
Shasa menarik lengan Leo dan membawanya ke luar kamar inap.
"Tuan! Apa maksud kata-kata anda tadi? Jangan bercanda di depan ayahku!" Shasa terlihat marah.
"Aku tidak sedang bercanda. Kau tahu kan, tidak pernah selangkah pun dalam hidupku, aku ambil untuk bermain-main."
"Anda pikir menikah itu hal yang ringan? Sampai semudah itu anda mengatakannya."
"Shasa, kau tidak dengar? Ayahmu bilang impiannya adalah menikahkanmu. Kalau kau sampai membuat mimpinya hancur, kau sendiri yang akan menyesal. Itu janji ayahmu sejak dulu kan? Harga seorang laki-laki adalah janjinya. Itu yang ayahmu katakan padaku." Leo sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Memang apa yang anda janjikan, hah?"
"Aku sudah berjanji akan menjaga dan melindungimu. Aku berjanji akan pastikan kau bahagia." Leo lantang menjawabnya.
"Aku tidak memintamu untuk melakukannya. Kenapa kau sering sekali membuat keputusan sendiri dan berbuat seenakmu?"
Ibu keluar dari kamar inap. Seketika itu juga pertengkaran Shasa dan Leo terhenti.
"Sha... Sudah sudah." Ibu menenangkan Shasa.
"Nak Leo, kamu membuat ibu kaget tadi. Kamu sungguh-sungguh dengan kata-katamu?" Ibu bertanya dengan sopan.
"Ibu!" Shasa seolah kesal dengan pertanyaan ibu.
"Sstt.. biarkan dia menjawab." Ibu memperingatkan Shasa.
"Saya serius Bu. Saya tidak pernah main-main. Jika ibu merestui..." Belum selesai Leo menjawab, ibu sudah menyela jawabannya.
"Baiklah." Ibu memindahkan pandangannya dari Leo ke Shasa. "Keputusannya ada di tanganmu, Sha." Ibu menepuk punggung tangan Shasa. Kemudian ibu masuk lagi ke kamar inap.
__ADS_1
Tak perlu menjelaskan panjang lebar. Ayah dan ibu terlihat sudah merestui Leo. Dan sekarang ini, keputusannya benar-benar ada di tangan Shasa.
*****
Shasa memasuki kamar inap. Leo mengikutinya dari belakang. Dokter Sam baru saja datang dan langsung memeriksa ayah. Dia memeriksa dengan begitu teliti. Setelah pemeriksaan selesai, dokter Sam menceritakan kondisi ayah kepada dokter yang menangani sebelumnya dan memberikan beberapa instruksi.
Setelah selesai berbicara, dokter Sam mendekati Leo yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Leo, bisa bicara sebentar." Dokter Sam sedikit berbisik ke Leo. Kemudian dokter Sam beranjak keluar diikuti Leo di belakangnya.
Dokter Sam berbicara dengan Leo di luar kamar inap.
"Leo, kondisinya tidak menguntungkan."
Satu kalimat itu sudah membuat Leo mengerti inti pembicaraan dokter Sam.
"Perlu kita pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar? Atau kita pindahkan ke rumah sakit di luar negeri?" Tanya Leo.
Leo mengangguk. "Lakukanlah sebanyak yang kau bisa. Pastikan yang terbaik untuknya." Leo ingin beranjak masuk lagi ke ruangan, tetapi ditahan dokter Sam.
"Sejak kapan kau jadi seperti ini? Menakutkan. Aku seperti tidak melihat dirimu. Apakah aku akan memiliki ipar sebentar lagi?" Dokter Sam sedikit menggoda.
"Kau memang dokter kepercayaanku dan juga sahabatku. Tapi pertanyaanmu itu, kau tahu sendiri aku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu." Leo melepaskan lengannya dan meninggalkan dokter Sam di luar.
'Kau memang benar-benar menakutkan Leo. Pertama kalinya jatuh cinta membuatmu semakin menakutkan.' batin dokter Sam dengan senyum tipisnya.
*****
Beberapa perawat sudah selesai memberikan obat tambahan berdasarkan instruksi dokter Sam. Kini semua orang sudah mendekat ke kasur tempat ayah terbaring.
__ADS_1
"Ayah." Suara Shasa lirih. Shasa memegang tangan ayahnya.
"Ayah tahu, keberuntungan apa yang berharga untuk Shasa selama ini? Itu adalah ayah, ibu, dan Abil. Shasa pernah dengar, katanya anak perempuan akan lebih dekat dengan ayahnya. Aku pikir, aku tidak akan pernah mengalami apa yang anak perempuan lainnya alami bersama ayahnya. Tapi, ayah datang padaku. Ayah, berikan aku segalanya. Ayah wujudkan semua impianku untuk bisa menjadi seperti anak perempuan lainnya di luar sana yang bahagia bersama ayahnya." Ada setitik air mata terjatuh ke pipi Shasa.
"Ayah membuatmu menangis, Sha?" Tangan ayah tak berdaya untuk mengusap air mata Shasa.
Shasa menggeleng cepat. "Ayah tidak pernah membuatku menangis. Ayah selalu membuat Shasa bahagia. Sekarang giliranku." Shasa menatap lekat ayahnya.
"Ayah, restuilah aku dan calon suamiku." Shasa mengulurkan lengan ke arah Leo.
Leo sempat bingung tetapi tangannya tak menolak menyambut uluran tangan Shasa.
"Ayah, restuilah aku menikah dengan Leo. Ayah ingin melihatku menikah kan? Aku tidak perlu pesta pernikahan yang mewah. Aku hanya membutuhkan ayah di sampingku dan mengantarkan aku ke suamiku."
Ayah tersenyum dengan bahagia mendengar ucapan Shasa. "Ayah merestuimu." Ayah mengucapkan satu kata pendek yang menjadi mantra bagi Shasa menghadapi tantangan baru.
Epilog:
Dokter Sam dan Leo keluar dari kamar inap. Ibu mendekati Shasa yang duduk di sofa.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, Sha. Tidak ada yang memaksa kamu."
"Bu, apa ibu tau siapa lelaki itu?" Shasa melirik ibu. "Dia adalah presdir di perusahaan tempatku bekerja. Ini jelas-jelas bukan lelucon untuk dia. Dia bukan orang sembarangan, bu."
Ibu tergelak kaget mendengar fakta tentang Leo. "Kalau dia presdir, bagaimana bisa dia mengikutimu kesini? Apakah dia akan mengikuti semua karyawan yang pulang ke kampung halamannya?" Shasa terdiam mendengar pertanyaan ibu.
"Pasti ada alasankan kenapa dia mengikutimu kesini. Kamu pasti tahu jawabannya, Sha." Ibu mengelus punggung tangan Shasa di pangkuannya.
*****
__ADS_1
bersambung...