Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pengawal


__ADS_3

Leo dan Shasa baru saja menyelesaikan percintaan hebatnya selepas pulang dari pesta. Leo tak membiarkan Shasa beristirahat sedikit pun. Leo benar-benar ingin melengkapi seluruh kebahagiaannya hari ini melalui percintaannya dengan Shasa.


"Sayang, kau lelah?" Leo bertanya pada Shasa yang menempel di dadanya. Matanya sayup-sayup terpejam, tetapi dia masih cukup sadar mendengar kata-kata Leo.


"Sayang, setelah pekerjaanku selesai minggu depan, ayo kita pergi berbulan madu lagi."


Shasa mengangguk-anggukan kepalanya di dada Leo, membuat Leo tertawa kecil. "Makanya jangan coba-coba menggodaku kalau kau tidak ingin kelelahan sepanjang malam."


"Aku tidak menggodamu." ucap Shasa lemah sambil memukul pelan dada Leo.


"Kau tersenyum padaku sepanjang perjalanan pulang tadi. Itu sama saja menggodaku."


Shasa mendengus, tak peduli lagi dengan yang dikatakan Leo. Dia hanya ingin tidur!


Leo menarik selimut untuk menutupi tubuh Shasa. Dia juga mengelus-elus punggung Shasa hingga membuatnya tertidur lelap.


Di kamar lain, Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia masih mengobrol panjang.


"Sofia, kau tahu, aku baru saja memberitahu orang-orang tentang kelemahanku. Setelah ini, aku rasa aku bisa menjadi orang yang lebih kaku dari sebelumnya."


"Maksudmu apa, Gusta?"


"Seseorang sepertiku dan Leo, tidak boleh menunjukkan titik lemahnya, karena orang lain akan mengambil kesempatan itu."


"Tidak ada yang akan berani mengacaukanmu ataupun Leo."


"Sofia, seseorang tidak terjatuh karena batu besar di depannya. Seseorang bisa jatuh karena kerikil yang bahkan tidak dia sadari."


"Tapi kau punya orang-orang yang bisa kau andalkan. Mereka akan dengan sangat hati-hati menjagamu dan Leo."


"Kau pikir hanya aku dan Leo saja yang harus dijaga? Justru akan lebih mudah menjatuhkanku dan Leo lewat dirimu dan Shafira."


"Kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu, Gusta. Kau tidak tahu betapa wanita di keluarga ini begitu kuat dan tangguh."


Komisaris Gusta tersenyum tipis. "Jangan benci aku, jika suatu saat aku melakukan sesuatu yang mungkin kalian tidak suka."


*****


Seminggu ini Leo begitu sibuk dengan pekerjaannya. Namun, dia tetap konsisten pulang tepat waktu sehingga masih bisa membagi waktunya dengan Shasa.


Shasa kini hanya punya kegiatan di yayasan. Sisanya, dia banyak mengobrol dengan Nyonya Sofia ataupun bersantai-santai dengan Komisaris Gusta di taman belakang.


Shasa terpikir kalau dia sudah lama sekali tidak bertemu Ibu Putri di rumah baca. Yang biasanya dia berkunjung ke sana sekali dalam dua minggu, sudah dia lewatkan beberapa kali kesempatan untuk bisa ke sana.


Shasa mencoba menghubungi Leo melalui ponselnya. Dia akan meminta ijin Leo untuk datang ke rumah baca hari ini.


"Halo, sayang, kenapa?" Suara Leo terdengar dari seberang sana.


"Sayang, hari ini aku boleh pergi bertemu Ibu Putri? Aku sudah lama sekali tidak ke sana."


"Harus hari ini kah? Aku ingin mengantarmu ke sana, tapi aku tidak bisa."


"Aku akan pergi dengan Lita saja, bagaimana?"


"Berapa lama kau akan di sana?"


"Tidak lama, paling hanya 1-2 jam saja."

__ADS_1


"Baiklah... Aku akan meminta Lita mengantarmu."


Shasa langsung antusias. "Terima kasih, sayang." Shasa pun menutup teleponnya.


Leo yang sedang berada di kantor berpikir sejenak dan langsung menghubungi asisten Haris.


"Haris, Shasa akan pergi ke rumah baca sekarang. Pastikan semua aman untuknya."


