
Leo menatap Shasa dengan wajahnya yang penuh banyak tanya. Seketika, situasi di antara mereka menjadi serius.
"Kenapa kau tiba-tiba berpikir begitu? Aku bahkan tidak pernah berani memikirkannya." Tanya Leo.
"Aku rasa, aku terlalu sibuk kalau punya dua tanggung jawab, di kantor dan di yayasan. Akan repot kalau aku menjalani keduanya di waktu yang bersamaan."
"Ini yang aku takutkan. Aku takut kalau aku menghentikan mimpimu."
"Kadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lainnya. Aku tidak bisa serakah sedang aku tahu aku tidak mampu. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku rasa, ini jalan yang terbaik untuk kebaikan kita."
"Kebaikan kita?" Tanya Leo mengerutkan dahinya.
"Aku tahu, kalau kejadian kemarin itu karena aku terlalu lelah. Aku tidak bisa fokus dan memperhatikan diriku. Aku terlalu sibuk dengan hal-hal di luarku sampai-sampai aku melupakan diriku sendiri. Leo, aku juga ingin memiliki anak darimu. Akan sulit jika aku tetap bertahan pada kesibukanku. Toh, kita harus belajar dari kesalahan masa lalu kan?"
"Kau akan menghancurkan mimpimu sendiri. Pekerjaan itu, itu yang kau impikan selama ini kan?"
Shasa menatap Leo dengan lekat.
"Prioritas hidup seseorang berubah seiring waktu dan fase kehidupannya. Ketika sebelum menikah, karir yang bagus adalah impianku. Tapi kini, aku lebih memimpikan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita. Aku mungkin akan bangga ketika aku memiliki karir cemerlang. Tetapi, aku akan menyesal seumur hidupku kalau aku tidak memikirkan kebahagian keluarga yang kita bangun." Jelas Shasa meyakinkan Leo.
Leo memejamkan matanya dan menarik napas panjang.
"Kita tetap bisa lakukan semuanya. Kau tetap bisa bekerja dan kau juga bisa memiliki anak. Kita bisa lakukan dua-duanya."
"Aku sudah pernah bertanya pada dokter. Seseorang yang pernah mengalami keguguran, akan memiliki kemungkinan risiko yang sama di kehamilan berikutnya. Aku hanya tidak ingin itu terjadi lagi. Aku tidak akan mampu menghadapinya." Air mata Shasa terjatuh.
Leo tidak menyangka kalau dia akan menghadapi kejadian seperti ini dua kali. Pertama adalah mamanya. Dan sekarang, adalah istrinya. Leo begitu takut kalau dia akan jahat seperti papanya yang menghentikan mimpi istrinya hanya untuk kebahagiannya sendiri.
"Aku selalu hati-hati dalam setiap hal yang aku lakukan untukmu. Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu hanya untuk kebahagiaanku." Hati Leo berkecamuk.
"Apa hanya kau saja yang akan bahagia jika aku memiliki anak? Aku juga akan bahagia, sayang. Apa kau pikir aku terpaksa untuk memiliki anak darimu? Aku juga menginginkannya."
Leo menghela napas, mencoba mengerti setiap kata-kata Shasa.
"Sayang, aku tidak akan menyesali keputusanku." Shasa menggenggam tangan Leo yang berada di atas meja.
Leo tidak pernah takut jika Shasa kehilangan pekerjaannya. Dia yakin bisa menghidupi Shasa berpuluh-puluh kali lipat lebih baik daripada Shasa menghidupi dirinya sendiri. Buat Leo, pernikahan harusnya tidak menghentikan mimpi atau cita-cita seseorang. Justru, mimpi dan cita-cita itu harusnya akan lebih mudah diraih. Tapi, hari ini Leo belajar bahwa pernikahan bukanlah tentang satu orang, tetapi dua orang yang menjadi satu.
Shasa tahu bahwa Shasa tidak bisa lari dari tanggung jawabnya di yayasan karena itu adalah konsekuensi menjadi istri Leo. Shasa tidak punya pilihan selain keluar dari pekerjaannya demi sesuatu yang dia rasa lebih berharga.
