Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Kamar Baru


__ADS_3

Leo dan Shasa sedang sarapan bersama. Hari ini Leo akan berangkat ke kantor seperti biasa, sedangkan Shasa akan mulai menikmati cutinya. Entah ini akan jadi cuti yang menyenangkan atau malah sebaliknya.


"Nanti Lita akan kesini menemanimu." Kata Leo sambil menyantap sarapannya.


Shasa mengangguk-angguk dengan makanan yang masih dikunyah di mulutnya. "Nanti siang aku akan bertemu mama. Mungkin aku akan langsung membawa koper-koper pakaian kita kesana."


"Baiklah. Apa sepulang kantor nanti aku langsung ke rumah saja atau ke apartemen lagi?"


"Em... Mungkin kau bisa langsung ke rumah. Nanti aku akan mengabarimu."


Setelah sarapan berakhir, Leo langsung berangkat menuju kantor dengan asisten Haris. Tak lama, Lita tiba di apartemen. Dia langsung membantu Shasa membereskan pakaiannya bersama beberapa pelayan lain.


"Lita, bagaimana dengan pelayan-pelayan di rumah ini? Apakah mereka diberhentikan?" Shasa berbisik agar pelayan yang membantunya tidak mendengar.


"Tidak, Nona. Semua pelayan disini termasuk Pak Yo akan ikut bersama anda."


"Wah... Pelayanan disana sudah banyak sekali. Apalagi ditambah dengan pelayan disini." Shasa mendecak kagum.


"Masing-masing pelayan sudah punya tugas untuk melayani siapa. Meskipun pelayan disana banyak, pasti mereka sudah punya tugas melayani Komisaris Gusta dan Nyonya. Pelayan yang dibawa dari sini, akan melayani anda dan Presdir Leo."


Shasa mengangguk pelan untuk mengisyaratkan kalau dia mengerti penjelasan Lita. "Apa kau juga akan tetap bersamaku, Lita?"


"Tentu saja, Nona. Komisaris Gusta telah menunjukku untuk menjadi asisten anda. Mulai sekarang aku tidak hanya menjadi supir. Aku akan mengatur semua kegiatan anda, dengan siapa anda bertemu, makanan anda, sampai tempat-tempat yang akan anda datangi."


Shasa membelalakkan matanya sambil beberapa kali berkedip. "Hahahaha... Lita kenapa kau serius sekali menjawab pertanyaanku." Shasa menganggap Lita terlalu serius membahas ini. "Em... Lita, apa aku masih boleh pergi ke taman hiburan?" Shasa mencoba mengetes Lita.


"Jika anda ingin kesana, saya akan segera mengosongkan taman hiburan sehingga anda bisa menikmatinya dengan puas tanpa ada banyak orang."


"Ish... Tidak asyik sekali. Tidak menyenangkan jika aku sendirian disana."

__ADS_1


"Aku akan menemani anda, Nona. Komisaris Gusta tidak memperbolehkan anda bertemu banyak orang di ruang terbuka. Begitulah salah satu aturannya."


"Bahkan aku pernah berdua saja dengan Leo pergi ke taman hiburan. Tidak ada satupun yang melarangku." Shasa membela diri.


Lita tersenyum tipis. "Anda bahkan naik bus umum dan kereta bawah tanah bersama Tuan Leo, kan? Komisaris Gusta mengetahuinya, dia sendiri yang memberitahuku. Dia mengirim banyak pengawal untuk mengikuti anda dan Tuan Leo saat itu. Mungkin anda tidak mengetahuinya. Keamanan anda dan Tuan Leo adalah keamanan Keluarga Gusta juga."


Shasa belum bisa mempercayai seketat itu keamanan Keluarga Gusta.


"Anda tidak boleh meremehkan Komisaris Gusta, Nona." Lita tersenyum pada Shasa yang masih mencerna obrolan dengan asistennya ini.


'Komisaris Gusta benar-benar diluar dugaanku.' bisik Shasa dalam hati.


*****


Shasa memasuki rumah Keluarga Gusta dengan mobilnya. Dia disambut oleh kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya. Koper-koper yang dibawanya, segera diturunkan oleh pelayan di rumah itu. Shasa masuk ke dalam rumah dan menemui Nyonya Sofia.


"Shasa... Mama sudah tunggu-tunggu dari tadi." Nyonya Sofia menyambutnya dengan hangat.


