
Pagi itu, Shasa terlambat bangun. Dia terbirit-birit menuju ke kantornya. Skuter kuning yang dia kendarai melaju dengan cepat seperti mau balapan.
Sesampainya di parkiran kantor, Shasa melepaskan helm dan berlari cepat menuju lobby. Dia berlari sambil menggendong ranselnya. Saat melihat lift hampir tertutup, dia merentangkan tangannya agar pintu lift terbuka. Shasa masuk ke dalam lift dengan terengah-engah.
Tak lama lift membawa Shasa menuju lantainya, mobil presdir sampai di pintu lobby. Asisten Haris keluar lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Presdir.
"Selamat pagi Tuan Leo" sapa beberapa petugas di depan lobby.
Leo tak membalas sapaan mereka dan hanya berjalan masuk. Setelah beberapa langkah masuk ke lobby, Leo menghentikan langkahnya dan melihat kebawah.
'Handphone?' tanya Leo dalam hati.
"Tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?" Asisten Haris bertanya dari belakang Leo.
Leo tidak menjawab dan bergerak mengambil ponsel yang tergeletak di bawah kakinya. Dia melihat layar ponsel itu.
'Dia lagi?' gerutu Leo dalam hati. Dia melihat foto Shasa di wallpaper ponsel itu.
"Haris, kau ingat wanita ini kan?" Tanya Leo sambil menyodorkan ponsel Shasa ke tangan asisten Haris.
Asisten Haris melihat wallpaper ponsel itu. "Ingat, Tuan. Apakah anda ingin saya mengembalikannya?" Asisten Haris bertanya dan mengambil ponsel itu.
"Kau tak perlu memberitahu siapa dan dimana ponsel ini ditemukan. Cukup kembalikan saja." Tutup Leo dan mulai berjalan menuju lantai VIP.
*****
"Sha, belakangan ini kayaknya kamu lagi pelupa banget deh. Kemarin hilang ID card, baru sehari ketemu, udah hilang hp." Tira mengeluh kepada Shasa.
Shasa masih membongkar-bongkar tas mencari ponselnya.
"Aku ingat kok, tadi masukin hp ke tas. Apa ketinggalan di parkiran ya?" Tanya Shasa pada dirinya sendiri.
Shasa meninggalkan mejanya dan berlari ke parkiran. Dia kelimpungan mencari ponselnya. Setelah putus asa mencari kesana-sini, Shasa memutuskan kembali ke mejanya.
Shasa berjalan menuju lift di lobby. Kemudian langkahnya terhenti. Asisten Haris berdiri di depannya.
"Nona, ini ponsel anda?" Tanya asisten Haris sambil menunjukkan sebuah ponsel.
__ADS_1
" Oh! Ya ampun! Hp ku!" Shasa teriak kegirangan sambil memeluk ponselnya. "Terima kasih, Tuan, sudah menemukan hp saya." Shasa masih kegirangan.
'Akan ku sampaikan terima kasihmu pada penemunya, nona.' bisik asisten Haris dalam hati.
Kemudian asisten Haris meninggalkan Shasa di lobby menuju lift VIP.
"Huh, dia sama saja seperti tuannya si Presdir itu! Sama-sama kaku." Ucap Shasa dengan muka sebal. Tapi kemudian dia kegirangan lagi memeluk ponselnya.
*****
"Wanita itu menyampaikan terima kasihnya, Tuan" asisten Haris berbicara sambil menyerahkan dokumen ke Leo.
"Apakah wanita se-teledor itu?" Leo bertanya tetapi matanya tak lepas dari dokumen di tangannya.
Asisten Haris bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Leo.
"Kau se-kaku itu terhadap wanita sampai tak tahu jawabannya?" Leo mendongak melihat asisten Haris dari kursinya.
'Kau yang bertanya duluan kan, Tuan? Kau tidak mungkin bertanya jika tahu jawabannya kan?' gumam asisten Haris dalam hati, tak berani melihat Leo.
Leo membaca dokumennya kembali.
"Tuan tinggal sendirian di apartemen sebesar itu. Mungkin itu yang membuat anda bosan. Apa kau butuh sesuatu untuk di apartemen anda?" Jawab Asisten Haris datar.
"Kau sedang menyindirku?" Leo mendengus.
Asisten Haris panik. "Tuan, ada taman di dekat apartemen anda. Mungkin Tuan bisa jalan-jalan di sekitar sana." Usul asisten Haris.
