
Asisten Haris sudah lelah menanggapi kekesalan Leo. Leo terus-terusan meminta asisten Haris untuk membawanya menyusul Shasa. Tetapi, Komisaris Gusta meminta Lita mengabadikan momen jalan-jalan mereka sore itu dan mengirimkannya ke Leo.
Melihat foto-foto Shasa yang tampak bahagia, kekesalan Leo perlahan mulai mencair. Akhirnya, dia memilih menunggu Shasa di rumah. Leo sudah berdiri di depan pintu rumah utama menunggu Shasa kembali. Tangannya sudah disilangkan di depan dan tatapannya sangat dingin.
Mobil Komisaris Gusta mendarat dengan selamat di depan halaman rumah utama. Shasa sudah punya firasat buruk setelah melihat Leo yang berdiri di depan pintu rumah. Dia memutar otak mencari cara menghadapi Leo yang sepertinya sedang menahan amarahnya.
Shasa keluar dari mobil. Dia berusaha senyum secantik mungkin dan berlari menghampiri Leo.
"Sayaaang." Shasa langsung memeluk Leo. "Kau pulang cepat ya?" Tanya Shasa seraya melepaskan pelukannya.
"Dari mana saja?" Tanya Leo datar.
"Cucu papa ingin jalan-jalan. Kita tidak pergi jauh-jauh kok, hanya di sekitaran sini saja." Sahut Komisaris Gusta sambil berjalan ke arah Leo dan Shasa berdiri. "Kita juga hanya di mobil." Komisaris Gusta menepuk bahu Leo dan meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
Leo masih menatap Shasa dengan lekat, ssedangkan Shasa masih berusaha tersenyum manis dibalik rasa takutnya pada amarah Leo.
"Ayo kita masuk, sayang." Ajak Shasa.
Tanpa berbicara satu patah kata, Leo langsung menggendong Shasa dan membawanya masuk.
"Sayang, turunkan aku." Shasa merengek minta diturunkan dari gendongan Leo.
"Sssttt!"
Seketika Shasa diam dan menghentikan aksi memberontaknya.
"Kau sudah cukup lelah berjalan-jalan. Jangan membuat kakimu semakin lelah dengan berjalan memasuki rumah." Ucap Leo datar.
Mendengar kata-kata Leo, Shasa tersenyum memandangi wajahnya. Meskipun dia mengatakannya dengan dingin dan datar, tapi sangat manis di telinga Shasa.
Leo meletakkan Shasa di kasur dengan perlahan. Tanpa berbicara, Leo melepaskan sepatu Shasa, meletakkan tas Shasa di atas meja, dan membuka mantel yang dipakainya.
"Kau ingin mandi air hangat?" Tanya Leo.
Shasa menatap Leo. Dia menyadari kalau Leo ini lebih suka berbuat daripada banyak berkata-kata.
"Kau masih marah?" Tanya Shasa ragu-ragu.
Leo mendesah pelan dan duduk menghadap Shasa. "Aku tidak marah."
"Tapi kau terlihat kesal."
"Aku kan sudah bilang padamu, jangan keluar dari paviliun. Tapi, kau bahkan keluar dari rumah hari ini."
"Apa yang kau khawatirkan? Bahkan dokter sudah mengijinkannya."
"Entahlah. Banyak yang aku takutkan. Kamu dan anak kita."
"Pikiran kita punya energi yang besar. Kalau kau memikirkan yang buruk-buruk, maka sesuatu yang buruk pun akan terjadi. Tetapi, kalau kau memikirkan yang baik-baik, maka sesuatu yang baik pun akan terjadi. Pikirkan yang baik-baik saja tentangku."
"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat. Nanti pikiranmu akan terbebani. Aku akan membantumu mandi air hangat. Kau harus istirahat." Sebuah senyum pun muncul di wajah Leo.
'Kenapa kau masih penuh dengan ketakutan begini? Bagaimana caranya agar kau memiliki hidup yang lebih santai, tanpa kekhawatiran apapun di pikiranmu?' batin Shasa bertanya-tanya tentang Leo.
__ADS_1
*****
Shasa sudah mengenakan piyamanya setelah cukup lama menghabiskan waktu di kamar mandi bersama Leo. Berawal dari niat membantu Shasa mandi, tetapi berujung ke percintaan mereka yang sudah sekian lama tertunda. Dokter mengijinkan Shasa dan Leo untuk melakukannya setelah melewati trimester pertama, karena kondisi kehamilan Shasa bisa tergolong rentan sehingga trimester pertama kehamilannya harus dijaga ketat dan tidak boleh melakukan hubungan suami-istri.
"Sayang... Kau masih sibuk?" Tanya Shasa yang sedang bersantai-santai di kasur. Karena Leo memutuskan pulang cepat tadi, dia harus membawa beberapa pekerjaannya ke rumah.
"Sebentar, sayang. Sedikit lagi aku selesai." Jawab Leo yang masih fokus dengan laptopnya.
Shasa mengambil sebuah buku dari meja di sisi kasur. Dia mulai membaca sendiri. Tak berapa lama, Leo menyusul ke samping Shasa.
"Sini, sayang. Aku yang akan bacakan untukmu." Leo mengambil buku dari tangan Shasa. Dia mulai membacakan buku untuk Shasa. Entah kenapa setiap Leo membacakan bukunya, hati Shasa menjadi tenang dan sangat menikmati momen itu.
Setelah Shasa terlelap, Leo pun meletakkan bukunya di meja. Dia mulai berbaring dengan hati-hati agar Shasa tidak terbangun. Leo ikut terlelap sambil memeluk Shasa. Tak lupa, dia mengelus-elus perut Shasa sebelum memejamkan matanya.
