
Leo dan Shasa kembali dengan jet pribadinya. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan antara keduanya. Sesampainya mereka, mobil pribadi Leo sudah siap menjemput di bandara. Shasa meminta untuk diantar ke apartemennya.
Setelah mobil itu membawa mereka sampai di apartemen Shasa, dia turun dari mobil dan berpamitan dengan Leo.
"Tuan, terima kasih atas semuanya." Shasa membungkukkan badannya pada Leo yang masih ada di dalam mobil. Tiba-tiba, Leo malah ke luar dari mobilnya dan berhadapan dengan Shasa.
"Tidak, tidak bisa. Kau tidak bisa tinggal di tempat ini. Kau adalah istriku. Mana mungkin suami-istri tinggal terpisah." Leo menatapnya serius.
"Haris, bereskan semua barang-barangnya dan pindahkan ke apartemenku." Perintah Leo pada asisten Haris.
"Tuan, tapi..." Belum selesai Shasa berbicara, Leo sudah menarik tangannya untuk masuk ke mobil kembali.
Shasa dibawa ke apartemen Leo. Apartemennya berada di lantai khusus yang hanya Leo sebagai penghuninya. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke lantai itu. Setelah lift membawanya, Leo dan Shasa sampai di depan pintu apartemen Leo. Asisten Haris hanya mengantar mereka sampai lobby dan langsung beranjak ke apartemen Shasa untuk melakukan apa yang diperintahkan Leo.
Shasa masih terperangah dengan mewahnya apartemen Leo ini. Wajar. Leo adalah anak konglomerat di negara ini. Tak heran kalau dia sampai tinggal di apartemen khusus dengan fasilitas super lengkap ini.
Mata Shasa masih mengelilingi seisi apartemen Leo. Leo tersenyum kecil melihat kelakuan Shasa ini
"Ini apartemenku. Karena kau istriku, maka apartemen ini juga milikmu." Selesai Leo mengatakannya, Shasa menatap Leo.
"Kamarku disana." Leo menunjuk ke arah pintu kamar yang cukup besar. "Kau ingin sekamar denganku?" Leo menggoda Shasa.
"Eh? Apakah disini ada kamar tamu? Aku tidak masalah tidur di kamar tamu." Shasa agak gugup.
"Baiklah, itu pilihanmu, aku tidak akan memaksa. Kamarnya di sebelah sana." Leo menunjuk ke arah pintu tepat di seberang kamar Leo.
"Terima kasih, Tuan." Karena semakin gugup, Shasa ingin segera melarikan diri. Tapi kemudian, Leo mengatakan sesuatu padanya sehingga langkahnya terhenti.
"Aku sudah berjanji untuk menjaga dan melindungimu. Aku tidak akan bisa menjagamu kalau kau tinggal terpisah dariku."
Jantung Shasa menjadi semakin berdebar mendengarnya. Dia tidak merespon apapun dan semakin buru-buru meninggalkan Leo di belakangnya. Leo hanya tersenyum melihat Shasa yang melarikan diri darinya.
__ADS_1
*****
Setelah bersih-bersih dan istirahat sejenak, Shasa keluar dari kamarnya. Dia melihat Leo sedang berbicara dengan asisten Haris di ruang tengah. Shasa pun mendekat ke arah mereka bicara.
Leo menyadari Shasa yang berjalan mendekat ke arahnya. Dia pun menoleh ke arah Shasa.
"Baiklah, kau bisa pergi." Perintah Leo kepada asisten Haris. Asisten Haris menundukan kepala pada Leo dan Shasa, kemudian pergi meninggalkan keduanya.
"Dia tidak membawa barang-barangku?" Tanya Shasa bingung karena melihat asisten Haris datang dengan tangan kosong.
"Haris akan persiapkan semua barang-barang baru untukmu."
"Kenapa? Barang-barangku masih bagus kok." Shasa berusaha menjelaskan kalau barang-barangnya masih layak pakai.
"Akan merepotkan membawa barang-barangmu disini. Mau kau letakkan dimana memangnya?"
Shasa mengitari apartemen ini dengan matanya. Dia menyadari kalau barang-barangnya hanya akan merusak pemandangan apartemen ini. Jelas-jelas barang di apartemen ini terlihat sangat mahal, tidak sebanding dengan barang-barang miliknya.
