
Leo mengantar Shasa pulang ke rumah sehabis kunjungannya dari panti asuhan. Leo akan langsung pergi ke kantor bersama asisten Haris setelahnya.
"Istirahat ya, sayang. Makan tepat waktu." Pesan Leo pada Shasa.
Shasa mengangguk pelan. Leo menatap wajah Shasa yang tersenyum padanya. Tiba-tiba, Leo mencium bibir Shasa, membuat yang dicium terkejut. Shasa membalas ciuman Leo. Ciumannya begitu dalam. Leo sudah membungkus Shasa dengan pelukannya.
Seakan sudah tahu apa yang akan dilakukan Leo, asisten Haris sebelumnya sudah keluar dan menunggu di luar mobil. Dia mengalihkan perhatiannya dari dalam mobil dan berbicara dengan Lita.
Kemudian, pintu mobil terbuka. Asisten Haris sedikit berlari menuju mobil dan menahan pintu untuk Leo. Shasa menunggu Leo yang sedang berputar membukakan pintu mobil untuknya. Dia merapikan rambutnya yang agak berantakan.
Leo membuka pintu mobil untuk Shasa. Setelah melihat Shasa masuk ke dalam rumah, Leo masuk lagi ke dalam mobil dan berangkat menuju kantor.
Sepanjang siang itu di rumah, Shasa memikirkan rencana program kehamilannya. Dia memikirkan langkah yang harus dia lakukan agar program kehamilannya berjalan lancar. Pikirannya melayang entah kemana. Dia sebetulnya sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Meskipun pilihannya begitu berat, tapi hanya itu jalan terbaik yang bisa dia ambil. Shasa memikirkan cara untuk membahasnya dengan Leo. Dia menerka-nerka respon yang akan ditunjukkan Leo ketika Shasa membahas ini. Apakah Leo akan menyetujuinya atau tidak. Namun, yang ada di pikiran Shasa hanyalah bagaimana caranya dia segera memiliki momongan.
*****
"Gusta, menurutmu apa sebaiknya kita merencanakan bulan madu ke-2 untuk Leo dan Shasa?" Nyonya Sofia sepanjang jalan menuju rumah berpikir tentang Leo dan Shasa. Komisaris Gusta yang menemani di sampingnya hanya mendecak dan mengalihkan pandangannya ke luar.
"Ish... Kau ini! Mereka berdua pasti masih dalam masa penyembuhan atas luka di hati mereka. Biarkan saja dulu. Kalau mereka ingin berbulan madu, mereka juga pasti akan mengaturnya sendiri." Komisaris Gusta tak sependapat dengan Nyonya Sofia.
"Justru dengan berbulan madu, mereka akan melupakan kesedihannya."
Komisaris Gusta menggelengkan kepalanya. "Mereka butuh waktu, Sofia. Biarkan saja dulu. Kau tidak lihat betapa antusiasnya Leo ketika mengetahui Shasa hamil. Tapi kemudian wajahnya berubah ketika dia menyadari bahwa saat itu juga dia telah kehilangan calon anaknya."
Nyonya Sofia diam terpaku mendengar Komisaris Gusta bercerita. Nyonya Sofia tahu kalau Shasa pasti terluka dengan apa yang menimpanya, tetapi Nyonya Sofia lupa bahwa Leo juga punya luka yang sama.
"Gusta, apa kau sudah berbicara dan menyemangati Leo?"
"Belum." Jawab Komisaris Gusta singkat.
"Kau ini, gengsi sekali bicara dengan anakmu sendiri." Nyonya Sofia menyindir.
__ADS_1
"Bukan gengsi, Sofia. Melihat dia perlahan berjalan ke arahku saja, aku sudah senang. Aku takut, semakin aku mendekatinya, semakin dia menjauh dariku."
"Kalau begitu, bicaralah sebagai seorang lelaki. Dia membutuhkan tempat untuk bercerita. Selama ini, hanya aku yang menjadi tempat curhatnya. Tapi aku rasa, Leo juga butuh nasehat dari seorang lelaki. Sebab itu, hanya kau yang tepat melakukannya karena kau ayahnya."
Komisaris Gusta menghela napasnya. Dia begitu bahagia mendengar Leo bersedia meneruskan perusahaan dan menjadi lebih bahagia lagi ketika Leo memutuskan tinggal di rumahnya. Meskipun begitu, Komisaris Gusta belum tahu cara untuk mendekati hati putra tunggalnya ini.
*****
Selesai makan malam bersama, Komisaris Gusta dan Leo membicarakan perihal bisnis di ruang tengah. Sedangkan, Nyonya Sofia dan Shasa masih mengobrol di ruang makan sambil memakan buah segar.
Komisaris Gusta mencari kesempatan dan waktu yang tepat untuk mengobrol dari hati ke hati pada Leo. Dia masih bingung akan memulai dari mana. Leo pun masih serius membicarakan perihal perusahaan padanya.