"Haris, kau harus tahu, aku tidak suka keramaian"
"Taman itu tidak ramai, Tuan. Apartemen anda ada di kawasan elit. Tidak banyak penghuni yang mau repot-repot datang ke taman itu. Saya akan menunjukkan jalannya jika Tuan berkenan." Asisten Haris menambahkan.
"Haris, jika kau butuh hiburan, carilah hiburan lain." Cela Leo.
'Hahahaha... Jelas-jelas anda yang butuh hiburan, Tuan' balas asisten Haris mencela Leo dalam hati.
*****
__ADS_1
Sore itu Shasa tak berlama-lama di kantor. Dia langsung beranjak pulang ketika jam pulang kantor tiba.
Shasa sempat mampir sebentar ke toko alat tulis. Dia membeli cukup banyak alat tulis dan buku. Setelah membayar di kasir, Shasa langsung melanjutkan perjalanannya ke apartemen.
Hidup Shasa begitu sederhana dan tak mencolok banyak perhatian. Dia menjalaninya dengan santai, tanpa beban. Meskipun begitu, dia sangat bahagia dengan hidupnya.
Di saat dia merasa dunia berjalan ke arahnya, sebuah batu besar menghampiri perjalanannya. Shasa yang berharap Dion akan menjadi pasangan hidupnya, harus menghadapi kenyataan bahwa harapan itu tak akan terwujud.
Tapi bukan Shasa namanya, kalau dia tak bangkit dari jatuhnya. Sejak kecil, Shasa telah tumbuh menjadi anak yang optimis. Jika dia tak berhasil mencapai mimpinya, maka dia akan menciptakan mimpi yang baru. Shasa tidak merasa terlahir istimewa. Segala yang dia dapatkan sekarang, membutuhkan perjuangan yang besar.
Setelah mandi dan bersih-bersih, Shasa mulai lapar. Dia memutuskan membeli makan di luar apartemennya. Setelah makan ayam pedas kesukaannya, Shasa membeli es krim sambil berjalan santai di taman dekat apartemen.
Shasa asik duduk di bangku taman sambil memakan es krim seperti anak kecil. Shasa kaget ketika melihat laki-laki dengan jaket hoodie berwarna hitam berdiri di depannya.
"Ya Tuhan!" Shasa terlonjak kaget. "Tuan Presdir, anda disini? Anda tidak sedang mengikutiku kan?" Tanya Shasa.
" Huh, apa maksudmu? Kau tak cukup menarik untuk diikuti." Jawab Leo sinis.
"Hahahaha... Maaf, Tuan, aku bercanda. Tuan sedang apa disini?"
"Cih, sepertinya Haris membohongiku. Apanya yang tidak ramai? Bahkan ini seperti pasar malam." Maki Leo sambil matanya mengelilingi sekitar taman.
"Anda bilang ini pasar malam, Tuan?" Tanya Shasa mencela. "Kembalilah besok, pasar malam hanya ada sabtu malam, ini mah tidak ada apa-apanya." Jelas Shasa sambil menghabiskan es krimnya.
Saat itu memang taman tidak sepi, tapi tidak ramai juga. Hanya Leo saja yang merasa kesal karena dia tak suka keramaian.
"Tuan, duduklah disini. Anginnya sangat sejuk dan segar karena pepohonan itu." Tunjuk Shasa ke pohon rindang yang menaungi bangku taman.
Dengan ekspresi datar Leo duduk di bangku taman. Pandangannya menghadap taman bermain di depan mereka.
"Tuan, kalau kau bosan atau sedih, datanglah kesini. Kau akan lihat banyak anak kecil bermain. Lihat tawanya! Sangat lucu kan?" Tunjuk Shasa ke anak kecil yang sedang bermain bersama ibunya. Leo hanya terdiam melihat yang ditunjuk Shasa.
"Setiap mimpiku pupus, aku kesini. Setelahnya, aku bisa dengan tenang menciptakan mimpi baru." Tambah Shasa sambil tersenyum.
"Apa yang kau lihat dari anak itu? Sampai-sampai dengan mudah kau buat mimpi baru." Leo melirik Shasa.
"Tawanya. Kebahagiaannya. Aku iri. Karena itulah aku berani bangkit. Terlalu banyak mimpi di dunia ini yang bisa dikejar. Kalau aku hanya berdiam, aku akan selalu ada disitu-situ saja kan?" Jawab Shasa dan menoleh ke Leo di akhir kalimatnya.
__ADS_1
*****
bersambung...