
Hari ini rumah Keluarga Gusta penuh dengan kiriman bunga. Dari ruang tamu seketika tercium wangi bermacam-macam bunga. Shasa memandangi sekeliling ruang tamu itu dengan heran. Dia tidak tahu ada perayaan apa sampai-sampai kurir pengantar bunga tak henti berdatangan.
Seorang pelayan baru saja menerima satu lagi buket bunga cantik yang berdiri di sebuah tiang. Pelayan itu meletakkan sejajar dengan buket yang lainnya.
"Mbak, ini ada acara apa?" Tanya Shasa heran pada pelayan itu.
"Hari ini ulang tahun Tuan Gusta, Nyonya. Biasanya kolega kerja dan teman-temannya mengirimkan bunga sebagai tanda ucapan selamat pada Tuan."
'Apa?! Hanya aku yang tidak tahu kalau hari ini ulang tahun papa? Kenapa Leo tidak memberitahuku? Atau jangan-jangan dia tidak ingat?' batin Shasa jengkel.
"Ah, baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku." Balas Shasa tersenyum.
Shasa langsung meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya. Dia mencari ponsel untuk menghubungi Leo.
"Sayang, kenapa kau tidak memberitahuku kalau papa ulang tahun hari ini? Kau jahat sekali. Aku belum mengucapkan apapun pada papa, apalagi menyiapkan hadiah untuknya." Shasa sudah menyerocos tanpa jeda.
"Sayang, tenang. Kita bisa mengucapkannya nanti saat perayaan ulang tahun papa." Jawab Leo.
"Apa? Sekarang aku semakin terlihat bodoh karena tidak tahu akan ada perayaan ulang tahun." Shasa kesal.
"Sayang, acaranya juga dadakan. Aku juga baru tahu tadi pagi dari mama. Biasanya setiap ulang tahun, papa akan datang ke tempat tinggalku dan mama di luar negeri. Tapi kali ini, mama menyiapkan pesta ulang tahunnya." Jelas Leo pada Shasa.
"Lalu, kenapa mama tidak memberitahuku?"
Belum sampai Leo menjawab pertanyaan Shasa, bel di kamarnya berbunyi. Leo juga berhenti sejenak karena mendengar bel itu.
"Aku belum selesai berbicara denganmu. Kita lanjutkan nanti. Jangan coba-coba melarikan diri!" Ucap Shasa kesal, dengan nada mengancam pula. Shasa mematikan sambungan teleponnya dan berjalan ke arah pintu kamar.
"Mama?"
"Ssstt." Mama langsung menarik Shasa masuk ke dalam kamar.
"Kenapa mama sembunyi-sembunyi begitu?" Tanya Shasa heran.
"Malam ini akan ada pesta ulang tahun Gusta. Aku membawakanmu gaun." Nyonya Sofia tersenyum sambil mengangkat gaun pesta di tangannya.
Shasa tersenyum tipis. "Ma, kenapa mama tidak memberitahuku dari kemarin-kemarin kalau papa hari ini ulang tahun?"
__ADS_1
"Mama hampir melupakan tanggal ulang tahunnya. Tapi, kemarin tiba-tiba saja teringat, makanya mama langsung mengurus pesta dan tidak sempat memberitahumu. Tadi pagi, kau malah tidak berhenti mengobrol dengan Gusta. Aku tidak mungkin memberitahumu saat bersamanya, kan?" Nyonya Sofia menjelaskan dengan antusias.
'Hahahaha... Aku mengerti. Mama hampir lupa tanggal ulang tahun papa dan bahkan Leo tidak mengingatnya kalau mama tidak memberitahu. Mereka ini lucu sekali.' batin Shasa.
*****
Leo pulang lebih cepat dari biasanya. Dia bergegas menuju paviliunnya untuk menemui Shasa. Shasa sedang berada di dapur bersama beberapa koki. Dia menikmati semangkok es krim dengan topping buah di atasnya.
"Sayang!" Leo berjalan ke arah Shasa.
Semua pelayan di dapur memberi hormat pada Leo dan meninggalkan dapur untuk membiarkan Leo dan Shasa berbicara dengan leluasa. Shasa bingung dengan pelayan-pelayan yang selalu menghindar saat ada Leo.
"Kau lihat tidak? Sepertinya pelayan-pelayan di rumah ini selalu menghindar setiap kau datang." Shasa menggoda Leo.
"Mereka menghormatiku, bukan menghindariku." Jawab Leo.
Shasa mendengus. "Kau mau?" Shasa menyodorkan sesendok es krim ke Leo.
Leo menyambut suapan es krim dari Shasa. Dengan ekspresi datar, Leo masih menatap Shasa.
"Kau tahu kenapa aku pulang cepat?" Tanya Leo.
"Salah."
Shasa mengalihkan pandangannya ke Leo.
"Kau bilang pembicaraan kita belum selesai."
"Hahahahaha... Tidak. Sudah selesai." Jawab Shasa dengan tawa geli. "Lebih baik kita pikirkan saja hadiah kita untuk papa. Menurutmu, papa suka barang apa?"
Leo kadang tidak mengerti dengan perubahan suasana hati Shasa yang begitu cepat. "Aku pikir kau akan memarahiku."
"Untuk apa?"
