi aku yakin, kalau anakku sampai mencintaimu seperti ini, dia pasti sudah melihat kekuatan besar di dalam dirimu."


Kata-kata Nyonya Sofia ini begitu membekas si hati Shasa. Benarkah Leo begitu mencintai Shasa?


*****


Komisaris Gusta dan Leo sudah mulai menikmati obrolannya tentang bisnis. Komisaris Gusta terlihat begitu puas dan bangga dengan ide-ide brilian Leo. Sepertinya ini obrolan panjang pertama mereka setelah sekian lama. Tak bisa dibohongi, pasangan ayah-anak ini memang sama-sama memiliki ketertarikan di dunia bisnis.


Kepala pelayan membawakan teh untuk keduanya. Mereka meminum teh bersama di sofa ruang kerja Komisaris Gusta.


"Leo, kapan kau mengurus kepindahanmu kesini? Aku sepertinya sudah menemukan teman yang tepat untuk membicarakan bisnis."


Leo tersenyum tipis. "Pa, kau punya banyak ahli bisnis di sekelilingmu, jahat sekali kau tidak menganggapnya teman."


Komisaris Gusta menggelengkan kepala. "Bisnis, bukan berarti pintar atau tidak, ahli atau tidak. Bisnis itu tentang dengan siapa kau percaya. Aku lebih percaya pewarisku daripada orang lain."


"Ah, segera aku akan menunjuk asisten pribadi untuk istrimu." Komisaris Gusta mengambil cangkir tehnya.


"Tidak perlu, Pa. Aku sudah menyiapkan asisten pribadi untuknya."


"Asisten pribadi istrimu, tugasnya tidak ringan. Aku tidak mempekerjakan sembarang orang." Komisaris Gusta mengangkat cangkirnya dan menyesap teh di cangkir itu.


"Papa ingat kepala sekretaris XY Group? Papa pasti tahu kualitas wanita itu. Kalau tidak, mana mungkin papa menempatkannya sebagai kepala sekretaris." Komisaris Gusta spontan menoleh ke arah Leo. "Sama seperti Papa, aku juga tidak mempekerjakan sembarang orang. Apalagi untuk istriku." Jawab Leo mantap.


Komisaris Gusta berpikir sejenak. "Apa kau begitu mencintai istrimu?"


Seketika waktu seperti berhenti berputar. 'Aku tidak mungkin menjawab pertanyaan Papa. Bahkan aku belum mengatakan pada Shasa kalau aku mencintainya.' batin Leo tak melepaskan tatapannya pada Komisaris Gusta.

__ADS_1


*****


Shasa dan Nyonya Sofia masih asyik mengobrol. Sepertinya tidak butuh waktu banyak untuk mengakrabkan mereka. Nyonya Sofia menceritakan hubungan antara Leo dan Komisaris Gusta yang sudah lama saling dingin. Nyonya Sofia merasa seperti satu-satunya wanita yang ada di tengah-tengah mereka.


"Mungkin nanti kau juga bisa membantuku untuk membuat keduanya lebih akrab. Aku benar-benar pusing melihat tingkah laku mereka berdua kalau sudah bertemu. Pasti aku yang harus memulainya." Nyonya Sofia menumpahkan segala perasaanya pada Shasa.


"Aku akan bantu sebisaku, Ma." Shasa tersenyum riang.


"Aku percaya padamu. Kau ini satu-satunya wanita yang bisa masuk ke dalam kehidupan Leo. Aku sempat khawatir kalau dia akan memutuskan untuk tidak menikah."


"Aku? Satu-satunya? Hahahaha... Mana mungkin, Ma. Pasti dulu dia punya banyak teman perempuan kan?" Shasa tertawa tak percaya.


"Iya, dia memang punya banyak teman perempuan. Tapi, ya gitu. Cuma teman. Ketika ada yang mendekat, pasti dia akan menjauh."


"Kenapa dia melakukan itu ya Ma?"


Nyonya Sofia menghela napas. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi. "Leo itu seperti tak punya impian dalam hidupnya. Dia hanya menjalani saja yang ada di depan matanya. Mama pernah tanya apa dia punya sesuatu yang diinginkannya. Aku yakin, Papanya tidak akan menolak jika Leo mengatakannya. Tapi, dia hanya menjawab tidak ingin apa-apa."


"Namun akhirnya dia mengatakan keinginannya. Bahkan dia langsung mengatakan pada Papanya, bukan padaku." Nyonya Sofia tersenyum.


Shasa menunggu kalimat Nyonya Gusta selanjutnya seperti sedang bertanya apa keinginannya itu.


"Dia ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Papanya yang cerita padaku. Dan benar kan apa kataku, Gusta pasti tidak akan menolaknya." Nyonya Sofia tersenyum senang, meninggalkan Shasa yang hatinya berkecamuk. Dia bisa merasakan kesedihan di hati Leo karena selama ini dia pasti kesepian. Tapi Shasa juga bahagia mengetahui bahwa Leo memang tidak pernah main-main untuk menikahinya.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2