
Shasa sudah ada di kamarnya. Dia memegang ponsel yang didekatkan ke telinga menunggu yang di seberang sana merespon.
"Halo, sayang."
"Halo, Leo. Kamu dimana?"
"Kenapa sayang? Kangen ya?" Leo menggoda Shasa.
Shasa mendecak. "Ish... Kau dimana?"
"Aku di kantor. Kenapa sayang?"
"Nanti malam ada acara apa? Kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Ah... Kau sudah bertemu ibu ya? Bukan acara apa-apa. Hanya makan malam bersama saja. Keluargaku dan keluargamu kan belum pernah bertemu."
"Tapi ibu bilangnya acara pertunangan. Bagaimana bisa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Mama bilang mau kasih kejutan untuk kamu. Jadi aku tidak boleh memberitahumu."
"Tapi kan gak gitu juga, sayang." Shasa menahan kesal.
"Makanya aku bilang ini hanya acara makan malam saja. Lagian kita sudah menikah, mana ada acara pertunangan setelah menikah." Leo mencoba menenangkan. "Semuanya sudah dipersiapkan mama. Kau nikmati saja waktumu dengan ibu, Shabila, dan Ibu Putri."
Kekesalan di hati Shasa mulai mereda. Betul kata Leo, lebih baik dia menikmati waktunya dengan mereka yang hanya sampai malam ini saja.
"Kau cepatlah pulang." Suara Shasa terdengar sedih tapi manja.
"Hei, kenapa kau terdengar seperti ingin menangis? Apa aku harus pulang sekarang?"
"Tidak, tidak apa-apa. Selesaikanlah pekerjaanmu hari ini. Aku akan menunggu di rumah."
__ADS_1
Entah kenapa mendengar suara Leo saat itu, membuat Shasa begitu merindukannya.
*****
Malam ini, Nyonya Sofia memang sudah menyiapkan acara pertemuan dengan keluarganya Shasa. Mereka menikmati makan malam bersama. Tidak banyak yang mereka bicarakan di meja makan. Hanya sekedar bertanya tentang keluarga Shasa dan kehidupan sehari-harinya. Komisaris Gusta juga tidak banyak bicara, justru Nyonya Sofia yang sudah seperti moderator pertemuan mereka malam ini.
Selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang tengah. Para pelayan membawakan teh hangat untuk mereka. Nyonya Sofia menerima sebuah kotak dari asistennya. Entah apa isi kotak itu.
"Malam ini saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan keluarganya Shasa. Mungkin rasanya sedikit terlambat kita bertemu setelah anak-anak menikah. Namun, Leo mengingatkan untuk tidak melewati proses ini." Nyonya Sofia membuka pembicaraan di ruangan itu.
"Mohon dimaafkan, karena kami telah melangsungkan pernikahan tanpa kehadiran keluarga dari pihak Leo. Kami sadar ini salah." Ibu menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu berkata seperti itu, Bu. Leo sudah menjelaskannya pada kami." balas Nyonya Sofia dengan lembut. "Yang paling penting buat saya adalah kebahagian anak-anak." Nyonya Sofia melirik Komisaris Gusta yang belum bersuara dari tadi. Komisaris Gusta menyadari tatapan Nyonya Sofia yang memintanya untuk berbicara.
"Kami akan mengadakan pesta pernikahan di akhir bulan ini. Saya akan mengirim beberapa orang yang nanti membantu persiapan keluarga Shafira." Komisaris Gusta akhirnya bersuara juga.
Ibu mengangguk pelan. Dia mengingat kata-kata Niko yang ditemui saat menginjakkan kaki di rumah Keluarga Gusta. Niko berpesan bahwa mungkin saja setelah pertunangan diumumkan nanti, akan banyak beredar berita tentang kehidupan Leo ataupun Shasa. Apalagi setelah pernikahan nanti, akan banyak yang penasaran kehidupan pernikahan keduanya. Yang perlu dilakukan ibu dan keluarga hanyalah untuk tetap diam dan menjaga privasi mereka. Shasa akan menjadi bagian Keluarga Gusta yang tidak bisa sembarangan kehidupannya dibuka ke muka umum. Ibu menyadari bahwa Shasa tidak masuk ke keluarga biasa.