Malam sudah begitu larut. Langit gelap gulita. Rumah Keluarga Gusta sudah sangat sunyi karena semua orang sudah beristirahat di kamarnya masing-masing. Shasa tiba-tiba saja terjaga dari tidurnya. Dia melihat Leo yang tertidur pulas. Mata Shasa menjadi segar. Dia memikirkan sesuatu. Dia pun memberanikan diri membangunkan Leo.
"Sayang... Sayang... Sayang..." Shasa menggerakkan tubuh Leo pelan.
Leo membuka matanya yang terpejam cukup berat. Dia kaget melihat Shasa yang terbangun menatapnya. "Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Tapi, tiba-tiba saja aku menginginkan sesuatu."
"Kau ingin apa, sayang?"
"Lita, sangat suka menyimpan permen karet di tasnya. Aku ingin permen karet itu."
"Tapi, Lita sudah pulang, sayang."
"Tapi, aku sangat ingin permen karet itu sekarang. Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi tidak bisa. Aku kepikiran terus."
Shasa mengangguk-angguk tanpa dosa.
Leo menarik napas panjang sambil menatap Shasa. "Besok pagi Lita kesini. Besok saja ya, sayang?"
Shasa menggelengkan kepalanya.
Leo langsung mengambil ponsel di laci meja. Dia menghubungi Niko.
"Iya, Tuan." Suara Niko terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Maaf membangunkan tidurmu. Shasa ingin permen karet yang dimiliki Lita, apa kau bisa membantuku mengambilnya?"
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Kalau dia menginginkannya besok pagi, aku tidak akan membangunkanmu malam-malam begini."
"Apa Lita sudah tahu, Tuan?"
"Aku sudah menghubungi Lita. Kau tinggal ke apartemennya saja."
"Baiklah, Tuan."
Leo tidak bisa mengandalkan yang lain, karena Niko satu-satunya yang tahu tempat tinggal Lita. Niko pun melajukan mobilnya keluar gerbang rumah Keluarga Gusta di tengah malam itu. Niko sudah tidak memiliki tenaga untuk memprotes keinginan Shasa.
__ADS_1
Shasa pun menunggu di kamarnya sambil menonton televisi. Leo menemani di sampingnya.
"Besok, aku akan membelikanmu berpuluh-puluh dus permen karet seperti yang dimiliki Lita." Kata Leo spontan.
"Sayang, aku hanya ingin permen karet dari tas Lita."
Leo melirik ke arah Shasa tak percaya.
"Sayang, kau lihat itu. Saluran belanja di televisi memang benar-benar menarik ya."
Leo melihat sebuah loyang pancake sedang didemonstrasikan di televisi.
"Aku jadi ingin pancake."
Duarrr. Satu kalimat dari mulut Shasa yang sudah menjadi mantra untuk membangun para koki di rumah itu. Leo membangunkan mereka untuk membuatkan sepiring pancake untuk Shasa. Para koki masih sangat mengantuk sampai mereka agak kesulitan mencerna permintaan Leo.
Namun, keandalan mereka memang patut diacungi jempol. Sebelum Niko kembali membawakan permen karet untuk Shasa, seporsi pancake telah diantar ke kamar Leo dan Shasa. Pancakenya sangat menarik sekali dan menggugah selera Shasa.
"Enak pancakenya?" Tanya Leo yang heran dengan Shasa.
"Tentu saja. Aku baru tahu kalau makan pancake malam-malam itu nikmat sekali."
'Hahaha... Lebih tepatnya, tengah malam, sayang.' batin Leo.
Setelah satu porsi pancake habis dilahap Shasa, Niko tiba di rumah dengan botol permen karet di tangannya. Dia langsung menuju kamar Leo.
"Nyonya, ini permen karet yang anda minta." Niko menyodorkan botol permen karet itu pada Shasa.
"Ah... Terima kasih, Niko. Aku akan memakannya besok saja karena sudah kenyang makan pancake." Balas Shasa polos.
Leo tersenyum menyeringai melirik istri di sampingnya. 'Jelas-jelas kau memintanya malam ini juga. Cepat sekali berubah pikirannya.' gerutu Leo dalam hati.
Niko tidak bisa berkata apa-apa lagi. 'Nyonya, aku harap waktu cepat berlalu sehingga anda cepat melahirkan. Setidaknya, kalau anakmu minta yang aneh-aneh apalagi di tengah malam seperti ini, aku masih bisa memberinya pengertian.' pikir Niko tanpa bersuara.
*****
Epilog:
Niko sampai di depan lobby apartemen Lita. Dia melihat Lita keluar dari lift apartemennya.
"Ini permen karetnya."
Niko mengecek botol permen karet itu. "Sudah aku duga kau masih menyukai permen karet ini. Tadinya aku akan membeli permen karet ini di swalayan yang buka 24 jam, tetapi Nyonya menginginkan permen karet dari tasmu."
"Sudahlah, ikuti saja. Aku juga tidak menyangka kalau dia memperhatikan permen karet di tasku." Sahut Lita yang masih sedikit mengantuk.
"Kalau begini terus, aku rasa lebih baik kau tinggal di rumah Keluarga Gusta. Akan lebih mudah jika Nyonya menginginkan hal yang lainnya darimu. Aku tidak perlu keluar tengah malam seperti ini."
"Niko, mari kita berbicara besok pagi lagi. Aku mengantuk sekali."
Niko hanya mendengus melihat Lita yang masih terhuyung-huyung mengantuk. Demi seorang Shasa yang sedang mengidam anak emas di dalam perutnya, dua orang dewasa yang sangat cerdas dan berkelas ini, rela menunda tidurnya karena sebuah permen karet.
*****
__ADS_1
bersambung...