"Karena tidak memberitahumu kalau hari ini ulang tahun papa. Kau sampai mengancamku tadi."
"Sudah aku maklumi, karena kau juga sebenarnya tidak ingat kan."
__ADS_1
Leo tersenyum tipis. "Aku sudah menyiapkan hadiah untuk papa."
Shasa membelalakkan matanya. "Kau sudah menyiapkannya dan tidak memberitahuku?" Tanya Shasa kesal.
"Sini, ikut aku." Leo menggandeng tangan Shasa dan membawanya ke sebuah ruangan di paviliunnya.
Mereka berhenti di depan sebuah bingkai besar sekali yang ditutupi kain berwarna putih. Leo perlahan membuka kain penutup itu.
"Wah..." Shasa terkejut kagum melihat apa yang terpampang di hadapannya.
Sebuah lukisan di bingkai besar berwarna emas. Shasa ingat betul kapan gambar ini diambil, yaitu saat pesta pernikahannya dengan Leo. Lukisan itu menggambarkan Komisaris Gusta, Nyonya Sofia, Leo, dan Shasa tertata rapi sebagai sebuah lukisan foto keluarga. Keempat orang di dalam lukisan itu tersenyum bahagia, tampak seperti sebuah keluarga yang harmonis.
"Aku menghadiahi papa sebuah keluarga yang utuh, tidak terpecah-pecah apalagi terpisah. Ada papa, mama, aku, dan kamu. Kau lihat raut wajah semua orang di lukisan ini. Semua tampak bahagia." Leo menatap ke arah Shasa yang seketika mata keduanya bertemu. "Aku ingin papa mengingat bahwa sejak hari itu, papa memiliki semua kebahagiaan yang dia impikan. Aku tidak pernah memberikan hadiah pada papa sejak dulu. Tapi hari ini, aku harap akan menjadi hadiah yang sempurna untuknya."
Shasa mendekati Leo dan menyentuh kedua pipinya lembut. "Kehadiranmu disini, kehadiran mamamu adalah hadiah yang sempurna, sayang."
"Kau juga." Leo mencium bibir Shasa dengan lembut. Betapa bersyukurnya mereka memiliki satu sama lain. Keluarga yang lengkap, benar-benar sebuah hadiah yang tak ada bandingan harganya dibandingkan apapun.
*****
Pesta ulang tahun Komisaris Gusta begitu mewah dan meriah. Para tamu undangan yang datang, semuanya berpenampilan glamor tanpa cela sedikit pun. Semua orang saling bercengkerama, bergantian menyalami Komisaris Gusta yang berdiri didampingi istri kesayangannya. Komisaris Gusta masih sangat terkejut dengan pesta ini, bahkan semua teman-temannya juga turut hadir.
Cukup banyak wajah yang dikenali Shasa. Tidak seperti saat pertama kali, dia merasa semua orang ini seperti orang asing. Leo juga tidak meninggalkan Shasa sedetik pun, membuat Shasa nyaman selama berada di pesta ini.
Pesta pun dimulai. Prosesi tiup lilin dan pemotongan kue berjalan sangat romantis karena diiringi grup musik klasik dengan berbagai instrumen yang mengeluarkan nada-nada indah. Pembawa acara pesta itu bertanya pada Komisaris Gusta siapa yang akan mendapatkan potongan kue pertama darinya. Komisaris Gusta mengedarkan matanya ke sekeliling aula pesta.
"Aku akan memberikan kue ini untuk kebanggaanku satu-satunya. Leo, kemarilah."
Semua orang bertepuk tangan untuk Leo. Leo menatap Komisaris Gusta dengan senyum hangat. Leo kemudian maju ke depan mendekati Komisaris Gusta. Dia memeluknya erat seperti baru saja menemukan ayahnya.
Shasa terharu melihat Leo yang mulai bisa menerima Komisaris Gusta dan bersikap layaknya seorang anak pada ayahnya. Begitu juga Nyonya Sofia yang terlihat begitu puas melihat berakhirnya gencatan senjata kedua pria di hidupnya ini.
"Aku sudah lama sekali tidak merayakan ulang tahunku dalam sebuah pesta besar seperti ini. Terima kasih untuk istriku yang telah menyiapkannya. Hari ini aku juga senang sekali karena putraku, Leo, memberiku hadiah luar biasa. Tapi, yang lebih luar biasa dibalik itu semua adalah satu orang di dalam anggota keluargaku. Menantuku, Shafira."
Shasa tersenyum bahagia karena Komisaris Gusta menyebut namanya. Semua orang bertepuk tangan untuk Shasa. Shasa maju ke depan menghampiri Komisaris Gusta. Leo menyambutnya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Shasa. Tatapan mata Leo tak berpindah ke titik mana pun, hanya ke Shasa.
Dalam setiap hari bahagia apapun, setiap orang pasti ingin melihat keluarganya lengkap ikut menyaksikan dan merasakan kebahagiannya. Kalau ada hadiah yang dibeli dengan uang bermilyar-milyar yang bisa saja menyilaukan mata, kau mungkin saja begitu senang menerimanya. Tapi, kalau orang-orang yang kau sayangi hadir mengelilingimu dan mendoakan kebahagiaan untukmu, tidak ada harga yang bisa mengukur untuk membayar hadiah itu.
__ADS_1
*****
bersambung...