Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Berangkat Bersama


__ADS_3

Hari ini adalah pertama kalinya Shasa berangkat ke kantor dengan Leo. Belum sampai mereka di kantor, sudah ada perdebatan kecil di mobil.


"Asisten Haris, nanti tolong turunkan aku di halte dekat kantor ya." Shasa mencondongkan badannya ke arah asisten Haris yang ada di balik kemudi.


"Hei, kenapa kau malah ingin diturunkan di pinggir jalan? Tidak bisa. Kita masuk kantor bersama." Leo protes.


"Akan heboh kalau aku turun di lobby. Pasti akan jadi bahan omongan. Kenapa aku bisa satu mobil denganmu? Apa hubungannya aku denganmu?"


"Suami-istri." Jawab Leo singkat. Shasa memukul bahu Leo.


"Kenapa kau suka sekali memukulku?" Leo menggerutu sambil mengelus bahunya.


"Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya akan menurukan anda di pintu masuk basement. Hanya ada parkiran VIP di dekat sana, jadi tidak akan banyak orang berlalu lalang." Asisten Haris memberi solusi.


"Kau bisa menggunakan lift VIP juga." Leo menambahkan.


Shasa melirik perlahan dengan tatapan sinis seolah menolak menggunakan lift VIP. Leo melihat wajah sinis Shasa dan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Asisten Haris, apakah ada lift biasa di sekitar sana?"


"Ada nona. Di sisi kanan dari lift VIP, ada lift biasa yang bisa digunakan sampai ke lantai anda."


"Baiklah. Em... Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi berbicara formal seperti itu kepadaku?" Tanya Shasa ke asisten Haris.


"Sudah jelas, karena kau istriku." Leo menimpali. Tapi justru di balas tatapan sinis oleh Shasa.


Asisten Haris menahan ketawa melihat kelakukan sepasang suami istri yang duduk di belakangnya ini. Benar-benar bukan pasangan normal. Asisten Haris menggelengkan kepalanya.


*****


Niko menyerahkan sebuah amplop ke meja Komisaris Gusta. Dia juga membeberkan satu per satu asal usul Shasa. Yang lebih mengejutkan, Niko juga memberitahu bahwa Leo telah menikahi Shasa.


"Apa? Mereka menikah?" Tanya Komisaris Gusta fidak percaya.

__ADS_1


"Benar Tuan."


"Kau jangan sembarangan bicara ya? Tidak mungkin Leo tidak memberitahuku kalau dia menikah."


"Sepertinya mereka menikah secara diam-diam Tuan. Mereka juga hanya menikah di sebuah rumah sakit, disaksikan beberapa orang saja. Asisten Haris pasti mengetahui hal ini. Juga dokter Sam yang terlihat berada di rumah sakit itu pada hari yang sama."


"Rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Ayah dari wanita itu sedang sakit keras dan dirawat si rumah sakit itu."


Komisaris Gusta sedang berpikir. Dia masih tak percaya kalau anaknya sudah menikah tanpa memberitahunya.


'Apakah Sofia tahu tentang hal ini? Ah, aku tidak mungkin memberitahunya duluan. Bisa-bisa dia tahu kalau aku mengirim orang untuk mengawasi Leo.' Komisaris Gusta berpikir sendirian.


"Lalu, apa mereka tinggal bersama?" Tanya Komisaris Gusta lagi.


Niko menangguk pelan. "Wanita itu juga tinggal di apartemen Tuan Leo."


"Baiklah. Pantau terus mereka. Jangan melakukan apapun padanya. Pastikan informasi ini tidak tersebar kemana pun. Aku tidak ingin ada berita yang menyebutkan pewaris XY Group menikah diam-diam."


"Baik, Tuan." Niko memberi hormat dan melangkah keluar dari ruangan Komisaris Gusta.


"Niko." Komisaris Gusta memanggil kembali. Niko menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Atur waktu. Aku akan menemui wanita itu dan jangan sampai Leo tahu."


*****


Malam hari, Leo dan Shasa masing-masing sedang sibuk di kamar. Leo sibuk dengan laptopnya, sedangkan Shasa sedang asyik sendirian bersantai-santai di kursi favorit Leo. Dia memandangi langit malam dari atap kaca dari kursi itu.


Leo mendekati Shasa dan duduk di kursi juga di sisi Shasa menghalagi atap kaca yang sedang dia pandangi.


"Kau lebih suka memandangi atap itu atau aku?" Tanya Leo menggoda.


"Ish, kau ini. Menggangguku saja." Shasa cemberut.

__ADS_1


"Kau serius sekali sampai tidak mendengarku memanggilmu dari tadi."


"Oh ya? Kau memanggilku? Hahahaha maaf ya."


Leo tersenyum tipis.


"Kenapa kau memanggilku?"


"Aku akan berangkat keluar kota besok. Aku ragu apakah harus mengajakmu atau tidak." Leo terlihat serius.


"Pergilah. Aku kan harus bekerja."


"Tapi aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian disini."


"Apa yang kau khawatirkan? Aku akan baik-baik saja." Shasa berbicara santai dan bersandar pada kursi.


"Aku akan mengirim mobil dan supir untukmu. Jangan lagi pulang-pergi kantor dengan skutermu. Apa aku harus mempekerjakan pengawal untukmu ya?" Leo sejenak berpikir.


"Hahahaha... Apa sih! Aku tidak perlu pengawal. Aku ini bukan anak kecil lagi. Kau tidak perlu khawatir. Bekerjalah dengan tenang." Shasa mencoba meyakinkan.


Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Shasa. Dia memandangi mata, hidung, dan bibir Shasa. Dia menatap Shasa dengan begitu lekat. Sedangkan yang dipandangi, jadi gugup tak karuan.


"Tentu saja aku takut merindukanmu. Aku tidak tahu kalau jatuh cinta akan membuatku se-posesif ini." Leo membelai halus pipi Shasa. Dia semakin mendekatkan wajhnya pada Shasa membuat Shasa perlahan memejamkan matanya. Leo tersenyum melihat Shasa dan segera mencium keningnya cukup lama. Shasa kaget dan membuka matanya. 'Hei, apa yang aku pikirkan sampai memejamkan mata tadi?' batin Shasa agak malu.


Leo menyudahi dengan mengecup kening Shasa sekali lagi. Dan pandangannya turun menatap wajah Shasa. Leo mendekap lembut Shasa. Terkejut dengan pelukan Leo, tetapi Shasa juga tidak menolaknya. 'Apa aku sudah jatuh cinta padanya?' Shasa bertanya-tanya pada hatinya.


"Satu hal yang kamu harus ingat. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu. Jadi, jangan coba-coba melarikan diri. Kabari aku jika kau butuh sesuatu. Dan angkat teleponku di dering pertama." Leo seperti sedang menceramahi Shasa dengan perintah-perintahnya.


'Aku tidak tahu cara mengungkapkan bahwa aku mencintaimu. Aku belum pernah melakukannya sepanjang hidupku. Aku hanya melindungi orang yang kusayangi. Itulah ungkapanku.' Leo berbisik dalam hatinya.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2