Nyonya Sofia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Shasa. Dia memakaikan kalung cantik itu ke lehernya. Kristalnya begitu cantik menjuntai menghiasi tubuh Shasa. Sebuah senyum haru tergambar dari wajah Shasa. Leo merasa lega melihat bagaimana kedua orang tuanya menerima Shasa.
*****
Shasa sudah ada di depan pintu bersama Leo, mengantar Ibu, Shabila, dan Ibu Putri untuk pulang. Shasa memeluk Ibu dengan erat. Dia merasa ini adalah perpisahan yang cukup berat, berbeda dari biasanya. Ibu juga merasa seperti sedang melepas anak perempuannya yang sudah menikah. Ibu menyudahi pelukannya dari Shasa dan menatap Leo penuh harap.
"Nak Leo, terima kasih ya sudah memperhatikan Shasa. Ibu dan almarhum Ayah percaya kalau kamu pasti akan menjaga Shasa dengan baik."
"Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku pada ayah." Leo memberikan senyum meyakinkan Ibu.
Leo telah menyiapkan mobil dan pesawat untuk mengantar Ibu kembali. Shasa melambaikan tangannya pada Ibu dan Shabila. Dia menahan air matanya, tapi tak berhasil. Leo benar-benar benci melihat Shasa menangis. Tanpa menatap wajahnya, Leo melingkarkan lengannya ke pinggang Shasa, memastikan bahwa dia akan selalu di samping Shasa dan tidak akan pernah meninggalkannya.
"Nyonya Gusta, jangan bersedih." Leo mengelus-elus punggung Shasa yang masih menatap mobil yang membawa Ibu pulang. "Ayo, kita bersenang-senang saja."
__ADS_1
Shasa menghapus air mata dan menoleh ke Leo yang ada di sampingnya. "Memang apa yang ingin kau lakukan?"
"Em... Apa pun yang kau mau, sayang."
"Benar? Apa pun yang aku mau?" Shasa langsung antusias.
"Iya, sayang." Buat Leo apapun yang penting Shasa tidak bersedih lagi.
"Aku mau pergi ke satu tempat, sama kamu, sekarang." Shasa mengerjapkan matanya merayu Leo.
*****
"Ini apa?" Leo masih bingung dan tidak tahu apa nama hidangan yang ada di depan matanya ini.
Shasa tiba-tiba mengajak Leo ke luar rumah malam itu juga. Ternyata Shasa membawanya ke kedai es.
"Ini namanya es serut. Ini es kesukaanku, es serut alpukat." Shasa tersenyum riang.
'Hahaha... Kenapa dia bahagia sekali dengan semangkok es seperti ini?' batin Leo menyeringai. "Aku bisa meminta koki di rumah membuatkan es seperti ini kalau kau mau. Jadi, tidak perlu repot-repot pergi ke luar."
Shasa menggelengkan kepalanya. "Berbeda rasanya kalau makan di rumah. Lebih enak makan disini." Shasa sudah mulai menikmati es di hadapannya.
Leo tersenyum tak percaya. Kemudian dia mengambil ponsel di sakunya. Mengetikkan sebuah pesan ke seseorang dilengkapi dengam foto es di depannya.
Leo: Haris, kau tahu ini apa? Beritahu koki di rumah untuk membuat es seperti ini. Berikan padaku untuk mencicipinya nanti.
Pesan terkirim. Leo mengangkat sendok untuk mencoba es serut alpukat yang dibangga-banggakan Shasa. Dia mencoba mengingat setiap rasa yang masuk ke mulutnya karena berencana akan membandingkan rasa es di kedai ini dengan es buatan koki di rumahnya.
*****
bersambung...
__ADS_1