Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Keinginan Shasa


__ADS_3

Leo terbangun dari tidurnya. Dia meraba-raba kasur sampingnya. Alis Leo berkerut. Dia tidak merasakan ada Shasa di sisinya.


'Shasa kemana?' Leo bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Leo duduk di kasur, lalu menyalakan lampu kamarnya. Dia tidak melihat Shasa di kamar. Seketika, Leo panik.


"Sayang! Sayang!" Leo langsung beranjak mencari Shasa. Dia membuka kamar mandi, melihat ke ruang ganti pakaian, juga melihat balkon kamarnya.


"Tengah malam begini, tidak mungkin Shasa pergi keluar. Sayang! Kau dimana?" Leo makin cemas. Tak ada tanda-tanda Shasa di kamar. Leo mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


Lama berdering, teleponnya tidak diangkat. "Hah! Kemana lagi Niko?" Leo membanting ponselnya ke meja di samping kasur. Dia mengambil jubah tidurnya dan melangkah ke pintu kamar.


"Kejutaaaaaaaannnnnn!"


Tepat selangkah setelah Leo keluar dari pintu kamarnya, lampu ruang tengah yang semula gelap gulita, langsung terang benderang dan tampak begitu meriah dengan hiasan di sana-sini. Semua orang berkumpul di ruang tengah.


"Selamat ulang tahun!!!" Bersama-sama mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Leo. Semua orang bertepuk tangan menyambut Leo yang masih tercengang di depan pintu kamarnya.


Leo tersenyum pada orang-orang di hadapannya. Dia begitu lega melihat Shasa berada di antara orang-orang di ruangan itu. Leo menatap Shasa penuh arti. Shasa pun maju mendekati Leo sambil membawa sebuah kue dengan lilin yang tertancap di atasnya.


"Selamat ulang tahun, sayang!" Ucap Shasa dengan senyum manis di wajahnya.


"Kau yang mengumpulkan semua orang tengah malam begini?" Leo tersenyum tipis.


"Ayo, tiup lilinnya."


Leo pun meniup lilin dari kue yang dibawa Shasa. Leo mencium kening, pipi dan bibir Shasa, membuat Shasa tersipu malu di hadapan orang-orang di ruangan itu. Satu per satu dari mereka menyalami Leo.


"Leo, selamat ulang tahun ya." Ucap Nyonya Sofia. "Ini pertama kalinya kita merayakan ulang tahunmu bersama setelah sekian lama."


"Terima kasih, Ma."


Semenjak Leo tinggal di luar negeri bersama Nyonya Sofia, setiap hari ulang tahunnya hanya dirayakan berdua. Namun, ulang tahunnya kali ini, Leo bahkan merayakannya bersama istri dan orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Karena terlanjur bangun di tengah-tengah malam begini, mereka melanjutkan perayaan ulang tahun Leo dengan makan kue bersama. Para pelayan menyediakan teh sebagai teman makan kue mereka.


"Haris, apa kau juga merencanakan acara ini dan merahasiakannya dariku?" Leo bertanya curiga sambil memicingkan matanya.


"Hahaha... Maaf, Tuan. Nyonya Shasa mengancamku jika aku membocorkannya." Jawab asisten Haris dengan sedikit berbisik.


Shasa tertawa kecil melihatnya. Leo menatap Shasa yang puas sekali karena rencananya berjalan mulus hari ini.


"Dari mana kau tahu kalau hari ini ulang tahunku?" Tanya Leo penasaran.


"Aku bisa tahu dari mana saja, sayang. Aku punya banyak pengumpul informasi di rumah ini." Jawab Shasa dengan percaya diri. "Pertanyaanku sekarang, apa kau tahu kapan aku ulang tahun?"


"Kau mengujiku? Aku bahkan tahu ukuran sepatumu, jauh sebelum kau mendekatiku."


"Hah? Sejak kapan aku mendekatimu?" Tanya Shasa dengan nada menghina.


Asisten Haris menahan tawa mendengar percakapan sepasang suami-istri yang mendebatkan sesuatu yang membuat asisten Haris mual mendengarnya. Jomblo memang selalu di belakang, hahahahaha.


