
Akhir pekan telah tiba. Niko mengetikkan sebuah pesan di ponselnya. Setelah beberapa kalimat ditulis, Niko menghapusnya kembali. Dia mencari kontak seseorang di ponselnya.
"Halo." Terdengar suara dari seberang sana.
"Lita, ini aku."
"Iya, Niko. Ada apa?"
"Ada titipan dari Nyonya Shasa. Katanya kau akan memberikan hadiah ini pada penerimanya nanti siang."
"Ah, iya. Itu hadiah untuk teman Nyonya yang menikah hari ini. Nanti setelah sarapan aku akan mengambilnya."
"Tidak perlu. Hadiah ini akan diantar ke tempatmu."
"Baiklah. Terima kasih."
Pembicaraan singkat yang dingin. Mantan pasangan suami-istri ini belum dapat berbicara dengan santai pasca perceraiannya sepuluh tahun lalu. Kedua orang ini sebenarnya memiliki kepribadian yang sama, sama-sama keras dan kaku. Mereka sangat patuh dan memiliki loyalitas yang sangat tinggi pada pekerjaannya.
Niko adalah orang yang sangat cerdas dalam mengatur segala hal. Dia begitu cekatan dalam melakukan pekerjaannya dan tidak akan membiarkan satu titik pun menodai pekerjaannya. Berpuluh-puluh tahun bekerja sebagai orang kepercayaan Komisaris Gusta, membuat Niko memiliki koneksi yang sangat luas. Dia juga pandai bernegosiasi dan tak pernah kehabisan senjata untuk menghentikan orang-orang yang menentangnya. Niko mengetahui banyak hal tentang Keluarga Gusta. Tanpa sebuah perintah pun, Niko sudah tahu apa yang harus dia lakukan dalam berbagai situasi.
Sama halnya dengan Lita. Wanita yang pernah menjadi asisten ibu dari Komisaris Gusta ini, sejak awal memang memiliki pribadi yang kuat. Itulah yang membuat Nyonya Gusta sebelumnya sangat menyukai Lita. Saat itu, Lita masih muda sekali dan bekerja sebagai salah satu staf sekretaris XY Group. Kepintaran Lita dalam menanggapi situasi apapun di hadapannya, membuat Nyonya Gusta sebelumnya sangat tertarik padanya. Setelah diangkat sebagai asisten ibu dari Komisaris Gusta, Lita mengenal Niko pertama kali saat Niko mengajarkannya berbagai hal mengenai tugas seorang asisten anggota Keluarga Gusta. Acap kali, mereka memiliki gaya yang berbeda. Namun, Komisaris Gusta melihat sisi kepintaran Lita yang tak kalah unggul dari Niko.
Lama kelamaan, timbul perasaan lain antara Niko dan Lita. Setahun sebelum Nyonya Gusta sebelumnya wafat, mereka memutuskan untuk menikah. Setahun setelahnya, Komisaris Gusta menempatkan Lita sebagai kepala sekretaris XY Group. Hubungan mereka berjalan dengan datar, sama seperti sifat keduanya dan mereka tidak memiliki anak. Karena suatu masalah di masa lalu, mereka memutuskan bercerai dan memilih hidup masing-masing.
*****
Lita turun ke lobby apartemennya sudah dengan pakaian rapi dan formal, mungkin akan sulit ditebak kalau Lita akan pergi ke sebuah pesta pernikahan. Dia melihat sebuah mobil yang dikenalinya terparkir di lobby.
"Niko? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau yang mengantar titipan Nyonya?" Tanya Lita curiga
"Nyonya memintaku untuk mengantarnya langsung padamu." Niko menatap penampilan Lita. "Apa kau akan pergi ke pesta dengan pakaian seperti itu? Kau malah terlihat seperi agen rahasia."
"Aku hanya akan mengantar hadiah Nyonya. Tidak perlu berlama-lama di pesta itu."
"Kau tidak membaca pesan dari Nyonya pagi ini?"
Alis Lita berkerut. Dia langsung mengambil ponsel di tasnya. Wajahnya langsung terlihat seperti ingin menerkam orang.
"Tidak! Aku akan pergi sendiri." Tegas Lita.
__ADS_1
"Kau pikir aku mau menemanimu datang ke pesta itu? Kalau kau tidak ingin Presdir Leo langsung berlari pulang karena istrinya, ikuti saja yang dia mau. Semakin cepat selesai, semakin baik."
Lita memicingkan matanya pada Niko. Dia mendengus kesal, tapi sama-sama tidak punya pilihan.
"Masuk." Niko mengisyaratkan Lita untuk masuk ke mobilnya.
Lita melangkah kesal masuk ke dalam mobil Niko. Niko mendesah pelan dan beranjak masuk ke dalam mobil juga. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya saling diam. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka mulut duluan.
Mereka telah sampai di gedung pesta pernikahan Gia dan Dion. Tanpa bicara apa-apa, Lita keluar dari mobil dan membuka pintu belakang, mengambil hadiah dari Shasa. Niko menyusul Lita keluar dari mobil.
"Kau tunggu sini saja. Aku yang akan mengantarnya ke dalam." Kata Lita.
"Tapi, Nyonya memintaku untuk mengambil foto pengantinnya." Sahut Niko.
"Aku yang akan ambilkan fotonya untukmu."
"Bukan begitu, Lita. Nyonya memintaku memgambil foto kedua pengantin, aku dan juga kau."
Lita langsung menyeringai mendengar keinginan Shasa. "Lalu, kau akan menurutinya?"
"Daripada Komisaris Gusta memintaku kembali lagi ke sini dan mengambil foto dengan kedua pengantin itu, lebih baik aku turuti saja."