"Kau akan kecewa saat aku mengatakan aku mengijinkannya. Kau pasti berharap aku mencari cara terbaik untukmu."
Shasa menggelengkan kepalanya. "Aku akan bahagia ketika kau menyetujuinya." Jawab Shasa dengan mantap.
"Baiklah, aku setuju. Kau boleh mengundurkan diri dari pekerjaanmu."
Shasa lega mendengarnya. Dia tersenyum lebar pada Leo. Dia tidak membayangkan kalau akan sesulit ini meyakinkannya.
"Sayang, kemari." Leo memanggil Shasa mendekat.
Shasa pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Leo. Leo membawa Shasa ke pangkuannya. Wajah mereka berhadapan satu sama lain. Shasa melingkarkan tangannya di leher Leo.
"Kau tahu kan kalau aku mencintaimu? Aku mengijinkanmu dengan satu syarat. Lupakan kesedihanmu. Aku tidak menyukainya. Meskipun kau tidak menunjukkan di depanku, tapi kau masih menyimpannya. Buang saja kesedihanmu."
Wajah Shasa yang tadinya berkerut berubah menjadi senyum cantik di wajahnya. Shasa mencium bibir Leo. Tentu saja, Leo membalasnya dengan ciuman bertubi-tubi.
__ADS_1
"Besok, aku akan meminta Haris membuatkan satu kamar tidur disini." Leo menggoda Shasa.
Mereka tertawa bersama di siang hari yang terik itu. Hari ini akan menjadi langkah awal yang baru untuk keduanya.
*****
Setelah selesai makan siang bersama, Shasa beranjak pulang ke rumah karena Leo pasti akan melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Sayang, aku boleh mampir bertemu temanku sebentar?" Shasa bertanya pada Leo.
"Siapa?" Leo berusaha menebak.
"Tira, teman kerjaku."
Leo mendekat ke arah Shasa dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Shasa, membuat tubuhnya tak berjarak sama sekali.
"Awas kalau kau bertemu yang lain, apalagi laki-laki." Ancam Leo.
"Hahahaha... Kenapa kau imut sekali kalau sedang mengancamku begini?" Shasa malah tidak menganggap serius ancaman dari Leo.
"Haris akan mengurus surat pengunduran dirimu. Kau tidak perlu repot-repot menjelaskan pada teman-temanmu."
"Iya, sayang. Tapi, Tira kan teman baikku, aku ingin memberitahunya sendiri. Dan ketika nanti pengunduran diriku sudah disetujui, aku juga akan membuat pesta perpisahan kecil dengan teman-temanku. Boleh kan?"
Leo menyeringai. "Adakan saja di rumah."
"Kalau aku mengadakannya di rumah, aku hanya akan membuat teman-temanku canggung. Apalagi kalau mereka melihat papa di rumah."
Leo mendesah. "Baiklah, istri kesayangan."
"Kau ingin aku kirimi bunga setiap hari?"
"Bukan, bukan seperti itu. Pemborosan kalau kau membelikan bunga setiap hari. Sini, ku peluk." Shasa memeluk Leo dengan sedikit berjinjit.
"Setuju." Leo mengatakan sesuatu yang tidak Shasa mengerti.
"Setuju apa, sayang?" Shasa sedikit menolehkan kepalanya tanpa melepas pelukan Leo.
"Setuju, aku akan memelukmu setiap hari seperti ini."
Seketika itu juga, Shasa memukul bahu Leo, membuatnya mengaduh. Mereka berdua saling menatap sejenak dan tertawa bersama.
*****
Shasa turun ke lobby dan mengetikkan suatu pesan melalui ponselnya.
Shasa: Ti, aku di kafe di lobby kantor. Kamu bisa ke sini? Tapi, jangan bilang-bilang sama yang lain ya.
Tak lama, balasan pesan dari Tira sampai di ponsel Shasa.
