
Setelah berbincang kecil, Leo dan Shasa masih duduk santai di bangku taman. Lalu, tiba-tiba Leo bangkit.
"Kau, teruskanlah bermimpi. Lupakan lelaki yang kau tangisi waktu itu." Leo seperti meledek.
Shasa menatap sinis. "Baiklah Tuan. Selamat malam semoga tidur anda nyenyak." Shasa berkata sambil membungkukan badannya.
Leo berjalan meninggalkan Shasa. Setelah beberapa langkah, dia berbalik lagi.
"Hei, kau! Berapa lama kau sudah tinggal disini?" Leo bertanya ke Shasa.
"Ya? 4 tahun Tuan" jawab Shasa sambil bingung karena tiba-tiba ditanya seperti itu.
"Bagus, kau bisa menjadi tour guide-ku" Leo menanggapi.
"Apa? Saya bukan tour guide, Tuan." Jawab Shasa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau bisa membayar utangmu dengan menjadi tour guide-ku"
"Utang? Saya tidak memiliki utang, Tuan." Shasa masih kebingungan.
"ID card dan hp-mu. Aku yang menemukan keduanya. Bayarlah itu dengan menjadi tour guide-ku" tutup Leo kemudian melanjutkan berjalan meninggalkan Shasa.
"Tuan! Tuan!" Shasa memanggil-manggil, tetapi Leo hanya meneruskan berjalan dan berpura-pura tidak mendengar.
"Ish, presdir macam apa itu! Dia kan bisa mengeluarkan uang untuk menyewa tour guide. Kenapa banyak lelaki gila belakangan ini?!" Shasa kesal sambil menendang-nendang udara dengan kakinya.
__ADS_1
******
Leo kembali ke apartemennya setelah jalan-jalan malam. Dia mencoba mengikuti saran asisten Haris untuk pergi ke taman menghilangkan rasa bosan.
Leo juga masih mengingat pertemuannya dengan Shasa tadi. Pertemuan tak sengaja itu bermula saat Leo memasuki taman di dekat apartemennya. Saat itu, Leo hampir balik lagi karena ternyata ramai orang disana. Namun dia melihat wanita ID card alias Shasa sedang asyik makan es krim.
Leo tersenyum sambil duduk bersandar di kasurnya, memegang sebuah buku.
'Baru kali ini aku bertemu wanita seperti dia. Tingkahnya seperti kanak-kanak, tapi dewasa pemikirannya. Tak memiliki rasa takut dan tersenyum setiap waktu. Padahal, dia rapuh dan banyak menyimpan luka.'
Leo tersadar dari lamunannya. Dia menutup buku yang dipegangnya dan bergegas mematikan lampu kamar. Tak lama, Leo mulai menarik selimutnya dan terlelap.
*****
Hari ini adalah akhir pekan. Shasa masih bermalas-malasan di kasurnya. Jadwalnya hari ini hanya satu. Berkunjung ke tempat favoritnya.
Rumah Baca Teladan.
Ini adalah tempat favorit Shasa. Sekali dalam 2 minggu, Shasa menyempatkan waktunya berkunjung. Bukan tempat mewah, tetapi hanya ruangan sederhana berukuran 3x10 meter. Tembok ruangan itu dikelilingi rak buku. Beberapa meja tersusun rapi, begitu juga dengan kursi-kursinya. Rumah baca ini menjadi tempat belajar anak jalanan di sekitar sana.
Di tempat ini lah, Shasa berbagi ilmu dan kebahagiaan. Shasa telah bergabung 4 tahun lalu menjadi relawan di rumah baca. Disini, Shasa bisa merasakan harapan besar masa depan anak-anak yang mungkin kurang beruntung. Melalui anak-anak ini, Shasa tak henti bersyukur karena dia sedikit lebih beruntung daripada anak jalanan dididik di rumah baca.
"Hai anak-anak!" Shasa menyapa dengan lantang.
"Kak Shasaaaaa" Anak-anak menghampiri dan mengerubunginya.
__ADS_1
Shasa membagikan alat tulis dan buku yang dibawanya kepada anak-anak rumah baca. Mereka begitu bahagia menerima hadiah dari Shasa. Dari sudut ruangan, Ibu Putri tersenyum bangga melihat kedekatan Shasa dengan anak-anak. Dia sadar kalau Shasa telah tumbuh menjadi wanita kuat dan hebat.
"Ibu Putri, apa kabar?" Shasa memeluk Ibu Putri.
"Kabar baik. Kok kamu sendirian? Dion gak ikut?" Tanya Ibu Putri sambil menatap Shasa.
Shasa tak bisa menjawab dan hanya tersenyum kecil.
Semenjak berpacaran dengan Dion, Shasa tak pernah sendirian berkunjung ke rumah baca. Meskipun Dion hanya mengantar, menyapa Ibu Putri sebentar, dan menjemput Shasa setelah selesai, Ibu Putri cukup mengenal Dion.
"Anak-anak, kalian lanjutkan baca bukunya ya. Catat apapun yang kalian pelajari dari buku-buku itu." Perintah Ibu Putri kepada anak-anak. "Sha, yuk, duduk dulu." Ibu Putri mengajak Shasa ke kursi di sudut ruangan.
"Kamu sehat kan, Sha?" Tanya Ibu Putri ke Shasa.
"Sehat, Bu." Jawab Shasa dengan senyum.
"Kemarin baru saja Ibumu telpon. Biasa, menanyakan kiriman bungu sudah sampai atau belum. Eh, hari ini putri cantiknya datang" Ibu Putri mencolek dagu Shasa.
"Iya, Bu. Tadi pagi waktu ngabarin ibu dan ayah kalau aku mau kesini, ibu cerita habis ngirim buku." Jelas Shasa.
"Kamu sudah besar ya, Sha. Cantik, baik, pintar. Ayah dan ibumu pasti beruntung membesarkan anak sehebat kamu." Kata Ibu Putri Bangga sambil mengelus pipi Shasa.
"Itu semua karena Ibu Putri juga. Ibu Putri lah yang telah mempertemukan aku dengan ayah dan ibu yang baik. Makanya, aku tumbuh sebaik mereka." Shasa menatap Ibu Putri dengan senyumannya.
*****
__ADS_1
bersambung...