
Usia kandungan Shasa sudah melewati 3 bulan pertama. Perutnya sudah mulai sedikit membuncit, meskipun belum terlalu ketara. Sejak rayuan mautnya, Shasa sudah diperbolehkan keluar kamar oleh Leo. Dan kini, dia semakin leluasa untuk berjalan ke sana-sini di paviliunnya karena kondisi kehamilannya sangat baik, rasa mualnya jauh berkurang dan nafsu makannya sudah meningkat.
Leo tak pernah melewatkan untuk berbagi waktu antara kerja dan Shasa. Dia selalu pulang tepat waktu dan menghabiskan waktu malamnya dengan Shasa. Semenjak hamil, Leo seperti punya tugas baru untuk membacakan buku sebelum tidur untuk Shasa. Mulai dari buku lelucon sampai buku-buku serius tentang kehidupan. Shasa akan terlelap setelah Leo membacakan buku untuknya.
Rumah Keluarga Gusta semakin sibuk melayani segala sesuatunya untuk Shasa. Padahal, yang dilayani ingin melakukan beberapa hal sendiri dan cenderung tidak menyadari perubahan tugas pelayan-pelayan di rumahnya itu. Komisaris Gusta tak henti memantau kondisi Shasa di rumah. Tentu saja, Niko yang memastikan semuanya itu berjalan dengan baik.
"Nyonya, anda mau ke mana?" Lita memergoki Shasa yang sudah ingin melangkah keluar dari paviliunnya.
"Ah, Lita. Kau sudah datang?" Shasa cukup terkejut melihat Lita. "Aku ingin menemui mama."
"Ada sesuatu yang anda perlukan, Nyonya?" Tanya Lita. Meskipun Shasa sudah bebas keluar kamar, tetapi Leo masih belum memperbolehkan Shasa keluar sari paviliunnya.
"Aku hanya ingin bertemu mama saja. Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padanya."
"Kalau begitu, aku akan mencoba memanggil Nyonya besar ke sini."
"Hei, itu tidak sopan Lita. Yang muda harus mendatangi yang tua."
"Nyonya besar pasti mengerti, Nyonya. Anda tunggu saja di ruang tengah." Sahut Lita dengan sopan. Dia pun melangkah menuju rumah utama, mencari Nyonya Sofia.
Saat mencari Nyonya Sofia, Lita bertemu Niko di salah satu ruangan di rumah utama. Niko mendekati Lita.
"Kau mencari siapa?" Tanya Niko.
"Aku mencari Nyonya besar. Nyonya Shasa ingin menemuinya."
"Apa dia sedang mengidam lagi?"
Lita tersenyum tipis. "Sepertinya kau berpengalaman sekali." Ledek Lita.
"Jelas. Nyonya selalu merepotkanku untuk hal-hal yang tidak penting. Membaca buku, membelikannya sesuatu yang bahkan tidak ada di kota ini, sampai dia menyuruhku mengenakan pakaian santai dan berkeliling paviliunnya. Memalukan! Semua pelayan menatapku dengan aneh."
Niko memang selalu mengenakan pakaian formal di dalam rumah Keluarga Gusta. Dia mengenakan pakaian santai hanya di kamarnya saja. Mungkin Shasa ingin melihat penampilan yang berbeda dari Niko.
"Nyonya terlihat dendam sekali denganmu. Hahahaha." Ledek Lita.
"Aku rasa Nyonya terlalu bosan berada di rumah. Dia jadi melampiaskan rasa bosannya pada orang-orang di rumah ini."
"Ya, kau benar. Tidak hanya kau saja yang jadi sasarannya, aku juga kerepotan menghadapi Nyonya yang selalu merengek minta ini-itu. Tapi, aku tidak bisa membayangkan ketika nanti Nyonya bisa keluar rumah. Pasti akan semakin merepotkan."
Nyonya Sofia terlihat keluar dari ruangannya. Niko dan Lita menyadari kehadiran Nyonya Sofia. Keduanya membungkuk memberi hormat pada Nyonya Sofia. Nyonya Sofia tersenyum dan berjalan mendekat ke mereka.
