
Pagi hari, Leo dan Shasa sarapan bersama. Kini Leo sudah mulai terbiasa dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak lagi makan sendirian ataupun menyuruh orang pergi dari sekelilingnya.
"Kau disana berapa lama?" Shasa bertanya pada Leo.
"Kurang lebih 3 hari." Shasa mengangguk mendengar jawaban Leo. Wajahnya seperti berpikir kalau 3 hari akan lama sekali.
Tak lama, asisten Haris datang bersama seorang wanita berpakaian formal. Keduanya memberikan hormat pada Leo dan Shasa.
"Shasa, itu adalah supirmu. Dia akan mengantarmu pulang-pergi atau kemana pun kau mau. Pastikan kamu hanya pergi bersamanya." Leo menunjuk ke arah wanita di belakang asisten Haris. Wanita itu menundukkan kepalanya kepada Shasa.
Shasa seperti ingin berbisik, mendekatkan mulutnya ke telinga Leo.
"Kenapa kau menggunakan supir wanita?" Shasa bertanya heran. Menurutnya, tidak pas kalau mempekerjakan wanita sebagai supir.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu semobil berdua dengan lelaki lain?" Balas Leo berbisik.
Shasa cemberut menjauhkan wajahnya dari Leo. Kemudian dia memberikan senyumnya pada wanita itu.
"Siapa namamu?" Tanya Shasa.
"Saya Lita, Nona."
"Hem... Baiklah. Mari kita berteman." Shasa memberikan senyuman menyambut Lita.
Setelah selesai sarapan, Leo dan Shasa menuju lobby apartemen. Asisten Haris dan Lita sudah bersiap di depan mobil masing-masing.
Leo menghadap ke Shasa. Dia memandangi wajah Shasa dan menghela napas.
"Tidurlah di kamarku. Kamarku lebih nyaman daripada kamarmu."
Shasa hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Lagipula kau tidak pernah lagi tidur di kamarmu kan." Tambah Leo, membuat Shasa menengok kanan-kiri takut ada yang mendengar ucapan Leo tadi.
"Pergilah." Shasa menyuruh Leo masuk ke mobilnya. Asisten Haris membukakan pintu mobil untuk Leo. Dia pun segera melesat meninggal Shasa yang masih berdiri di lobby. Tak lama, Lita membukakan pintu untuk Shasa.
"Lita, jangan turunkan aku di lobby kantor ya. Turunkan aku di pintu basement saja." Lita yang mendengar perintah itu menganggukkan kepala tanda mengiyakan keinginan Shasa.
Pagi itu seperti pagi yang berat bagi Leo dan Shasa. Mungkin karena perasaan cinta keduanya mulai tumbuh bermekaran. Tiga hari pasti terasa tidak mudah bagi mereka.
*****
Leo sudah berada di dalam jet pribadinya. Sesekali dia melihat rekaman cctv rumahnya yang dia pantau dari tablet. Dia baru menyadari kalau dia dan Shasa tidak pernah berfoto bersama. Bahkan pada saat pernikahannya pun, tidak ada yang sempat mengambil gambar mereka.
"Haris, ketika pulang nanti, jadwalkan fotografer untukku." Leo berbicara pada asisten Haris yang duduk tepat di belakangnya.
"Apakah Tuan ingin mengganti foto di ruangan anda?" Asisten Haris bingung karena belum lama di ruangan Leo dipasang foto dirinya dengan pakaian formal saat pertama kali diangkat sebagai presdir. Apakah Leo sudah ingin menggantinya secepat ini?
__ADS_1
"Tidak, bukan itu. Sepertinya aku tidak punya foto pernikahanku dengan Shasa. Setidaknya aku harus memilikinya kan walaupun hanya satu."
'Ah... Ternyata dia lagi kangen ya. Padahal baru beberapa jam berpisah.' batin asisten Haris.
"Baik, Tuan. Saya akan atur untuk mengambil foto di rumah anda saja kalau begitu."