Tira: Aaaaaa kangen... Oke, Sha. Tunggu sebentar ya.
Shasa mengambil kursi di kedai kopi kantornya. Lita mengambil kursi lainnya dalam jarak pandang yang masih memungkinkan untuk mengawasi Shasa.
Tak berapa lama, Tira sampai di kedai kopi.
__ADS_1
"Sha!" Panggil Tira yang menahan rasa histerisnya karena sudah lama tidak bertemu Shasa.
"Tiraaa." Shasa langsung memeluk Tira.
Keduanya duduk di kursi kedai kopi, saling berhadapan. Rasa senang bisa bertemu lagi, tidak dapat dibendung lagi oleh keduanya.
"Sha, gimana kabar kamu? Sudah 2 minggu gak ke kantor. Tadinya kita mau jenguk, tapi..." Tira melihat ke sekelilingnya memastikan kondisi aman. Dia agak berbisik pada Shasa. "Ibu Lita bilang kalau kau sedang istirahat total dan Presdir juga tidak mengijinkan kau bertemu orang lain."
Wajah Shasa cemberut dan kemudian mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Tira.
"Aku dirawat di rumah sakit sekitar 4 hari. Sisanya, Leo memintaku untuk istirahat di rumah sampai ke pemeriksaan berikutnya. Dia juga mengirimkan perawat khusus untukku. Sudah pasti, dia tidak akan mengijinkanku ke luar dari rumah."
"Tapi, kamu sudah sehat kan, Sha?"
"Sudah kok, Ti." Shasa tersenyum.
"Aku tidak tahu aku boleh mengatakannya atau tidak. Aku turut sedih dengan kejadian yang menimpamu. Tapi tidak usah berlarut-larut. Habis ini, lahirkan banyak keponakan untukku." Goda Tira pada Shasa.
"Hahahaha... Iya iya. Nanti kamu jadi penjaga bayinya ya." Ledek Shasa.
"Huh, bahkan kau bisa membayar berpuluh-puluh penjaga bayi untuk menjaga anakmu nanti. Eh, tapi... Kok kamu bisa ke kantor, Sha?"
"Aku habis makan siang dengan Leo. Aku membuat alasan yang pas untuk datang ke sini."
"Hahahaha... Lari dari rumah berkedok makan siang romantis ya? Benar-benar canggih kamu, Sha."
"Ti, ada sesuatu yang mau aku kasih tahu ke kamu. Tapi, kamu harus bisa jaga informasi ini sampai waktunya tiba."
Tira mengerutkan dahinya, menerka-nerka informasi apa yang akan diberikan Shasa.
"Aku akan mengundurkan diri dalam waktu dekat."
Duarrr... Tira terduduk lemas mendengar informasi itu.
"Kok bisa? Presdir melarangmu bekerja?"
"Tidak, tidak. Dia tidak melarangku, tapi aku yang menginginkannya."
"Sha, kamu punya karir yang bagus di sini. Yakin mau dilepas? Kamu sering diandalkan manajer Lim. Aku yakin, beberapa tahun ke depan, kau sudah bisa menduduki posisi manajer Lim sekarang."
"Ti, kesibukanku sekarang, tidak bisa aku kendalikan. Sedangkan, aku punya sesuatu yang lebih penting yang ingin segera aku wujudkan. Aku harus memilih. Dan ini pilihanku."
Tira menghela napas. "Baiklah kalau menurutmu itu yang terbaik. Kehidupan pernikahan benar-benar mengubah hidupmu."
"Karena pernikahan itu bukan hanya untuk kebahagiaanku, tapi juga kebahagiaan suamiku."
"Kau benar-benar mencintainya?"
Shasa tersenyum. "Aku rasa aku masih kalah dari Leo jika ingin mengukur besarnya cinta kita masing-masing."
Tira tersenyum seperti orang habis tersindir. 'Dua-duanya sama-sama budak cinta. Itu yang benar.' batinnya.
*****
bersambung...
__ADS_1