Niko dan Lita juga ada di ruangan itu. Namun, keduanya tidak banyak bicara. Kalau Niko, memang seperti itu karakternya. Kalau Lita, lebih karena dia merasa tak banyak hal yang perlu dikatakannya.


"Sayang, buat apa kau mengadakan acara seperti itu?" Leo bingung.


"Aku sudah lama sekali ingin mengadakan pesta di rumah ini. Kalian harus mulai belajar menghadapi keramaian sebelum tangis bayiku nanti memenuhi seisi rumah ini. Karena pas sekali momennya dengan ulang tahun Leo, jadi aku akan adakan pestanya sekalian saja."


"Berarti, harus pakai piyama ya?" Tanya Nyonya Sofia memastikan.


"Betul sekali, Ma. Semuanya harus memakai piyama. Begitu juga dengan pelayan-pelayan di rumah ini."


Komisaris Gusta terlihat menyembunyikan tawanya. Dia tak sanggup membayangkan semua orang memakai piyama demi acara gila yang dibuat Shasa.


"Papa juga harus mengenakan piyama ya." Shasa menyadari kalau Komisaris Gusta merasa bisa menyelamatkan dirinya dari pesta piyama besok malam. Tapi buat Shasa, tidak ada pengecualian untuk siapa pun.


"Aku? Aku hanya akan menjadi penonton saja." Benar dugaan Shasa. Komisaris Gusta pasti akan mencari-cari alasan untuk melarikan diri.

__ADS_1


"Papa, piyama itu berlaku untuk semua orang di rumah ini. Aku juga akan meminta penjaga di depan rumah untuk mengenakan piyama juga." Balas Shasa dengan tenang.


"Hahahahahaha... Benar-benar. Anakmu nanti akan membawa suasana ramai di rumah ini." Tawa girang Nyonya Sofia terdengar sangat puas dengan ide Shasa.


"Selain itu, masing-masing dari kalian juga harus menyiapkan satu buah penampilan. Apapun yang kalian bisa. Menari, menyanyi, baca puisi, drama, apapun itu, buatlah se-kreatif kalian. Tidak usah khawatir, aku akan menyiapkan hadiah untuk penampilan terbaik dari kalian."


"Sayang..." Leo sudah ingin menyela, tapi dihentikan Shasa.


"Ssttt. Sayang, jangan hancurkan suasana hatiku. Sekali ini saja." Shasa memohon dengan manja, membuat Leo hanya bisa terdiam pasrah.


"Nyonya, kau tidak bisa memaksakan bakat apapun pada orang lain." Sahut Niko.


"Apa menurutmu kau tidak punya bakat, Niko? Ah, kalau begitu kau boleh berkolaborasi dengan Lita. Aku yakin, Lita akan membantu mencari bakat terpendammu."


Asisten Haris menahan tawanya. Dia tak tahan melihat wajah kedua orang yang disindir Shasa.


Shasa mengedarkan matanya ke orang-orang di ruangan itu. "Apakah di sini ada yang tidak setuju dengan ideku?" Shasa menyipitkan matanya, melihat mereka satu per satu.


Nyonya Sofia hanya senyum-senyum sendiri melihat ekspresi wajah orang-orang itu. Leo hanya menggeleng-geleng, tapi tak berani menolaknya. Komisaris Gusta terlihat masih bingung. Niko dan Lita kompak dengan wajah datarnya. Dan asisten Haris yang masih menutup mulut dengan sebelah tangannya, menahan tawa atas permintaan wanita hamil penguasa rumah ini.


"Sayang, apa kau benar ingin mengadakan pesta itu?" Leo bertanya dengan wajah harap-harap cemas.


Shasa mengangguk-angguk dengan mantap.


Leo mendesah pelan. "Baiklah. Tidak ada satupun yang akan menolaknya. Lakukanlah."


Sorakan kemenangan bergemuruh di dalam hati Shasa. Senyum menawan terpancar dari wajah Shasa, membuat perasaan orang-orang di ruangan itu campur aduk tak karuan.


"Sampai jumpa besok malam, semua!"


Simsalabim. Kutukan pesta piyama mulai menggerayangi semua orang di rumah Keluarga Gusta malam itu.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2