
Leo pulang larut malam. Dia tidak bisa menepati janjinya pada Shasa untuk pulang tepat waktu. Leo bergegas memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya. Namun, Nyonya Sofia yang habis mengambil air minum di dapur melihat Leo dan memanggilnya.
"Leo."
Leo berbalik. "Hai, Ma."
Nyonya Sofia tersenyum dan mendekati Leo. "Kau pulang malam sekali. Sudah makan?"
"Sudah, Ma." Leo menjawab singkat dan berpikir sejenak. "Apa Shasa menungguku?"
Nyonya Sofia tersenyum. "Setiap istri yang baik pasti menunggu suaminya pulang. Tentu saja Shasa menunggumu, tapi tadi mama bilang ke Shasa untuk istirahat saja dan jangan tidur larut malam."
Leo tersenyum tipis. "Aku akan sibuk beberapa hari ke depan. Kemungkinan, aku juga akan pulang larut malam."
"Tidak apa-apa kalau itu konsekuensi pekerjaanmu. Yang penting itu adalah komunikasi. Sesibuk apapun kamu, hubungilah Shasa, beri dia kabar. Walaupun Shasa mengerti betapa sibuknya kamu, tetapi dia juga pasti ingin tetap diperhatikan sama kamu."
Leo mengangguk-angguk, mengisyaratkan kalau dia mengerti kata-kata ibunya.
"Tanyalah padanya, sudah makan belum? Bagaimana kabarnya? Apa yang sedang dia lakukan? Pertanyaan sederhana dan terdengar sepele, tapi wanita pasti suka. Kunci sebuah hubungan adalah komunikasinya."
"Apa papa dulu juga sering bertanya begitu pada mama?"
"Em... Kalau dulu sekali, papamu itu orangnya gengsi. Dia akan berputar-putar dulu menanyakan banyak hal, padahal inti yang ingin dia tahu hanya satu. Walau begitu, mama mengerti kalau papamu itu punya cara tersendiri untuk menunjukkan perhatiannya. Kamu sama papa itu sama sebenarnya. Sedikit berbicara, tetapi banyak berbuat."
Leo tertawa kecil. "Mama selalu saja membela papa." Leo dan Nyonya Sofia tertawa bersama. Tak lama, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
*****
Pagi-pagi buta, Shasa telah bangun lebih dulu daripada Leo. Dia tidak tahu Leo kembali jam berapa semalam, karena Leo tidak membangunkannya sama sekali. Shasa langsung menuju kamar mandi. Setelah mengenakan pakaian lengkap, dia menyiapkan pakaian kerja Leo.
Shasa mencoba keluar kamar. Masih sepi, mungkin karena langit pun masih biru dengan sedikit kemerahan. Shasa berjalan ke arah dapur. Koki rumahnya belum terlihat, begitupun dengan Pak Yo. Shasa berinisiatif membuatkan sarapan untuk Leo. Dia tidak ingin Leo memakan sarapannya di mobil lagi. Dia pun membuatkan makanan yang dia bisa. Sederhana, hanya sepiring telur dadar saja, tapi Shasa harap Leo menyukainya.
Setengah jam kemudian, dua orang koki rumahnya baru saja memasuki dapur. Betapa kagetnya mereka melihat Shasa yang sibuk memasak.
"Nyonya!" Kedua koki itu memberi hormat pada Shasa.
"Hei, kenapa kalian kaget begitu?" Shasa tersenyum kecil.
"Nyonya, apa anda ingin makan sesuatu? Seharusnya anda mengatakan pada kami kalau ingin makan sesuatu." Salah seorang koki jadi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kerjakan saja apa yang ingin kalian kerjakan. Aku hanya membuatkan telur dadar untuk suamiku."
"Apa? Apa Tuan yang menginginkannya?" Salah seorang koki makin terkejut ketika nama Leo disebut.
