Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Tanpa Kata


__ADS_3

Ayah Shasa akhirnya dipindahkan ke kamar inap biasa. Meskipun begitu, ayah masih harus dirawat intensif. Ibu dan Shabila yang mendengar berita kalau ayah sudah sadar, langsung menuju ke rumah sakit lagi


Saat ini, di kamar inap ada ayah, ibu, Shabila, Shasa, dan juga Leo. Ibu duduk di samping kasur ayah, sedangkan Shasa dan Shabila hanya berdiri di dekatnya.


"Bu, lihat. Shasa sudah jadi wanita dewasa sekarang." Ayah tersenyum pada Ibu.


Ibu membalas ayah dengan senyumnya juga. Tangan ibu menggenggam tangan ayah.


"Ayah gak sabar, melihat Shasa menikah. Terus nanti kita punya cucu, Bu." Lanjut ayah dengan sedikit tertawa.


"Ayah, kenapa itu terus sih yang dibahas." Shasa sedikit kesal dengan ayahnya. "Ayah, harus sehat dulu. Baru habis itu, aku menikah." Rayu Shasa.


Ayah tertawa kecil. "Ayah sehat, Sha."


"Kalau ayah sehat, ayah gak disini" Shasa meledek.


"Ayah beneran sehat. Dokternya aja yang lebay. Hahaha" Ayah tertawa lemah.


'Ayah, sempat-sempatnya bercanda di saat begini.' batin Shasa kesal.


"Ayah, nih. Emangnya Shasa mau nikah sama siapa?" Goda Ibu.


"Bu, gak usah dicari-cari yang jauh. Yang di depan mata aja." Ayah tambah menggoda Shasa.


Shabila yang ada di dekat sana, melirik ke arah Leo. Dia memandangi Leo dengan seksama.


"Yang itu, Yah?" Shabila berbisik ke ayahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Leo.


Shasa memukul pelan bahu adiknya. Shabila sampai kaget dan mengaduh.


Entah kenapa, perjumpaan pertama Leo dengan kedua orang tua Shasa terasa begitu mulus. Ayah dan Ibu melihat Leo sebagai lelaki baik dan peduli pada Shasa. Kalau dia tidak peduli, tidak mungkin kan akan repot-repot mengantarnya kesini. Ayah pun merasa Shasa tidak terganggu dengan kehadiran Leo. Ayah mengenal putrinya ini sebagai orang yang cukup punya gengsi. Dia tidak mau dibantu orang lain, selama dia bisa, dalam segi apapun. Membiarkan Leo mengantarnya kesini, pasti bukan tidak ada apa-apa kan?


Setelah menemani ayah makan malam, semua orang di ruangan itu mengobrol satu sama lain. Shasa tidak menyangka kalau Leo bisa begitu mudah membaur dengan Ibu dan adiknya.


"Kak Leo, satu kantor sama Kak Shasa?" Shabila bertanya.

__ADS_1


"Iya, tapi beda unit." Leo menjawab singkat.


"Bedanya apa, Kak?"


"Em... Kamu gak akan ngerti. Nanti kalo kamu udah cukup umur, aku jelasin." Leo malah meledek Shabila


"Memang harus cukup umur ya untuk bisa tahu pekerjaan seseorang?" Shabila bertanya polos. Maklum, Shabila masih duduk di bangku SMP.


Leo tidak ingin memberitahu siapa dia di perusahaan tempat Shasa bekerja. Dia berpikir, biar Shasa saja yang memberitahu. Lebih tepatnya karena Leo tidak mau menciptakan kecanggungan dengan mereka.


Ibu, Shabila, dan Leo masih asyik mengobrol di sofa. Sedangkan Shasa masih duduk di samping ayahnya. Dia masih merasa menyesal karena tidak pulang ke rumah lebih cepat.


"Sha..." Shasa menoleh menatap ayah karena mendengar panggilannya.


"Lelaki itu" Ayah menunjuk ke arah Leo. "Dia baik. Sepertinya dia sangat peduli denganmu."


'Peduli apanya? Dia selalu menggangguku!' Shasa menyimpan kesalnya dalam hati.


"Sha, ayah percaya. Siapapun yang kamu pilih, dia adalah orang yang terbaik. Ayah cuma mau ingatkan, jangan bohongi hatimu. Jangan sembunyikan apapun di hatimu yang cantik itu."