"Kalian sedang apa? Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian berdua berbicara seperti tadi." Tanya Nyonya Sofia sambil tersenyum.
"Kami sedang membicarakan pekerjaan, Nyonya." Jawab Niko. Benar kan? Mereka memang membicarakan pekerjaan karena Nyonya Shasa adalah salah satu pekerjaan mereka.
__ADS_1
"Ah, begitu rupanya."
"Nyonya, maaf. Apakah anda sedang sibuk saat ini? Nyonya Shasa ingin bertemu dengan anda." Ucap Lita dengan sopan.
"Dimana dia? Aku akan menemuinya."
Lita membawa Nyonya Sofia ke tempat Shasa. Shasa yang sudah menunggu di ruang tengah paviliunnya, begitu antusias melihat Nyonya Sofia yang datang kepadanya.
"Mama." Sapa Shasa.
"Duduk saja, sayang." Nyonya Sofia menghentikan Shasa yang baru saja ingin bangkit dari sofa. "Kamu ingin mengatakan sesuatu pada mama?" Nyonya Sofia duduk di sebelah Shasa. Lita meninggalkan keduanya untuk mengobrol.
"Ma, apakah orang hamil tidak boleh pergi keluar rumah? Aku bosan sekali, ingin lihat jalanan di luar rumah."
Nyonya Sofia tersenyum. "Tentu saja boleh. Dokter juga sudah mengijinkan, tapi tidak boleh jarak jauh. Kau ingin berjalan-jalan?"
Shasa mengangguk-angguk. "Setidaknya sekitaran sini saja, ma."
"Boleh. Tapi, harus ada yang menemanimu. Karena mama ada janji satu jam lagi, mama akan tanya Gusta untuk menemanimu."
"Wah... Papa pasti sibuk, ma. Aku sama Lita saja."
"Siapa bilang dia sibuk. Buat kamu, seketika kesibukannya selesai." Nyonya Sofia tersenyum lebar. "Kau tunggu di sini. Kalau Gusta sudah siap, nanti Lita akan memberitahumu."
Nyonya Sofia pun meninggalkan Shasa. Dia menuju ke ruangan Komisaris Gusta dengan langkah yang begitu senang. Nyonya Sofia masuk tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Komisaris Gusta sedang duduk di meja kerjanya.
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang membaca, Sofia."
"Gusta, kemarin kau tanya padaku, apakah cucumu akan menyukaimu. Aku rasa dia menyukaimu."
Sontak Komisaris Gusta mengalihkan pandangannya ke Nyonya Sofia. "Benarkah?"
"Shasa ingin jalan-jalan ke luar bersamamu. Itu pasti keinginan bayinya. Kau mau kan?" Tanya Nyonya Sofia dengan antusias.
"Tentu saja. Aku akan minta Niko menyiapkannya." Komisaris Gusta tampak begitu bahagia karena ini pertama kalinya Shasa mengidam dan melibatkan dirinya.
*****
Secepat kilat, Niko menyiapkan segala sesuatunya untuk Komisaris Gusta dan Shasa berjalan-jalan. Lita juga menyiapkan banyak keperluan Shasa untuk berjaga-jaga, khawatir Shasa akan mual-mual di tengah jalan-jalannya. Shasa bersiap dengan pakaiannya. Dia begitu antusias di kali pertama ke luar rumah setelah berbulan-bulan.
Shasa berjalan menuju rumah utama dan melihat Komisaris Gusta sudah menunggunya.
"Hai, Pa." Sapa Shasa.
"Kau sudah siap?" Tanya Komisaris Gusta dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Sudah. Tapi, apa tidak apa-apa aku berjalan-jalan dengan papa? Aku takut mengganggu papa."
"Hahahaha... Justru kau memilih tiket ke mana saja dengan tepat. Hanya aku yang bisa membawamu ke luar rumah."
Shasa ikut tertawa senang. Ini kedua kalinya Shasa pergi dengan Komisaris Gusta. Tentu saja, pergi dengan Komisaris Gusta memang menjadi tiket ke mana saja yang bebas membawa Shasa ke mana pun dia mau.