Nyonya Sofia mengerutkan dahinya. "Buat apa? Aku sudah menyiapkan baju-baju untukmu dan Leo."


'Hah?! Jadi Leo ini sama seperti mamanya yang selalu mengambil keputusan sendiri.' batin Shasa.


"Ayo, mama antar ke kamarmu dan Leo." Nyonya Sofia menarik lengan Shasa membawanya menyeberangi rumah utama dan menuju ke paviliun yang berada di sebelah kanan rumah itu. Rumah Keluarga Gusta memang benar-benar seperti istana. Shasa merasa sedang berjalan di sebuah istana mewah.


"Ini dia kamarmu dan Leo." Nyonya Sofia dan Shasa berhenti di depan sebuah pintu besar yang megah. Bukan seperti pintu sebuah kamar. Tapi lebih seperti pintu sebuah ballroom besar. Pelayan yang mengikuti mereka di belakang membuka pintu besar itu.


Ta-da! Astaga, Shasa melihat kamarnya seperti sebuah lapangan bola.


"Kau suka?" Nyonya Sofia bertanya pada Shasa. Tapi Shasa masih menatap kamarnya tak percaya. "Aku memilihkan kamar ini karena punya pemandangan yang indah." Nyonya Sofia membawa Shasa melangkah masuk.

__ADS_1


Di dalam kamar itu ada sebuah ruangan yang berisi sofa dan meja kecil di bagian depan. Di bagian tengah, terdapat ranjang yang besar dan mewah. Ada sebuah tv besar di sana, juga sebuah penghangat ruangan serta sofa panjang di bagian depan ranjang. Dan... Ada foto menggantung begitu besar. Itu adalah foto pernikahan yang pernah dia ambil bersama Leo waktu di apartemen.


Nyonya Sofia membawanya melihat kamar mandi dengan bathub besar yang bisa muat untuk dua sampai tiga orang. Luas kamar mandinya saja bisa jadi tempat ruang senam. Kemudian ada sebuah ruangan lagi yang tembus dari kamar mandi. Itu adalah ruangan kloset mereka. Baju-baju sudah menggantung dan tertata rapi disana. Ada banyak sepatu dan juga tas tertata di rak-rak kaca.


"Ini yang aku maksud. Kau tidak perlu membawa baju. Aku sudah menyiapkannya." Nyonya Sofia memperlihatkan baju-baju untuk Shasa. "Nanti akan ada beberapa pelayan yang membantumu menyiapkan pakaian setiap harinya."


Belum selesai Shasa mengagumi kamarnya, Nyonya Sofia membawanya ke arah balkon kamar. Pemandangannya benar-benar indah. Ada hamparan tanaman hijau dan sungai kecil, menambah kenyamanan kamar itu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau suka tidak?" Nyonya Sofia bertanya lagi.


"Aku suka sekali Ma. Kamar ini benar-benar luar biasa. Tapi..."


"Tapi?"


"Leo menyukai ruang baca khusus di kamarnya. Ada beberapa rak buku, kursi santai, dan atap kaca sehingga dia bisa memandangi langit malam saat membaca. Aku rasa Leo akan mulai membaca di ruangan lain." Shasa tersenyum.


Nyonya Sofia langsung menoleh ke pelayan di belakangnya dan berbicara pada mereka. "Buatkan ruang baca khusus disini sesuai apa yang dibilang Nona tadi. Pastikan pekerjaan itu selesai sebelum Leo pulang."


Duarrr. Shasa jadi menyesal mengatakannya. Pelayanan itu pasti kebingungan sekarang.


"Shasa, hari ini aku sudah memanggil penata rambut untuk mengubah penampilanmu. Rambut panjangmu ini memang bagus, tapi akan lebih elegan kalau kita memangkasnya sedikit."


"Begitu ya Ma? Em... Baiklah."


Mereka melangkah keluar kamar.


"Mulai hari ini, aku akan memanggil ahli spa dan perawatan tubuh untuk merawatmu. Kau tidak perlu repot-repot pergi keluar. Kita akan melakukan semuanya dari rumah."


'Pantas saja rumah ini harus dibuat se-nyaman mungkin. Mereka melakukan semuanya di rumah. Sepertinya aku akan terkurung disini.' batin Shasa menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2