"Baik, Tuan." Seolah mengerti, asisten Haris tidak bertanya panjang lebar dan langsung mengerahkan beberapa pengawal ke rumah baca. Mereka dikirim tanpa sepengetahuan Shasa.


Di rumah, Shasa sedang bersiap. Dia beranjak keluar kamarnya dan bertemu Lita yang sudah menunggu sejak tadi. Keduanya langsung menuju ke mobil yang terparkir di depan rumah.


Saat Shasa melenggang santai menuju ke luar, Komisaris Gusta melihat dan memanggilnya.


"Shafira!"


Shasa langsung membalikkan badannya. "Iya, Pa?"


"Kau mau kemana?"


"Aku akan pergi sebentar, Pa."


Komisaris Gusta menengok ke arah belakang Shasa, ingin tahu dia akan pergi dengan siapa.


"Sendirian?"


"Tidak. Aku pergi bersama Lita." Jawab Shasa santai. Tapi kemudian Shasa menyadari tatapan Komisaris Gusta yang akan mencecarnya dengan lebih banyak pertanyaan. "Aku sudah ijin pada Leo. Lagipula, aku hanya sebentar, Pa. Aku kan pergi ke rumah baca yang biasanya aku kunjungi dulu."


"Baiklah. Segera pulang jika sudah selesai."


Shasa pun pergi bersama Lita dengan mobilnya. Jalanan cukup lengang siang ini karena jam makan siang telah usai dan jam pulang kantor masih jauh. Shasa sampai di depan rumah baca. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ini benar-benar rumah baca.


Tampilan rumah baca beda sekali. Jauh lebih cantik dan rapi daripada biasanya. Beberapa bagian sepertinya habis direnovasi. Shasa masuk ke rumah baca sambil memandangi rumah itu dari luar.


Shasa tak menyadari bahwa sudah ada beberapa mobil yang mengepung rumah itu. Ada pengawal yang dikirim Leo, ada juga pengawal yang dikirim Komisaris Gusta. Tempat-tempat yang dikunjungi Shasa cenderung lebih asing dan berbahaya ketimbang tempat-tempat yang didatangi Nyonya Sofia, sehingga Komisaris Gusta mengerahkan lebih banyak pengawal untuk mengikutinya.


Ibu Putri melihat kedatangan Shasa dan menyambutnya dengan ramah. Keduanya saling berpelukan melepas rindu karena sudah lama tak bertemu.


"Kamu sehat, Sha?"


"Sehat, Ibu Putri. Aku hampir tidak mengenali rumah ini. Banyak sekali yang berubah. Apakah ada donatur baru untuk rumah baca ini?"


Ibu Putri mengerutkan dahinya. "Kau tidak tahu?"


"Tahu tentang apa, Bu?" Tanya Shasa penasaran.


"Suamimu yang merenovasi tempat ini."


'Apa? Leo melakukannya tanpa memberitahuku? Kenapa dia senang sekali melakukan semuanya sendiri?' pikir Shasa dalam hati.


"Ibu pikir kamu tahu, Sha. Leo memberitahu Ibu kalau kau sedang masa pemulihan, jadi tidak bisa berkunjung ke sini. Oleh karena itu, dia datang beberapa kali. Lalu, dia mengusulkan untuk merenovasi tempat ini."


Shasa begitu terharu mendengarnya. Dia jadi merindukan Leo tiba-tiba.


"Sepertinya Leo datang ke sini untuk mengusir rasa sedihnya waktu itu. Dia bilang pada Ibu, karena ini tempat favoritmu, dia selalu mengingat keceriaanmu di sini."


Shasa tersenyum mendengar cerita Ibu Putri. Leo sering melakukan hal-hal manis pada Shasa, tapi apa yang dilakukannya sembunyi-sembunyi ini membuat hati Shasa menjadi berdebar.

__ADS_1


Ibu Putri membawa Shasa masuk ke dalam rumah baca. Lita mengikuti Shasa dari belakang. Seperti biasa, Shasa menyapa anak-anak dan bermain sebentar dengan mereka. Anak-anak itu sangat merindukan Shasa yang sudah lama sekali tidak dijumpainya.