Sementara itu, Shasa menjalani hari-harinya dengan normal. Dia sibuk mengerjakan proyek pengembangan yang baru. Shasa terlihat lebih santai dibanding Leo yang tak henti-hentinya memikirkan Shasa. Dia bahkan sedikit lupa dengan kekhawatirannya yang ditinggal Leo selama beberapa hari ke depan.
Setelah makan siang bersama teman-temannya, Shasa mampir ke cafeteria untuk membeli kopi. Setelah berhasil mendapatkan kopinya, dia bergegas kembali. Tiba-tiba ada seorang lelaki di hadapannya. Pakaiannya formal dan rapi. Shasa benar-benar tidak tahu siapa lelaki di hadapannya ini.
"Nona Shafira?" Lelaki itu bertanya.
""Ya?" Shasa masih mengira-ngira apakah lelaki ini hanya menebak-nebak namanya atau mengintip dari ID pegawai yang menggantung dilehernya.
*****
Komisaris Gusta kini duduk di ruangannya di lantai VIP. Para staf di lantai itu sedikit terkejut karena Komisaris datang tanpa pemberitahuan. Namun, dia hanya berjalan santai dan masuk ke ruangannya.
Salah satu staf sekretaris menyapa Komisaris dan bertanya apakah beliau ingin bertemu Presdir Leo. Namun Komisaris hanya menjawab kalau dia akan bertemu seseorang, bukan Presdir. Sekretaris itu pun hanya mengangguk dan kembali ke mejanya.
Tak lama, Niko datang bersama Shasa di belakangnya. Mereka berjalan ke arah ruangan Komisaris. Shasa tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Dia hanya mengekor Niko yang ditemuinya di lobby kantor.
Mereka tiba di depan sebuah pintu ruangan. Niko membalikkan badannya.
"Silahkan Nona." Niko memiringkan badannya memberikan jalan untuk Shasa masuk ke dalam ruangan.
Jeglek. Hati-hati Shasa membuka pintu itu sambil menebak siapa yang ada di dalamnya. Ketika matanya melihat dengan jelas siapa di hadapannya itu, Shasa segera membungkuk memberi hormat.
Shasa tidak punya pilihan selain menuruti perintah Komisaris Gusta. Shasa duduk dengan gugup dan masih menundukkan pandangannya.
"Kau tahu siapa aku kan?" Komisaris Gusta bertanya.
"Tentu saja, Tuan Komisaris." Jawab Shasa terbata-bata.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu kesini?"
Shasa memberanikan diri melihat Komisaris Gusta. Kemudian Shasa menggeleng.
"Aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu. Jawablah yang jujur." Komisaris Gusta menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Kau tahu kalau anakku adalah presdir di perusahaan ini kan?"
"Tentu saja Tuan."
"Aku tidak tahu apakah yang aku dengar ini benar atau tidak. Apa kau punya hubungan dengan anakku? Jika iya, apa hubungan kalian?" Komisaris Gusta bertanya dengan santai, tapi justru Shasa semakin gugup dengan pertanyaan yang dilontarkannya itu.
Shasa bingung harus menjawab apa. Dia takut untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau kesulitan menjawab pertanyaanku. Kalau begitu akan ku bantu." Komisaris Gusta berhenti sejenak. "Apa benar kau menikah dengan anakku?"
Shasa yang tertunduk, spontan melihat Komisaris Gusta. Dia tak mengerti bagaimana Komisaris Gusta bisa tahu tentang pernikannya, yang bahkan Leo pun belum memperkenalkan Shasa padanya. Shasa masih belum punya keberanian untuk menjawab.
"Sepertinya pertanyaanku benar-benar menyulitkanmu ya." Komisaris Gusta mendengus pelan. "Aku tidak tahu apakah statusku sudah dihapuskan sebagai ayah oleh anakku, sampai-sampai dia tidak memberitahuku kalau dia sudah menikah."