__ADS_1
"Bukan... Kemarin Leo memakan sarapannya di mobil. Aku tidak ingin dia seperti tidak terurus sampai harus makan di jalan. Jadi, aku membuatkan sarapannya lebih pagi." Jawab Shasa santai.
"Nyonya, kalau begitu kami akan mulai bekerja lebih pagi lagi besok." Kedua koki itu berjanji pada Shasa dengan perasaan gugup tak karuan.
Shasa hanya tersenyum. Dia segera menyelesaikan masakannya dan menatanya di meja. Kedua koki masih begitu canggung dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sementara itu, Leo terbangun dari tidurnya. Dia tidak melihat Shasa di kamar. Leo panik. Dia berteriak-teriak memanggil Shasa. "Sayang! Sayang! Kau dimana?"
"Iya, sayang. Aku disini." Jawab Shasa seraya memasuki kamarnya. Dia berjalan mendekati Leo. "Aku sudah menyiapkan baju kerjamu dan juga sarapanmu. Aku takut kau berangkat pagi lagi hari ini."
Leo menghela napasnya karena lega melihat Shasa. Leo menarik tangan Shasa dan membuatnya duduk di kasur, berhadapan dengan Leo.
"Maaf, aku pulang larut semalam. Aku tidak ingin membangunkanmu, jadi aku segera bersih-bersih dan langsung menyusulmu tidur."
"Aku yang harusnya minta maaf karena tidak menyambutmu pulang."
"Tidak. Kau harus tetap ikut anjuran dokter. Jam istirahatmu, jam tidurmu, jangan sembarangan mengubahnya, apalagi kalau hanya untuk menungguku. Mengerti?"
"Baiklah, baik. Sekarang mandilah. Aku akan menunggumu di meja makan." Shasa beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Kini, Leo sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia segera keluar dari kamar dan menemui istrinya di meja makan. Shasa menyodorkan sepiring telur dadar untuk Leo.
"Makanlah." Kata Shasa sambil tersenyum.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Shasa penasaran.
"Enak, tapi sedikit asin." Jawab Leo tanpa tahu kalau Shasa yang membuatnya.
Wajah Shasa berubah kecewa. "Sepertinya aku memberikan garam terlalu banyak."
"Kau yang membuatnya, sayang?"
Shasa mengangguk dengan ekspresi sedih di wajahnya. "Akhirnya aku tahu kenapa kau tidak membiarkanku memasak."
Leo tertawa kecil. "Bukan begitu, sayang. Aku membayar koki di rumah ini untuk tidak membiarkan tanganmu capek karena memasak. Kau hanya tinggal bilang saja ingin makan apa, biarkan mereka yang membuatnya."
"Bahkan kau sudah punya koki sejak sebelum menikah denganku. Itu artinya kau memang punya standar sendiri dalam makanan yang hanya bisa dibuat oleh kokimu. Dan masakanku tidak sesuai standarmu."
"Alasanku dulu memperkerjakan koki itu karena aku tidak punya waktu untuk memasak sendiri dan lagipula aku tidak bisa memasak. Setelah aku menikah denganmu, tidak pernah aku terpikir untuk memintamu memasak dengan membawa alasan karena kau istriku. Kau cukup jadi istriku yang manis di sisiku dan jangan merepotkan dirimu sendiri untuk hal-hal yang tidak perlu." Leo tersenyum menjelaskannya pada Shasa. "Lagipula, kalau kau ingin mengambil pekerjaan para koki itu, kau akan menambah angka pengangguran di negeri ini." Bisik Leo sambil tertawa.
Wajah Shasa pun perlahan berubah yang semula cemberut menjadi tertawa kecil. "Kau pulang malam lagi hari ini?" Tanya Shasa.
"Aku belum tahu. Aku akan mengabarimu. Mulai sekarang, kita harus bangun komunikasi yang bagus. Kabari aku apapun yang kau lakukan, aku juga akan mengabarimu apapun yang aku lakukan."
