Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Etika


__ADS_3

Sudah setengah hari Shasa belajar etika. Dia merasa ini begitu membosankan, tetapi tidak dengan Nyonya Sofia yang begitu menyimak semua kata-kata ahli etika yang mengajar di rumah Keluarga Gusta.


Shasa belajar menggunakan sendok, garpu, dan pisau. Yang biasanya Shasa hanya menikmati hidangan makannya, kini dia menjadi begitu kaku karena dia harus mengingat prosedur penggunaan alat makan. Hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup menggunakan alat makan berbeda-beda ukuran. Posisi duduk saat makan, posisi memegang alat makan, posisi saat mengangkat gelas, ternyata serumit itu bagi orang-orang selevel Keluarga Gusta ini.


Shasa makin geleng-geleng kepala saat belajar etika minum teh. Mengaduk teh di dalam cangkir saja, begitu banyak larangannya. Tidak boleh bersuara, harus searah jarum jam mengaduknya, cara memegang cangkir. Aaahhh... Selama ini Shasa tidak memerhatikan se-detil itu, tapi ritual minum tehnya aman-aman saja. Kenapa kenapa kenapa harus ada pelajaran seperti ini sih?! Dan Nyonya Gusta lagi-lagi memerhatikan dengan sangat serius. Shasa yakin ini bukan pertama kalinya Nyonya Sofia belajar etika.


Setelah pelajaran etika yang kelihatannya ringan tetapi menguras keringat itu, Shasa bisa sedikit bersantai di bangku taman ditemani oleh Nyonya Sofia. Udara sejuk di taman itu menjadi hiburan yang menyenangkan bagi Shasa. Aneh memang. Tapi, dia tidak bisa menemukan hiburan lain selain udara segar di rumah itu.


"Shasa." Nyonya Sofia memanggil Shasa spontan. Shasa yang agak sedikit duduk bermalasan, menegakkan punggungnya lagi.


"Iya, Ma."


"Kau tahu, kenapa mama sangat suka pelajaran etika?"


Shasa sedikit menaikkan alisnya meminta lanjutan kata-kata Nyonya Sofia.


"Terlalu banyak orang di dunia ini. Kalau kau hanya mengandalkan apa yang bisa dilihat mata manusia, maka kau akan terlihat sama saja dengan yang lainnya. Tidak ada bedanya." Nyonya Sofia menatap Shasa lembut. "Kelas seseorang tidak ditentukan oleh baju yang dia pakai, rumah yang dia tempati, atau mobil yang dia tumpangi. Kelas seseorang dinilai dari bahasa tubuhnya ketika dia berhadapan dengan orang lain. Menurutmu apa inti pelajaran yang kau dapatkan tadi?"


Shasa terdiam tidak dapat mengatakan inti pelajaran yang dia dapatkan. Dia hanya merasa belajar cara makan, cara minum teh, dan cara bicara yang semuanya terasa rumit.


Nyonya Sofia tersenyum. "Kau pasti berpikir, kenapa mau makan saja repot, mau minum teh saja banyak aturannya, mau bicara saja banyak larangannya. Menurutku, inti pelajaran tadi adalah kita belajar menahan diri. Kau bisa saja memakan apapun hidangan yang ada di meja makan dengan caramu, kau bisa saja minum teh dengan gayamu, atau kau bisa bicara sesukamu. Menurutmu, apa yang akan dipikirkan orang lain? Kau akan terlihat seperti orang kelaparan atau seperti orang yang seumur hidupnya belum pernah minum teh atau kau seperti orang yang selalu merasa bicara benar tanpa tahu kebenarannya. Tahan dirimu. Biarkan orang lain menunjukkan bahasa tubuhnya. Setelah itu, kau bisa menentukan apakah kau harus memperlakukan orang itu dengan berkelas atau tidak."


Shasa masih mencerna kata-kata Nyonya Sofia.


"Komisaris Gusta, selalu mempersilahkan orang lain bicara duluan. Dia ingin tahu seperti apa bobot pembicaraannya. Komisaris Gusta akan memperlakukan orang sebagaimana orang itu memperlakukannya. Jika orang lain serakah, maka dia akan lebih serakah lagi. Jika orang lain jahat, maka dia akan lebih jahat lagi. Jika orang lain baik, dia akan memperlakukannya jauh lebih baik lagi. Mungkin prinsipnya bisa benar atau salah bagi sebagian orang. Tapi yang selalu aku pelajari dari dia adalah bagaimana kau menahan dirimu, bagaimana kau menguasai tindakanmu. Jangan biarkan orang lain yang menguasaimu."


