
Selepas pemeriksaan usai, Shasa dan Leo berjalan keluar rumah sakit. Leo merangkul pinggang Shasa dan memperhatikan langkahnya dengan hati-hati.
“Sayang, kita pulang pakai mobilku saja ya?” pinta Shasa pada Leo.
“Kenapa memangnya?” Leo bertanya balik.
“Tidak apa-apa. Biarkanlah asisten Haris beristirahat. Dia pasti lelah mengurusmu seharian. Kita pulang bersama Lita dan Niko saja.” Rengek Shasa.
Leo mengernyitkan matanya. Dia mencurigai Shasa telah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya. “Apa yang kau rencanakan?”
“Hahahaha… maksudmu apa sih, sayang? Aku tidak merencanakan apa-apa. Sungguh.”
Leo menghela napasnya. Lalu, dia berbalik memanggil asisten Haris. “Haris, kau langsung pulang saja. Aku akan kembali bersama Niko dan Lita.”
“Baik, Tuan. Kalau anda membutuhkan apa-apa, langsung hubungi aku saja.” Asisten Haris memberi hormat sebelum meninggalkan Leo dan Shasa.
Kini, Shasa dan Leo sudah berada di mobilnya. Niko dan Lita pun sudah mengambil posisinya di mobil itu sama seperti waktu berangkat.
Di tengah perjalanan mereka, Shasa mulai meminta hal lain lagi.
“Sayang, aku ingin makan mie rebus dulu. Kita mampir sebentar ya?” ucap Shasa.
“Lita, katakan pada koki di rumah untuk menyiapkan mie rebus.” Tak menjawab pertanyaan Shasa, Leo langsung memerintah Lita.
“Apa? Tidak mau. Aku mau makan mie rebus di tempat biasa aku makan. Tempatnya tidak jauh dari apartemenku dulu.” Shasa merengek manja.
“Sayang, akan lebih aman kalau kita makan di rumah. Oke?” tegas Leo.
Shasa cemberut. Dia mulai bersandiwara agar terlihat menyedihkan.
“Jangan tunjukkan wajahmu seperti itu.” Gerutu Leo.
“Aku hanya ingin makan mie rebus di tempat itu. Kalau kau tidak mengijinkannya, kau tidak perlu menyuruh koki di rumah untuk membuatnya. Aku tidak akan memakannya satu sendok pun.” Shasa mulai mengacuhkan Leo. Dia menggeser tubuhnya menjauh. Matanya pun hanya menatap ke luar jendela.
Leo mendengus dan memejamkan matanya sejenak. “Baiklah… Niko, kita ke tempat kedai mie sebentar.” Ucap Leo.
“Baik, Tuan.” Niko hanya bisa menurutinya. ‘Tuh kan. Aku sudah bisa menebak, kalau sudah berdebat begini, siapa yang akan jadi pemenangnya.’ Batin Niko.
__ADS_1
Mereka pun bergerak menuju kawasan apartemen lama Shasa. Tak jauh, ada sebuah kedai mie sederhana. Mobilnya diparkir tepat di depan kedai itu. Beberapa mobil pengawal pun berhenti di sekitar kedai, memantau kondisi sekelilingnya dan berjaga.
Leo dan Shasa turun dari mobil. Keduanya berjalan memasuki kedai itu. Menyadari Lita dan Niko belum mengikutinya, Shasa pun berbalik.
“Kenapa kalian diam saja? Ayo ikut!” Shasa mengajak Lita dan Niko untuk ikut makan mie bersamanya.
Kini, keempat orang itu telah duduk di kursi, menunggu mie mereka disajikan.
“Dulu, aku suka sekali makan di sini. Rasanya luar biasa, harganya murah, pemilik kedainya pun ramah.” Shasa mengenang masa-masa dimana dia sering ke kedai ini.
“Sepertinya pemilik kedainya sudah mengenalimu. Tapi, aku lihat dia cukup terkejut melihat perut besarmu tadi.” Leo menanggapi Shasa.
“Hahahaha… mungkin karena dia tidak tahu kalau aku sudah menikah. Kau kan tidak pernah aku ajak makan di sini.”
“Apa kau pernah mengajak orang lain makan di sini?” tanya Leo curiga.
“Hah?” Shasa tersentak dengan pertanyaan Leo. Dulu dia sering makan di sini bersama Dion. Tapi kan, itu masa lalu. Shasa tidak ingin membahasnya. “Hahahaha… sayang, jangan melihatku seperti itu. Lita, apa kau juga pernah makan mie di kedai seperti ini?” Shasa memilih untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Lita lah yang menjadi sasarannya.
“Pernah, Nyonya. Tapi itu sudah lama sekali. Semenjak aku sibuk dengan pekerjaanku, aku tidak punya waktu untuk bersantai-santai makan di luar.” Jawab Lita.