Leo selesai berbicara panjang lebar dan menyesap teh di cangkirnya. Komisaris Gusta mencoba memulai pembahasan berikutnya.
"Leo." Panggil Komisaris Gusta.
Leo melirik ke arah Komisaris Gusta.
"Perasaan apa maksud Papa?" Tanya Leo bingung.
"Kau dan Shafira. Apa kalian sudah baik-baik saja sekarang?"
Leo terdiam dan menunduk. "Aku sudah bisa menerimanya , Pa, meskipun itu terasa sangat berat. Kalau Shasa..." Leo menggantung kata-katanya. "Aku rasa dia berusaha menahan kesedihannya di setiap waktu, terutama saat ada aku di sisinya. Itulah kenapa aku berat meninggalkannya. Aku takut dia mengingatnya saat aku tidak ada."
"Leo, lelaki itu harus berkali-kali lipat lebih kuat daripada perempuan. Karena itulah, kau yang harus mengangkat kesedihannya. Lelaki itu harus berkali-kali lipat lebih cepat daripada perempuan. Karena itulah, kau yang menjadi penentu irama hidup kalian. Kalau kau cepat, dia akan cepat. Kalau kau lambat, dia juga akan lambat. Lelaki itu harus berkali-kali lipat lebih berani daripada perempuan. Karena itulah, kau tidak boleh putus asa dan menyerah. Jika kau menyerah, selesai sudah perjalanan kalian."
Leo menyimak setiap kata dari Komisaris Gusta.
"Hidup itu bukan hanya tentang jantung yang berdetak dan raga yang terlihat. Hidup itu adalah tentang bagaimana kamu bahagia dan menikmati setiap waktu yang kau punya. Karenanya, kehilangan nyawa bukanlah satu-satunya bentuk kematian. Ketika kamu berhenti melangkah dan hanya meratapi masa lalu, itu sama saja kau telah mati."
Leo mencerna kata-kata Komisaris Gusta dengan baik. Wajahnya begitu serius menatap ayahnya. Pertama kalinya dalam hidup Leo, dia mendengar nasehat se-dalam ini dari ayahnya.
__ADS_1
"Ketika kau mengikrarkan diri sebagai suaminya, semua sumbu hidupnya ada padamu. Kau harus dewasa dan bijak. Setiap hal bukan lagi menyangkut kau seorang, tapi itu menyangkut dirimu dan dirinya. Pernikahan ibarat sebuah kapal dan kau adalah nahkodanya. Kau tidak bisa hanya mengikuti arus ombak, tapi kau menentukan tujuanmu mau kemana. Poin pentingnya adalah wanita tidak ditakdirkan untuk menjadi nahkoda kapal itu. Kau akan selalu disebut lebih dulu dan datang lebih dulu daripada istrimu."
"Itu artinya, aku harus melakukan sesuatu untuk Shasa?"
"Bukan hanya untuknya, tetapi juga untukmu. Buang rasa sedih kalian. Ajak istrimu untuk sama-sama melupakannya. Jalani langkah baru yang menuntunmu ke arah yang lebih bahagia."
Leo menatap Komisaris Gusta dengan senyum tipis di wajahnya. Dia begitu nyaman mendengar nasehat dari Komisaris Gusta. Sepertinya mulai hari ini, Leo akan melihat dan memandang Komisaris Gusta sebagai ayahnya. Ayah yang diandalkan oleh anaknya. Ayah yang akan memberikan rasa aman dengan nasehat-nasehatnya yang berharga.
*****
Epilog:
"Shasa, apa kau ingin berbulan madu lagi?" Tanya Nyonya Sofia dengan antusias.
Shasa menatap Nyonya Sofia bingung. "Bulan madu?" Tanya Shasa memastikan.
"Ah... Tidak tidak. Maksud mama, jalan-jalan. Kau ingin melihat tempat dimana Leo dibesarkan, kan?"
"Tempat tinggal mama dan Leo dulu? Di luar negeri?"
"Iya. Kau harus tahu tempat-tempat yang sering Leo datangi, dimana dia bersekolah, tempat makan favoritnya, kau pasti belum pernah melihatnya kan?" Wajah Nyonya Sofia seperti seorang pedagang yang mempromosikan barang dagangannya.
Shasa tersenyum membayangkan kata-kata Nyonya Sofia. "Tentu saja, aku mau, Ma. Tapi... Aku akan melakukannya setelah apa yang aku rencanakan berhasil."
"Memang apa yang sedang kau rencanakan?" Tanya Nyonya Sofia penasaran.
Shasa hanya tersenyum lebar menatap Nyonya Sofia di hadapannya. Belum menjawab satu kata pun, membuat Nyonya Sofia tak sabar menahan rasa ingin tahunya.
*****
bersambung...
__ADS_1