Shasa tidak peduli dengan banyaknya mobil pengawal yang mengikuti mereka, asalkan dia bisa ke luar rumah. Shasa berada satu mobil dengan Komisaris Gusta, Niko, dan Lita. Sungguh jalan-jalan yang luar biasa.
Mata Shasa berbinar-binar melihat situasi di luar rumah yang sudah cukup lama tidak dilihatnya. Padahal hanya melihat keramaian di jalanan, tapi Shasa senang sekali. Mereka berkeliling di sekitar kota itu.
"Tunggu, Niko. Kau lihat pengamen yang memainkan biola itu? Ayo, kita ke sana." Tunjuk Shasa ke sebuah tempat di depannya.
Komisaris Gusta terlihat bingung, tetapi dia menganggukkan kepala pada Niko, tanda dia mengijinkannya.
Shasa menikmati pertunjukkan biola dari pengamen itu di pinggir jalan yang cukup aman untuk berhenti. Shasa menyaksikan bersama Komisaris Gusta dari dalam mobil. Shasa menepuk-nepuk tangannya beberapa kali. Setelah memainkan beberapa lagu, Shasa memberikan beberapa lembar uang padanya. Pengamen itu terlihat berterima kasih dengan Shasa karena memberinya uang begitu banyak. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
"Shafira, kalau kau ingin menonton pertunjukkan musik semacam itu, aku bisa membuat konser kecil di rumah. Aku akan memanggil pemusik-pemusik yang andal."
"Ah, tidak perlu, Pa. Sudah cukup aku mendengarnya dari pengamen tadi." Jawab Shasa tersenyum.
Di sebuah pinggir jalan dengan beberapa kedai makanan, Shasa memerhatikan satu per satu kedai itu. Shasa meminta Niko untuk memperlambat laju mobilnya.
"Sepertinya sate itu enak." Kata Shasa sambil memandangi kedai sate dengan asap yang menyebar ke mana-mana.
"Kau mau?" Tanya Komisaris Gusta.
Shasa mengangguk-angguk di hadapan Komisaris Gusta, seperti anak kecil memohon pada ayahnya.
"Berhenti, Niko." Perintah Komisaris Gusta. Niko berhenti. Lita terlihat sudah mengambil langkah keluar mobil.
"Lita, tunggu. Aku juga ikut." Kata Shasa.
"Kau tunggu sini saja, Shafira." Komisaris Gusta menahannya. Tanpa sadar Shasa cemberut di depan Komisaris Gusta. Melihat wajah Shasa seperti itu, Komisaris Gusta menarik napas dalam. "Baiklah. Aku saja yang memesan, bagaimana? Kau lihat asapnya banyak sekali. Kau bisa sesak nanti."
Shasa mengangguk-angguk kesenangan. Komisaris Gusta pun keluar dari mobil. Dia masuk ke kedai sate bersama Lita. Niko hanya menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Mana pernah Komisaris Gusta memesan makanan. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya saja tidak pernah.
Tak berapa lama, Komisaris Gusta masuk lagi ke dalam mobil membawa sebungkus sate yang dibelinya. Shasa begitu lahap memakan sate di dalam mobil ditemani Komisaris Gusta yang hanya tersenyum melihatnya.
Mereka melanjutkan jalan-jalan ke sebuah taman yang banyak anak kecil bermain. Sudah tiga taman didatangi, tapi tidak ada anak kecil bermain. Akhirnya, Niko menemukan taman yang diinginkan Shasa. Meskipun hanya melihat dari dalam mobil, Shasa mendapat hiburan yang membuatnya senang.
Di balik kesenangan mereka, ada Leo yang panik karena tidak menemukan istrinya di rumah. Entah kenapa, Leo memutuskan pulang cepat hari ini. Asisten Haris mau tak mau menanggapi kekesalan Leo di rumah.
"Tuan, Nyonya sedang berjalan-jalan dengan Komisaris Gusta." Asisten Haris mencari tahu dari Lita dimana Shasa berada.
"Dia berjalan-jalan dengan papa?" Wajah Leo masih nampak kesal.
__ADS_1
*****
bersambung...