Setelah puas melepas rindu, Shasa pamit pulang. Dia ingin sampai rumah lagi sebelum Leo pulang dari kantor. Ibu Putri mengantar Shasa sampai depan teras rumah baca. Mereka berpelukan sebelum berpisah. Shasa melangkah ke luar gerbang berama Lita, namun Shasa sedikit mengernyitkan alis matanya.


"Lita, apa ada penguntit yang mengikuti kita sejak tadi?" Tanya Shasa yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Maksud Nyonya?" Lita sebenarnya tahu apa yang dicurigai Shasa, tapi sebisa mungkin dia menutupinya.


"Lita, mobil-mobil itu kenapa berjajar banyak sekali? Aku hapal daerah ini. Tidak pernah ada mobil berjejeran seperti itu."


Shasa tiba-tiba menatap Lita sambil memicingkan matanya. "Lita, kau pasti tahu sesuatu kan?"


Karena Shasa terus menggali-gali Lita dan mendesaknya, Lita pun menyerah dan memberitahu bahwa itu adalah pengawal-pengawal yang menjaga Shasa.


"Astaga! Sebanyak itu?! Pengawal presiden saja tidak sebanyak ini, Lita." Shasa sedikit menaikkan nada bicaranya.


Lita hanya bisa diam mendengar ocehan Shasa.


"Kumpulkan mereka ke hadapanku sekarang!" Perintah Shasa.


Sekejap mata, para pengawal itu berbaris rapi di hadapan Shasa. Semua menunduk, tidak menatap Shasa sama sekali.


Shasa menggelengkan kepalanya, tak percaya apa yang membuat pengawal sebanyak ini mengikutinya.


"Siapa yang mengirim kalian? Aku ingin tahu." Tanya Shasa tegas. Tapi, semua pengawal itu diam. "Kalian tidak ingin menjawabku?" Shasa agak sedikit memaki.


"Nyonya, sebaiknya kita pulang saja. Tak lama lagi, Presdir Leo akan segera pulang." Lita tahu bahwa dia harus segera menyudahi penghakiman ini.


Shasa menghela napasnya dengan kesal. "Kalian beruntung karena Lita menyadarkanku. Seharusnya aku tidak memaki kalian, tetapi memaki orang yang menyuruh kalian." Shasa meninggalkan para pengawal itu dan masuk ke dalam mobilnya. Shasa tidak tahu saja siapa orang yang menyuruh pengawal-pengawal itu untuk mengikutinya. Dia mungkin bisa memaki Leo, tapi dia tidak akan berani memaki Komisaris Gusta.


*****


Shasa sudah duduk menyilangkan salah satu kakinya dan kedua lengannya juga disilangkan. Dia duduk di sofa kamarnya mengamati pintu kamarnya yang sebentar lagi terbuka.


Jeglek. Pintu kamar terbuka. Leo memasuki kamarnya dan kaget melihat Shasa yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


"Sayang, kamu tidak menyambutku di depan dan malah duduk di sini?" Tanya Leo, masih menebak-nebak Shasa kenapa. Harusnya suasana hatinya menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Ibu Putri, tapi ini malah sebaliknya.


"Kau mengirimiku hadiah tadi?" Tanya Shasa memancing.


Leo menatapnya dan berusaha berpikir. "Hadiah yang mana?"


"Ah... Kau memang memberiku 2 kejutan hari ini. Pertama, kau ternyata merenovasi rumah baca. Terima kasih ya, sayang. Kedua, kau mengirimiku beberapa orang untuk mengikutiku. Kreatif sekali." Shasa menyindir Leo.


Leo tersenyum pada Shasa dan mendekatinya. Dia duduk di samping Shasa dan menarik badan Shasa untuk menghadapnya. "Sayang, itu semua untuk keamananmu. Anggap saja mereka tidak ada. Mereka tidak akan muncul kalau tidak ada yang mengganggumu."


"Aku terlihat seperti tahanan rumah yang sedang berjalan-jalan."


Leo menggelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu, sayang. Kau bukan tahanan rumah. Sebentar lagi aku akan membawamu menikmati udara segar yang kau inginkan."


Shasa sedikit tertarik dengan apa yang dimaksud Leo.


"Ayo, kita jalan-jalan, sambil bulan madu yang kedua." Leo tersenyum nakal menatap Shasa. Seketika senyum Shasa mengembang. Otaknya sudah berputar membayangkan jalan-jalannya nanti.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2