“Ah… kau bekerja dengan keras sekali, Lita. Aku jadi ingin sering-sering mengajakmu makan di luar, tetapi rasanya sulit karena perut besarku ini. Bagaimana kalau Niko saja yang menemanimu?” tanya Shasa antusias.
“Hei, kenapa begitu? Sekali-kali kau perlu mencoba makanan di luar. Pasti bosan makan masakan rumah terus.” Shasa mencolek-colek lengan Leo di sampingnya, berusaha mengisyaratkan kalau dia butuh bantuan Leo.
“Niko, pergilah makan bersama Lita akhir pekan ini. Aku akan minta Haris menyiapkan tempatnya. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku untuk kalian yang sudah menjaga Shasa.” Leo menyadari kalau kata-kata ini yang diharapkan Shasa.
“Kalau begitu, anda juga bisa menyuruh Haris untuk ikut makan bersama kami, Tuan.” Lita mencari alasan lain agar dia tidak hanya makan berdua dengan Niko.
“Tidak perlu. Aku akan memberi waktu libur untuk Haris. Aku rasa itu hadiah yang cocok untuknya.” Balas Leo.
“Niko, kau tidak keberatan kan?” Shasa bertanya dengan nada manja. Leo menatap Shasa tidak suka dengan caranya bertanya pada Niko.
“Sayang, Niko sangat tahu pada siapa dia harus patuh.” Leo langsung menunjukkan sifat posesifnya dengan merangkul Shasa.
“Jika Tuan memerintahkannya, dengan senang hati akan ku terima.” jawab Niko.
Seketika, wajah Shasa langsung sumringah. Dia seperti baru saja memenangkan undian berhadiah yang tak disangka-sangka.
__ADS_1
Lita menoleh ke Niko. Wajah dinginnya sangat menusuk menatap Niko di sampingnya. ‘Sepertinya, Niko ingin mengajakku perang ya?’ tanya Lita dalam hati.
*****
“Gusta! Gusta!” Nyonya Sofia berjalan tergesa-gesa ke ruangan Komisaris Gusta.
“Ada apa, Sofia?” tanya Komisaris Gusta heran.
“Aku baru saja membaca salinan pemeriksaan Shasa hari ini.” Ucap Nyonya Sofia dengan wajah berbinar-binar. “Kau akan mendapat cucu laki-laki, Gusta.”
Kini, wajah berbinar-binar itu menular ke Komisaris Gusta. “Beruntungnya aku. Sejak awal dia hamil, aku sudah membeli beberapa perusahaan. Perkiraanku tidak meleset. Cucu lelaki pertama yang akan mewarisi apa yang sudah aku siapkan sejauh ini.” Komisaris Gusta sangat puas mendengar berita baik ini.
“Gusta, aku akan siapkan kamar bayi di rumah ini. Aku akan buat kamar bernuansa biru. Aku sempat bingung harus membuat kamar dengan warna apa karena belum tahu apakah bayinya lelaki atau perempuan. Tapi, sekarang aku sudah terbayang desainnya.”
“Jangankan kamar bayi, kau ingin menyiapkan rumah berwarna biru pun aku setuju.”
“Aku akan membeli beberapa perlengkapan bayi mulai hari ini. Kau tidak ingin menemaniku?” tanya Nyonya Sofia.
“Buat apa repot-repot. Beli saja tokonya, minta mereka membawa semua yang mereka punya ke sini.”
Kedua calon nenek dan kakek yang sangat tak sabar menyambut cucu pertamanya. Keduanya berlomba-lomba menyiapkan yang terbaik untuk cucunya. Bahkan, Leo dan Shasa pun tidak dilibatkan, padahal merekalah orang tuanya. Kasihan, hahahaha.
*****
“Niko, kemari.” Lita memanggil Niko yang baru saja ingin beranjak masuk ke kamarnya. Niko berdiri tepat di hadapan Lita. “Kenapa kau pasrah seperti itu saat Presdir Leo memerintahkanmu?” tanya Lita sedikit kesal.
“Menurutmu, bagaimana caraku menolaknya?” Niko balik bertanya.
Sebenarnya, Lita pun tidak tahu cara menolak perintah Leo. Namun, Lita berharap setidaknya Niko bisa mecari alasan yang pas untuk menghindarinya. Alih-alih menghindari, Niko malah langsung menyetujui perintah Leo.
“Kenapa sih kau mati-matian menghindariku?” Niko menyeringai.
Lita menatap mata Niko lekat. “Kau pikir mudah kembali ke masa lalu?” tanya Lita sinis.
“Hahahaha… benar dugaanku. Kau belum melupakan aku ternyata.” Niko tersenyum tipis, menatap Lita yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
*****
__ADS_1
bersambung…