"Tuan, maafkan aku. Itu bukan kesalahannya. Itu salahku. Aku yang memintanya untuk menikahiku." Akhirnya terlontar pernyataan Shasa yang secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan Komisaris Gusta. Shasa tidak ingin Leo dicap sebagai anak yang membuang orang tuanya
"Ah... Jadi begitu. Kau tidak tahu seberapa penting posisi anakku? Apa kau pikir bisa bermain-main tentang pernikahan dan melibatkan anakku?"
"Tuan, meskipun aku yang memintanya, tetapi aku tidak pernah menganggap ini permainan."
"Lalu, bagaimana bisa kalian menikah tanpa restu dari orang tua pihak laki-laki?"
"Tuan, sekali lagi aku minta maaf. Aku sadar bahwa awal pernikahan ini salah dan menyinggung Tuan sebagai ayahnya."
"Kau tidak berpikir apa dampak reputasi yang didapatkan anakku dengan pernikahan sembunyi-sembunyi ini?"
Shasa tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Komisaris Gusta karena dia memang menyadari kesalahan di awal pernikahannya dengan Leo.
"Dia bisa kehilangan semua miliknya." Komisaris Gusta menjawab dengan lugas. "Aku tidak mengerti kenapa Leo melakukan ini."
Shasa tak pernah sampai kepikiran hal yang disebutkan Komisaris Gusta tadi. Dia menjadi semakin merasa bersalah dengan kondisi ini.
"Tuan, aku akan berbicara pada Leo. Aku akan berusaha mencari solusi untuk masalah ini. Jika aku harus meninggalkannya, maka..." Shasa menggantung kata-katanya. Setitik air mata menetes di pipinya. Komisaris Gusta jelas melihat itu. Sejak di lontarkan banyak pertanyaan di awal tadi, dia terlihat tegar. Tetapi, ketika dia berbicara tentang perpisahan, air matanya justru tak bisa dibendung.
Komisaris Gusta bingung dengan perubahan emosi Shasa. Belum selesai Shasa dengan kata-katanya, Komisaris Gusta menyodorkan sesuatu di meja. Shasa melirik Komisaris Gusta sejenak.
Shasa mengetahui yang disodorkan Komisaris Gusta. Sebuah kartu bank.
"Kau bisa gunakan ini." Shasa langsung menyambar kata-kata Komisaris Gusta itu.
"Tuan, apa maksudnya dengan ini? Tuan sedang merendahkan harga diriku?" Keberanian Shasa muncul. "Aku tidak menikah untuk uang. Aku menikah untuk ayahku. Jika Tuan tidak menyetujui pernikahan ini, mintalah kepada putra Tuan untuk menceraikanku." Shasa menghapus air matanya. "Aku akan terima apapun keputusannya karena dia adalah suamiku." Jawab Shasa tegas. Komisaris Gusta hanya menatap Shasa yang berdiri dari duduknya.
"Aku mohon undur diri, Tuan." Shasa memberi hormat pada Komisaris Gusta dan melangkah keluar ruangan. Di luar, dia melihat Niko yang berdiri beberapa meter dari pintu seolah dia menjaga privasi obrolan Komisaris Gusta dengannya.
Niko mendekati Shasa. "Nona, mari saya antar ke lift VIP."
Shasa menatap sinis. "Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri dan aku tidak akan menggunakan lift VIP." Shasa meninggalkan Niko yang berdiri diam, heran dengan sikap sinis Shasa padanya.
*****
Epilog:
Sepeninggal Shasa, Komisaris Gusta tersenyum tipis mengingat apa yang dikatakan Shasa.
'Jadi itu alasan kalian menikah.' Komisaris Gusta mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
'Wanita itu...' Komisaris Gusta tidak meneruskan pikirannya untuk menebak-nebak tentang Shasa. 'Akan sulit untuk mendidiknya.' Komisaris Gusta tersenyum membayangkan sesuatu di kepalanya.
bersambung...