Mau tidak mau, Lita membiarkan Niko mengikutinya ke dalam pesta. Cukup banyak pegawai XY Group yang datang. Kedatangan Lita dan Niko membentuk pusat perhatian tersendiri. Orang-orang sangat heran bagaimana bisa kepala sekretaris XY Group dan orang kepercayaan Komisaris Gusta bisa hadir di acara seperti ini.
Lita mengatakan pada Gia bahwa Shasa menitipkan hadiah untuknya. Lita juga mengatakan kalau Shasa tidak dapat hadir karena alasan tertentu. Gia terlihat bisa menebak alasan Shasa tidak menghadiri pesta pernikahannya. Mimik muka Gia dapat mudah dibaca oleh Lita.
"Kau tidak perlu khawatir. Nyonya Shasa sangat senang mendengar berita pernikahan kalian. Dia mendoakan kebahagiaan kalian berdua." Ucap Lita saat bersalaman dengan Gia di pelaminan.
"Ibu Lita, tolong sampaikan terima kasihku padanya. Walaupun Shasa tidak datang, tapi kehadiranmu sudah aku anggap mewakili dirinya. Terima kasih, Ibu Lita."
Dion cukup mengenali Niko. Orang terdekat Komisaris Gusta sejak masih menduduki bangku presdir. Dion terlihat sungkan berhadapan dengan Niko, orang terdingin sejagat XY Group. Dengan datar, Niko memberikan jabatan tangannya pada Dion. Dion mengucapkan terima kasih pada Niko, padahal Niko pun tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Setelah menemui kedua pengantin, Lita dan Niko tak berlama-lama untuk meminta foto bersama. Niko memberikan ponselnya pada fotografer di acara itu, membuat Gia dan Dion terheran-heran. Setelah itu, keduanya langsung meninggalkan pesta tanpa pamit dengan kedua pengantin.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan Nyonya Shasa. Apa dia hanya mengerjai kita saja?" Lita menggerutu kesal karena merasa telah dijahili Shasa.
Niko menoleh ke arah Lita yang duduk di kursi samping kemudi, lalu mengembalikan pandangannya lagi pada jalanan di depannya. "Hati-hati dengan ucapanmu, Lita. Dia itu anggota Keluarga Gusta. Salah satu orang yang harus kau hormati."
"Iya, iya, aku tahu. Tapi coba kau pikir. Menurutmu, apa tujuan Nyonya Shasa repot-repot mengirim kita pergi?" Tanya Lita dengan nada mencecar.
__ADS_1
"Kau tanyakan saja sendiri. Aku menurutinya karena itu merupakan bagian tugasku. Lagipula, kenapa kau masih kesal sekali? Kau sudah menyelesaikan apa yang dia inginkan. Memang menurutmu dia punya tujuan apa dengan mengirim kita ke pesta itu?"
Lita malas menjawab Niko. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan berharap hari ini segera usai.
*****
Shasa sedang menyibukkan dirinya merangkai bunga di taman belakang. Dia ditemani seorang tukang kebun yang membantunya membawa beberapa jenis bunga ke taman belakang. Shasa sedang senyum-senyum sendiri membayangkan Lita dan Niko yang pergi ke pesta pernikahan hari ini. Shasa hanya ingin Lita dan Niko mempunyai hubungan yang baik ke depannya.
"Sayang." Tiba-tiba saja Leo sudah berdiri tidak jauh darinya sambil tersenyum menatap Shasa.
"Sayang!" Shasa yang terkejut langsung melompat lari menghampiri Leo. Dia memeluk Leo dengan begitu erat, melepaskan semua kerinduannya selama beberapa hari kemarin.
"Kenapa kau tidak bilang padaku akan pulang hari ini?" Shasa masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Jangan bertanya apapun padaku hari ini. Aku hanya ingin memandangimu sampai aku puas."
Shasa melepaskan pelukannya. "Kau pasti lelah. Ayo kita minum teh dulu."
Shasa menyuruh pelayan menyiapkan teh untuk mereka. Keduanya duduk di bangku taman belakang sambil saling memandangi tak henti. Pelayan membawakan teh untuk mereka, kemudian meninggalkan keduanya di taman belakang.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Shasa.
"Sudah, berkatmu."
"Aku? Hahahaha... Aku tidak melakukan apapun untuk membantu pekerjaanmu."
"Setiap aku mendengar suaramu, aku jadi ingin cepat pulang. Itulah kenapa pekerjaanku selesai dengan cepat."
"Hahahaha... Kau ini." Shasa mulai menyesap teh di cangkirnya.
Tiba-tiba saja, Shasa seperti ingin mengeluarkan lagi teh yang sudah masuk ke mulutnya. Dia menutup mulut dengan tangannya dan segera meletakkan cangkirnya kembali dengan sedikit dibanting. Leo terlihat bingung dan panik. Shasa langsung berdiri dan berlari ke kamarnya. Leo membelalakkan matanya melihat Shasa yang tiba-tiba saja pucat.
"Pelayan!" Teriak Leo menggelegar. Pelayan yang membawakan teh tadi dengan gugup menghampiri Leo. "Teh apa yang kau berikan pada istriku, hah?"
Pak Yo terlihat menghampiri Leo karena mendengar teriakannya tadi.
"Periksa teh ini! Laporkan hasilnya padaku. Dan juga, hubungi Sam sekarang!" Leo langsung berlari menyusul Shasa ke kamarnya. Seketika, rumah Keluarga Gusta dilanda kepanikan.
*****
__ADS_1
bersambung...