
Shasa akhirnya merasakan naik bus tingkat. Dia terlihat senang sekali mendapat pengalaman baru menaiki transportasi umum di negara lain. Penumpang bus tingkat ini, tampak tidak terlalu ramai sehingga Leo dan Shasa masih dapat duduk di bagian atas bus. Keduanya sempat berganti bus ke rute lain dan kini mereka sudah sampai di sebuah gedung besar berwarna putih.
"Ini tempat apa, sayang?" Tanya Shasa.
"Ini tempat favoritku. Tempat yang mengubah suasana hatiku menjadi lebih baik. Ayo, sayang." Leo menggandeng tangan Shasa dan mengajaknya masuk ke dalam gedung. Di dalamnya semua bernuansa coklat dan minimalis. Tempatnya begitu sunyi dan damai.
"Wah..." Shasa terperangah melihat rak buku yang tinggi menjulang hingga ke atap gedung ini. Semua buku tertata rapi dan sangat cantik di pandang. Terdapat sebuah tangga melingkar di sekeliling gedung itu. "Ini perpustakaan?" Shasa mendongak melihat deretan buku-buku yang tinggi itu. "Ah... Aku tahu, inilah kenapa kau membuat ruang baca pribadi di kamarmu dengan atap kaca. Persis sekali seperti tempat ini."
Leo tersenyum. "Iya... Setiap suasana hatiku sedang tidak baik, aku akan pergi ke sini. Tempatnya sepi, jauh dari kebisingan. Pengunjungnya sibuk masing-masing. Tentu saja, aku nyaman sekali di sini. Sekalipun aku sedang sedih, tidak akan ada yang peduli dan bertanya padaku."
Seperti itulah Leo tumbuh besar. Di saat dia merasa tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya, dia akan melarikan diri ke sini. Tidak ada seorang pun yang peduli padamu entah kau sedang marah, kecewa atau apapun. Leo belajar untuk sembuh sendiri. Mungkin itu juga yang jadi penyebab kenapa Leo menutup dirinya dari orang lain dan memilih bersembunyi sendirian.
*****
Leo dan Shasa beristirahat sambil menikmati makan siang. Mereka makan di sebuah restoran mie kesukaan Leo yang hanya berjarak beberapa meter saja dari perpustakaan. Keduanya memesan mie sesuai selera masing-masing. Saat menunggu makanan yang dipesan, tiba-tiba seseorang menghampiri meja Leo dan Shasa.
"Leo?" Sapa wanita itu.
"Chlory?" Leo cukup kaget melihat wanita itu.
"Kau kemana saja? Lama sekali tidak melihatmu." Sambung wanita itu dengan senyum di wajahnya. Dia terlihat cantik dengan rambut ikal berwarna coklat. Penampilannya tampak khas seperti tampilan wanita negara itu.
"Aku pindah ke suatu tempat." Mendengar Leo menyahuti obrolan wanita itu, Shasa menatap tajam ke arah Leo. "Ah, kenalkan ini istriku, Shasa."
"Istri? Kau menikah? Hei, aku pikir kau akan menikah dengan..." Wanita itu melirik Shasa yang sudah menatap lekat ke arahnya. "Ah... Kenalkan, aku teman sekolah Leo, Chlory."
Shasa dan Chlory berjabat tangan. Shasa berusaha tersenyum, namun hatinya penasaran dengan kata-kata Chlory tadi. Dia menerka-nerka apakah Leo sudah punya rencana menikah dengan seseorang sebelum menikah dengannya.
"Apa kau masih suka sekali makan di restoran ini? Ish... Seleramu tidak pernah berubah." Ledek Chlory pada Leo.
'Sebenarnya siapa wanita ini? Dia bahkan tahu kalau ini restoran favorit Leo.' batin Shasa penasaran.
Leo tersenyum tipis. "Kau akan makan siang dengan siapa?" Tanya Leo.
"Sendiri. Kebetulan aku ada urusan dekat sini, jadi aku mampir saja."
__ADS_1
"Bergabung saja di sini." Ajak Shasa sambil tersenyum. Kalau wanita ini makan bersama mereka, Shasa bisa mengambil kesempatan untuk menggali informasi darinya.
Leo heran dengan sikap Shasa yang tiba-tiba saja mengajak Chlory berbagi meja dengannya. Begitupun dengan Chlory yang bingung harus jawab apa.
"Apa tidak apa-apa kalau aku bergabung dengan kalian?" Balas Chlory canggung.
"Tidak apa-apa. Kau akan kesepian jika makan sendiri." Sahut Shasa lagi.
Chlory sempat melirik Leo, mencoba membaca ekspresinya. Tapi, dia tidak bisa menebak apapun dari ekspresi Leo yang datar itu.
"Ah, baiklah kalau begitu."