__ADS_1
Shasa tersenyum memandang wajah Leo. Dia begitu takjub, kebaikan apa yang dia lakukan di masa lampau sampai bisa mendapatkan suami sempurna seperti ini.
*****
Shasa mendengar suara bising dari taman belakang. Entah ada apa di sana, Shasa pun tidak tahu. Shasa mendekati area taman belakang. Dari jauh, terlihat beberapa orang sedang mengerjakan sesuatu di sana. Shasa yang penasaran bertanya pada salah satu pelayan.
"Kau tahu ada pekerjaan apa di taman belakang?"
"Setahu saya sedang ada renovasi, Nyonya."
"Tuan Gusta yang memerintahkannya? Setahuku itu tempat favoritnya kan?"
"Sepertinya begitu, Nyonya."
Pelayan itu pun meninggalkan Shasa yang masih berdiri memandangi taman belakang. Setelah selesai menerka-nerka sendiri, Shasa pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Ah... Lita ke mana ya? Kenapa belum datang?" Shasa bergumam sendiri sambil berjalan ke kamarnya.
Yang ditunggu-tunggu ternyata sudah sampai di rumah Keluarga Gusta, tetapi dicegat saat memasuki pintu masuk. Niko mengajak Lita untuk berbicara sebentar. Mereka masuk ke sebuah ruangan kerja yang biasa dipakai Niko.
"Lita, kau belum lupa dengan apa-apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan untuk anggota Keluarga Gusta kan?" Tanya Niko dingin.
Lita tidak menjawab Niko dan hanya menatapnya datar.
Niko menjajarkan beberapa foto Leo dan Shasa saat di luar negeri. Di foto itu terlihat mereka berada di halte bus, saat menaiki bus umum, dan saat mereka berada di taman terbuka. Lita cukup kaget melihat foto-foto itu, tetapi dia sembunyikan di wajah datarnya.
"Aku membeli foto-foto ini dari reporter amatir di luar negeri. Meskipun Komisaris Gusta tidak memerintahkanku untuk mengirim pengawal ke sana karena ingin memberi kebebasan untuk mereka berlibur, tapi untung saja aku menghubungi semua orang yang aku kenal di negara itu untuk mengawasi kalian."
Lita mendengus. "Nyonya Shasa dan Nyonya besar terdahulu yang aku urus, benar-benar dua orang yang berbeda. Nyonya Shasa punya kehidupan yang bebas sebelumnya. Selain itu, kau harus tahu betapa Nyonya Shasa pandai sekali merayu Presdir."
"Tapi kau bisa mengingatkannya kan? Mereka harus tahu konsekuensi apa yang akan mereka hadapi."
"Kau tidak pernah menolak kan, apapun yang Komisaris Gusta perintahkan padamu? Begitu juga denganku. Jika Presdir Leo memerintahkannya, aku dan Haris tidak punya pilihan lain selain menurutinya."
"Kalau begitu, sama saja kau memintaku untuk terus mengirim pengawal ke mana pun Nyonya Shasa pergi."
"Aku rasa tidak perlu. Presdir Leo juga mengirimkan pengawal untuk Nyonya. Terakhir kali kami pergi ke rumah baca, Nyonya sudah marah sekali karena banyak pengawal mengikutinya."
"Komisaris Gusta yang memerintahkannya padaku. Karena Presdir Leo sudah lama tinggal di luar negeri, dia masih perlu adaptasi untuk menjaga keamanannya sendiri di sini. Terlebih lagi, sekarang ada Nyonya Shasa."
Lita tersenyum getir. "Ironisnya adalah kelemahan Keluarga Gusta yang begitu menakjubkan, Niko. Komisaris Gusta sangat lemah terhadap istri dan anak tunggalnya. Anak tunggalnya lemah terhadap istri yang sangat dicintainya. Kesimpulannya, kelemahan terbesar keluarga ini terletak pada wanita-wanita yang berjaya di hati Komisaris dan Presdir, Nyonya Sofia dan Nyonya Shasa."
*****
__ADS_1
bersambung...