Shasa hanya mendengus pelan. Dia memang benar-benar berada di level yang sangat berbeda dengan suaminya ini.
"Aku lapar. Aku akan memasak makan malam. Anda ingin makan?" Shasa mencoba mengalihkan pembicaraan daripada membuatnya kesal sendiri.
"Biasanya ada koki khusus disini. Tetapi karena kita pergi beberapa hari lalu, aku meliburkannya. Aku tidak pernah dengar kau bisa memasak." Leo meledek Shasa.
"Aku mungkin tidak sepandai koki anda, Tuan. Tapi setidaknya aku bisa memasak makanan sederhana. Kalau anda tidak mau juga tidak apa-apa." Shasa mencoba tersenyum.
"Baiklah, buatkanlah untukku." Shasa berbalik menuju arah dapur. "Ah, satu lagi." Leo meletakkan bukunya di meja dan berjalan mendekati Shasa. "Kenapa kau masih memanggilku 'anda' atau 'tuan' ? Panggilah suamimu yang benar." Lagi-lagi Leo meledeknya.
"Memangnya aku harus memanggil apa?"
Leo benar-benar tidak habis pikir dengan ketidakpekaan Shasa. "Jangan memakai kata 'anda' ataupun 'tuan' lagi padaku. Berbicaralah dengan santai dan panggil namaku."
__ADS_1
Shasa memutar bola matanya. "Baiklah, aku akan memanggilmu seperti itu di rumah. Tapi, di kantor, aku akan tetap memanggilmu sepeti biasa. Biar bagaimana pun, kau kan atasanku."
Leo mengangguk. "Ya, terserah kau saja." Leo meninggalkan Shasa dan menuju ke kamarnya. "Panggil aku ketika masakanmu sudah siap." Leo berbicara tanpa melihat Shasa dan hanya meneruskan berjalan.
'Huh... Apakah aku harus menghadapinya seperti ini setiap hari?' batin Shasa.
Leo bukan orang yang mudah ditebak. Dia bisa melakukan apapun yang tidak pernah Shasa pikirkan.
Shasa memasak dengan santai. Di apartemen Leo ini, bahan makanan tersedia cukup banyak. Begitu juga dengan peralatan masak yang banyak dan canggih.
Makanan yang dimasak Shasa memang hanya makanan rumahan dan sederhana. Tapi dia benar-benar percaya diri kalau masakannya ini adalah yang terbaik versi Shasa.
Setelah makanan telah tertata rapi di meja makan, Shasa berjalan ke arah kamar Leo untuk memanggilnya. Dia mengetuk pintu kamar Leo, tetapi hanya sahutan kecil yang didengarnya. Shasa pun mencoba membuka pintu. Dia melihat Leo sedang fokus dengan laptopnya yang dia pangku sambil meluruskan kaki di ranjang.
"Kau lagi sibuk?" Tanya Shasa penasaran sambil mendekati ranjang Leo.
"Sedikit. Sebentar lagi selesai. Sudah selesai masak?" Tanya Leo lagi tapi matanya masih belum bisa berpaling dari laptop.
"Sudah." Shasa memerhatikan seisi kamar Leo sambil menyilangkan tangannya di depan. "Wah... Kamarmu ini luas sekali. Kau bahkan bisa bermain sepak bola disini." Mata Shasa tertuju ke sebuah kursi santai yang ada di ujung kamarnya. "Itu tempat apa?" Shasa penasaran dan menujuk ke arah kursi santai itu. Leo pun jadi ikutan menoleh ke arah yang ditunjuk Shasa.
"Itu tempat favoritku." Shasa sudah berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi. Kepalanya menengadah ke atap langit-langit disana. "Wah... Bahkan ada atap kaca. Kau bisa melihat langit malam dari sini." Shasa mendecak kagum.
"Kalau kau suka, pindahlah kesini."
Shasa berhenti mengagumi dan menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Ayo cepat makan. Nanti makanannya keburu dingin." Shasa berjalan kesal ke luar kamar. Leo tertawa kecil melihatnya.
*****
bersambung...
__ADS_1