Malam itu terasa begitu panjang. Shabila sudah mulai mengantuk. Ibu meminta Shasa dan Shabila untuk pulang ke rumah, sedangkan ibu akan menemani ayah di rumah sakit. Sebenarnya Shasa tidak mau pulang, tetapi karena kasihan yang melihat Shabila kelelahan, Shasa pun mengikuti saran ibu.


Shasa, Shabila, dan Leo pulang ke rumah. Shabila sudah langsung naik ke kamarnya karena sudah ngantuk berat. Leo sudah menerima laptop yang dibeli asisten Haris, bahkan saat ini sudah dia gunakan untuk memeriksa dokumennya dari kamar tamu.


Leo sempat turun ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, dia melihat pintu depan masih terbuka. Saat dia ingin menutupnya, ternyata ada Shasa yang sedang duduk termenung di bangku teras.


"Kau belum tidur?"


Shasa menoleh ke arah datangnya Leo. "Tuan, anda belum tidur?"


Leo tidak menjawab dan malah duduk di samping Shasa.


"Besok kembalilah, Tuan. Anda pernah bilang kan satu langkah kaki anda itu bisa menghasilkan milyaran uang. Jangan kau sia-siakan hanya untuk melangkah kesini." Shasa meledek.


"Aku yang menentukan kemana aku pergi." Leo hanya menanggapinya datar. "Kenapa duduk malam-malam disini?" Leo meminum air di cangkirnya.

__ADS_1


"Aku sedang menikmati angin malam." Shasa menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang tergantung di kursi. "Tuan, apa anda pernah menyembunyikan perasaan anda yang sebenarnya di depan orang-orang? Em... Maksudku, tidak sedih saat sedang sedih atau tidak marah saat anda marah." Tanya Shasa penasaran.


Leo mendongakkan kepalanya ke langit-langit, seperti sedang berpikir. "Em... Aku rasa aku hanya menjalani apa yang ada di depanku. Entah aku suka atau tidak, tidak akan mengubah apa-apa. Aku seperti tidak berhak atas perasaan apa-apa. Jadi, aku tidak tahu, apakah aku bersedih, apakah aku marah, apakah aku bahagia? Aku memilih untuk menjalaninya tanpa rasa apapun."


"Oh... Pantas saja anda dingin ke semua orang dan tidak ekspresif." Shasa meledek.


"Lalu, bagaimana anda menyatakan perasaan anda ke wanita yang anda cintai kalau anda begitu tidak ekspresif?" Shasa melanjutkan pembicaraannya.


"Aku tidak mengatakannya, tetapi aku melakukannya." Leo menatap Shasa lekat. Mata mereka saling bertemu.


*****


Pagi itu, Shasa berlari ke rumah sakit. Shabila pun tak kalah menyusul. Ibu mengabarkan kalau kondisi ayah drop lagi. Leo yang sempat sudah pamit kembali, membatalkan niatnya dan mengantar Shasa dan Shabila ke rumah sakit.


Di kamar inap, ayah sedang ditangani dokter dan beberapa perawat. Ibu panik tak karuan dan berusaha membendung air matanya. Leo mendekat ke arah dokter yang menangani ayah dan menawarkan untuk mengirim dokter pribadinya kesini. Leo memerintahkan asisten Haris untuk memanggil dokter Sam. Namun, butuh sekitar 3 jam untuk dokter Sam bisa sampai kesini.


"Sha... Sha..." Ayah memanggil Shasa dan berusaha mengulurkan lengannya yang begitu lemah. Shasa menghampiri ayah sambil menitikkan air mata.


"Iya ayah..."


"Berbahagialah, nak. Ayah selalu bangga karena membesarkanmu."


"Ayah, jangan banyak bicara dulu... Ayah ingin aku melakukan apa?"


Ayah menggelengkan kepala. "Jangan lakukan untuk ayah. Lakukanlah untukmu."


Shasa mulai berderai air mata.


"Impian ayah adalah menikahkanmu. Tapi seperti agak mustahil sekarang." Ayah tersenyum lemah.


"Ayah..." Shasa tak mau berhentikan air matanya.


"Om, jika om mengijinkanku, restuilah aku menikahi Shafira." Leo mengatakan kalimat yang mencengangkan semua orang di ruangan itu. Terutama Shasa, yang spontan menolehkan pandangannya ke Leo setelah mendengar kata-kata darinya itu.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2