Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Serba Salah


__ADS_3

Leo sedang bermanja-manjaan di dalam pelukan Shasa di kamarnya. Shasa mengelus-elus kepala Leo agar sakit kepalanya cepat hilang. Padahal, pasien palsu bernama Leo ini hanya sedang menikmati waktunya dengan Shasa.


"Bagaimana bisa orang sekuatmu sakit kepala?"


"Aku kan juga manusia." Jawab Leo dengan mata yang masih terpejam.


"Semua makanan dan kesehatanmu dipantau ketat. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan sampai sakit kepala begitu."


"Aku memikirkanmu."


"Apa yang kau pikirkan tentangku?"


"Aku bertanya-tanya apa kau bahagia bersamaku, apa aku sudah sesuai ekspektasimu, apa kau nyaman berada di sini, aku ingin tahu semuanya."


Shasa memegang tangan Leo dan meletakkan tangannya itu di atas perut Shasa.


"Harusnya kau sudah mendapat jawabannya. Anakmu ini adalah bukti betapa aku bahagia bersamamu."


Leo mendongakkan kepalanya menatap Shasa. Lalu, dia pun mencium kening Shasa dan kembali lagi ke dalam pelukan Shasa.


"Hanya ada satu hal yang menggangguku." Ucap Shasa lagi.


"Katakan padaku, apa yang mengganggumu?"


"Kau terlalu mengkhawatirkanku, itu menggangguku. Kadang aku merasa serba salah apakah yang aku lakukan benar atau tidak. Kau harusnya sedikit percaya padaku, aku juga bisa menjaga diriku sendiri. Aku ingin menjalani hidup normal seperti orang lainnya. Pergi berdua denganmu ke tempat-tempat ramai, makan di pinggir jalan, belanja ke swalayan, tapi aku sadar kalau hal itu rasanya sulit."


"Sayang, setelah anak kita lahir nanti, ayo kita jalani hidup dengan normal. Aku juga ingin anak kita tumbuh normal seperti anak yang lainnya."


Tiba-tiba saja Shasa mual dan ingin muntah. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu dari atas meja di samping kasur.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Wajah Leo berubah cemas.


Shasa memasukkan sesuatu ke mulutnya. Dia terlihat sedikit lega.


"Apa yang kau makan itu?" Tanya Leo.


"Ini permen asam. Perawat memberikannya padaku tadi. Permen ini sangat ampuh menghilangkan rasa mualku."


Leo bernapas lega. "Apa yang membuatmu tiba-tiba mual seperti itu?"


"Entah kenapa setiap aku berlama-lama denganmu, aku merasa mual."


Leo mendengus tak percaya. Shasa hanya melihat wajah kesal Leo dan menutupi tawanya agar tidak ketahuan.


*****

__ADS_1


Niko masuk ke dalam ruangan Komisaris Gusta. Dia membawa beberapa dokumen di tangannya. Niko memberi hormat pada Komisaris Gusta.


"Ini dokumen proposal akuisisi yang anda minta." Niko meletakkan dokumen yang dibawanya di atas meja kerja Komisaris Gusta.


"Semua aman kan?"


"Sesuai yang anda inginkan, Tuan."


"Aku akan membicarakan pada Leo tentang akuisisi ini. Nanti akan aku kabarkan hasilnya padamu."


"Baik, Tuan. Em... Kalau boleh tahu, alasan anda ingin mengakuisisi perusahaan itu untuk apa, Tuan? Beberapa waktu lalu, nampaknya anda belum tertarik."


Komisaris Gusta tersenyum. "Aku akan mulai menyiapkan hadiah untuk cucuku. Akan lebih baik kalau kita persiapkan sebelum dia lahir kan?" Tanya Komisaris Gusta dengan wajah penuh harap agar Niko sependapat dengannya.


'Huh, aku bernegosiasi mati-matian untuk proposal akuisisi itu ternyata demi seorang bayi yang bahkan belum lahir.' gerutu Niko dalam hati.


Setelah perbincangannya dengan Komisaris Gusta, Niko keluar dari ruangan dan melihat asisten Haris yang berjalan melintasi ruang tengah. Niko mendekati asisten Haris.


"Haris." Suara Niko menghentikan langkah asisten Haris. "Bisa bicara sebentar? Aku ingin bicara denganmu dan juga Lita.


Asisten Haris hanya menatap Niko dan menebak-nebak apa yang akan dibicarakan Niko padanya. Niko menggiring asisten Haris ke ruangannya. Dia juga menghubungi Lita untuk bergabung.


Ketiga orang ini duduk melingkar. Ketiganya saling menatap bergantian.


"Kenapa kau memanggilku?" Lita membuka suara duluan.


"Perihal apa?" Tanya asisten Haris.


"Perihal Nyonya Shasa. Komisaris Gusta sudah memberikanku serangkaian tugas baru untuk mengawasinya. Aku perlu bantuan kalian, setidaknya agar apa yang kalian lakukan sejalan dengan yang aku lakukan."