Shasa pun mempersilahkan Chlory untuk duduk di posisi Shasa, sedangkan dia pindah ke sisi Leo. Chlory memesan makanan pada pelayan. Agak canggung duduk di hadapan Leo dan Shasa, tetapi dia mecoba mencairkan suasana.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Kurang dari satu tahun." Jawab Shasa cepat.
"Bagaimana kalian bisa menikah? Apa Leo mendekatimu lebih dulu?"
"Wah... Bahkan kau sudah bisa bicara soal cinta." Chlory meledek Leo, lalu dia melirik Shasa. "Kau hebat sekali. Apa kau punya energi api sampai-sampai bisa melelehkan gunung es ini?"
"Hahahaha... Aku penasaran sedekat apa kalian dulu." Shasa menyeletuk lewat tawanya.
Tak lama, makanan mereka satu per satu sampai di meja. Mereka perlahan mulai menikmati makanannya. Leo sangat rindu sekali dengan rasa mie di sini. Sudah menjadi kebiasaan, jika Leo berkunjung ke perpustakaan, dia pasti akan makan mie di tempat ini.
Mereka telah selesai menyantap makanan dengan sempurna dan bersantai sejenak.
"Aku akan ke toilet sebentar." Leo beranjak dari duduknya, meninggalkan Shasa dan Chlory berdua di meja.
"Nona, aku penasaran dengan maksud kata-katamu tadi." Shasa sedikit berbisik.
"Kata-kata yang mana?"
"Tadi kau mengatakan, aku pikir kau akan menikah dengan... Tapi kau tidak melanjutkan kalimatmu. Apa sebelumnya Leo punya rencana menikah dengan seseorang?"
__ADS_1
"Hahahaha... Shasa, berapa lama kau mengenalnya sebelum menikah?"
"Aku tidak yakin. Sepertinya hanya beberapa minggu saja."
"Pantas saja, hahahaha. Begini, karena dulu Leo itu seperti alergi terhadap wanita, jadi aku pikir dia akan menikah dengan kehidupannya yang membosankan itu. Aku tidak pernah terpikir kalau Leo akan menikah."
'Apa? Hahahahaha... Ternyata aku benar-benar menikahi gunung es.' batin Shasa.
"Tapi aku yakin, kalau Leo sampai menikahi seorang wanita, itu pasti karena wanita itu telah membuat Leo menemukan hidupnya sendiri."
Shasa lega bukan main. Dia tersenyum pada Chlory. Tapi, kemudian Shasa terpikir sesuatu lagi. Shasa ingin membuka mulutnya lagi untuk bertanya, namun Leo sudah kembali ke tempat duduknya.
"Chlo, aku dan Shasa akan pamit duluan. Tidak apa-apa kan? Aku sudah membayar semua makanan ini." Leo langsung berbicara setibanya dia di meja.
Chlory mengangguk-angguk. "Baiklah. Terima kasih ya traktirannya. Aku akan mengirim hadiah pernikahan untuk kalian nanti."
"Tidak perlu repot-repot, Chlo." Balas Leo. "Sayang, ayo." Leo sudah mengulurkan tangannya.
"Chlory, sampai jumpa lagi ya." Shasa pamit. Mereka berdua langsung meninggalkan Chlory sendirian.
Di depan restoran, asisten Haris dan Lita sudah menunggu. Lita bersumpah, kalau sampai Shasa menolak lagi naik mobil, dia akan menelpon Niko segera. Niko pasti tidak akan membiarkan Leo dan Shasa naik kendaraan umum seperti tadi.
Untung saja semua berjalan mulus. Shasa masuk ke dalam mobil tanpa sedikit pun penolakan. Mereka pun berangkat menuju ke tempat terakhir yang akan mereka datangi hari ini.
"Sayang, seberapa dekat kau dan Chlory? Kelihatannya Chlory tahu banyak tentangmu." Tanya Shasa di sela-sela perjalanan mereka.
"Chlory satu-satunya temanku yang memperlakukanku dengan normal meskipun dia mengetahui aku ini anak siapa. Dia kan punya kewarganegaraan yang sama dengan kita, hanya saja dia sudah lama tinggal di sini. Tentu saja, dia tahu keluargaku."
"Memangnya ada yang memperlakukanmu dengan tidak normal?" Tanya Shasa lagi penasaran.
"Banyak. Mereka mulai mendekatiku dengan cara apapun. Kadang mereka meminta bantuan padaku untuk suatu hal, tetapi kemudian pergi setelah mereka mendapatkannya. Mereka jadi baik di depanku, padahal hatinya tidak tulus. Hanya Chlory yang memperlakukanku layaknya manusia normal, yang bisa saja mengomel atau memukulku karena berbuat salah, walau dia tahu seberapa menakutkannya keluargaku. Dia tidak berteman denganku untuk suatu keuntungan."
Shasa menatap Leo dan memeluknya. Dia berusaha menenangkan Leo dan meyakinkannya bahwa Shasa akan tetap berada di sampingnya hari ini, esok, dan seterusnya.
*****
__ADS_1
bersambung...