"Kalau itu berhubungan dengan keamanan dan keselamatan Nyonya, kau tidak perlu khawatir, Presdir Leo juga sudah memerintahkannya padaku." Sahut Lita.


"Kalian harus menyadari bahwa menjaga Nyonya sekarang dengan menjaga Nyonya kemarin, itu dua hal yang berbeda. Saat ini dia mengandung calon pewaris Keluarga Gusta. Akan bertambah dua kali lipat kecemasan keluarga ini terhadap kondisi Nyonya."


"Benar. Aku rasa Presdir Leo punya tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Bahkan, dia sudah berani bersandiwara dengan pura-pura sakit hanya untuk melihat istrinya setiap waktu." Asisten Haris terdengar sepakat dengan Niko.


"Kalian hanya perlu banyak-banyak berdoa agar Nyonya tidak meminta hal-hal yang membuat kita repot. Nyonya sudah pandai sekali merengek. Apalagi dengan kondisi mengidam seperti sekarang." Kata-kata Lita ini menyadarkan ketiganya apa yang sangat berpotensi menjadi akar masalah bagi mereka.


*****


Makan malam di kamar telah usai. Kini, Leo dan Shasa bersantai di kasur sambil berbincang-bincang. Shasa menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Leo.


"Hahahaha... Pertama kalinya aku melihat Niko menjadi sangat penurut dengan orang selain papaku." Leo menertawakan foto yang dikirim Niko pada Shasa.


"Hahahaha... Aku hebat kan? Aku bilang padanya, kalau dia sampai tidak menuruti apa yang aku inginkan, aku akan memintanya darimu atau papa."

__ADS_1


"Kau membawa-bawa namaku dan papa? Ish... Kau ini. Bagaimana kau tahu kata kunci yang membuat Niko tak berkutik? Hahahaha."


"Sayang, mendengar nama Niko, aku jadi ingin sesuatu lagi darinya." Shasa melirik Leo di sampingnya. Leo menunggu kata-kata Shasa berikutnya. "Aku ingin Niko membacakan cerita komedi untukku."


"Hah? Hahahaha... Orang se-kaku Niko tidak akan mau membacakan cerita seperti itu padamu. Dia tidak punya selera humor yang baik."


Shasa cemberut. "Tapi aku benar-benar ingin mendengar itu darinya."


Leo menyudahi ketawanya. Wajahnya berubah serius. "Kau jadi gemar mengerjai Niko ya?"


*****


Epilog:


"Sayang... Ayo minum susu dulu sebelum tidur." Leo membawakan segelas susu untuk Shasa.


Shasa sudah ingin menyambut gelas itu, tapi dia mengurungkannya. "Siapa yang membuat susu ini?" Tanya Shasa.


"Pelayan di dapur." Jawab Leo singkat.


"Tidak mau. Aku mau kau yang membuatkannya." Shasa menyilangkan kedua tangannya di depan.


Alis Leo berkerut. "Besok aku akan membuatkannya untukmu. Sekarang minum ini dulu." Leo merayu.


Shasa menatap Leo. "Tidak mau. Aku tetap ingin kau yang membuatkannya."


Leo mendesah. "Baiklah. Aku yang akan membuatnya." Leo meletakkan gelas susu tadi di meja samping kasur, kemudian melangkah keluar kamar berjalan ke arah dapur.


Leo melihat pelayan di dapur yang kini tertunduk di hadapannya. "Ajari aku cara membuat susu seperti tadi."


Salah satu pelayan terkaget mendengarnya sampai-sampai dia melirik Leo, tetapi kemudian dia menundukkan kepalanya lagi.


Pelayan di dapur pun mengajari Leo cara membuat susu. Leo memerhatikan setiap detilnya sambil mempraktikkan setiap langkah yang diajarkan pelayan itu. Setelah berhasil membuat segelas susu, Leo pun tersenyum puas. Untuk pertama kalinya dia menyeduh susu yang bahkan bukan untuk dirinya sendiri. Leo beranjak dari dapur ke kamarnya.


"Sayang... Ini susu spesial buatan Leo, presdir XY Group. Ini pasti jadi susu termahal seantero negeri ini." Leo tersenyum bangga membawakan segelas susu untuk Shasa.


"Ish... Percaya diri sekali kau." Shasa tertawa kecil. Perlahan Shasa meminum susu yang dibuatkan Leo. Sesekali dia seperti berpikir mengenai rasa susu yang masuk ke mulutnya. "Sayang, coba bawakan gelas itu." Shasa menunjuk gelas susu yang pertama dibawa Leo tadi.


Leo memberikan gelas susu itu pada Shasa. Shasa meminum susu itu dan mulai merasai dengan lidahnya. Alisnya sedikit berkerut.


"Lebih enak yang pertama. Aku minum yang ini saja." Ucap Shasa tanpa merasa berdosa sedikit pun pada Leo karena memilih susu yang dibuatkan pelayan.


Kini Leo tercengang menatap Shasa dengan senyum tipis di wajahnya. Seketika, Leo merasa tidak berguna di hadapan istrinya itu.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2