Baru kali ini Shasa mendengar hal tentang Komisaris Gusta. Benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Ternyata seperti ini kepribadian Komisaris Gusta.


"Shasa, suatu saat nanti kau akan bertemu dengan berbagai jenis orang. Bijaklah dalam merespon orang-orang itu. Setiap orang menentukan sendiri kelasnya. Begitu juga denganmu. Pada dasarnya, kau sudah memiliki kelas tersendiri di mata orang-orang saat kau masuk ke dalam Keluarga Gusta. Tapi, apakah orang-orang itu akan mengakui kelasmu, kau sendiri yang menentukannya." Nyonya Sofia mengelus rambut Shasa dengan lembut.

__ADS_1


Entah kenapa hari ini banyak sekali pelajaran yang Shasa dapatkan. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa Leo dibesarkan dulu. Apakah Leo juga mendapat pelajaran seperti ini, Shasa begitu penasaran.


*****


Seperti janji Leo, hari ini dia pulang lebih awal. Dokter Sam akan melakukan pemeriksaan akhir untuk kaki Shasa yang terkilir. Menurut Shasa sendiri, tidak dilakukan pemeriksaan akhir juga tidak apa-apa, karena dia merasa kakinya sudah kembali normal.


Dokter Sam memeriksa dengan teliti dan menggerakkan kaki Shasa ke beberapa arah ditemani perawat khusus yang selalu dibawanya. Leo memperhatikan dengan serius apa-apa saja yang dilakukan dokter Sam.


"Sudah tidak ada masalah. Kaki anda sudah kembali normal. Anda boleh beraktivitas lagi seperti biasa." Dokter Sam telah menyelesaikan pemeriksaannya. Setelah beberapa saat mengobrol dengan Leo, Dokter Sam pamit.


Dokter Sam keluar bersama perawat khusus meninggalkan Leo dan Shasa di kamarnya. Tiba-tiba seseorang memanggilnya berbisik dari luar kamar.


"Sam!" Nyoya Sofia berbisik. Entah apa yang ingin dilakukannya.


Dokter Sam menoleh dan melihat Nyonya Sofia di ujung ruangan. Dia bergerak mendekati Nyonya Sofia.


"Tante Sofia... Kenapa kau berbisik begitu?" Tanya dokter Sam heran.


Mereka duduk di kursi salah satu ruangan di paviliun Leo.


"Tante, apakah tante kurang sehat belakangan ini? Apa yang mau tante tanyakan?" Dokter Sam mencoba menebak mungkin saja Nyonya Sofia ingin memeriksakan kesehatannya.


"Bukan, Sam. Aku ingin tanya padamu. Kau kan dokter khusus Leo dan Shasa saat ini, apakah sudah ada tanda-tanda kabar baik darinya?"


Doiter Sam bingung. "Kabar baik apa ya tante?"


"Shasa, apa sudah ada tanda-tanda hamil?"


Dokter Sam spontan tertawa. Dia tidak bisa lagi menahannya.

__ADS_1


"Tante, apa tante sudah tidak sabar ingin punya cucu?" Tanya dokter Sam.


"Tentu saja, Sam. Memang apalagi yang aku tunggu saat ini."


"Nona Shasa belum pernah memeriksakan perihal kehamilan. Jadi aku rasa belum ada tanda-tanda hamil darinya."


"Em... Apa kau bisa mengatur program kehamilan untuknya?"


"Tante, program kehamilan tentu saja dapat dijalankan. Namun harus dengan sepengetahuan dan persetujuan pasangan yang bersangkutan."


"Tapi kan kau bisa mengatur rekomendasi makanan untuk Shasa. Kau bisa mengirim rekomendasimu padaku. Aku akan memberikannya pada koki rumah ini."


"Hahahaha... Tante, kenapa kau sembunyi-sembunyi begini sih?" Dokter Sam geli sendiri melihat kelakuan Nyonya Sofia.


"Gusta mengatakan padaku untuk tidak membahas hal-hal terkait suami-istri di depan mereka. Dia memintaku untuk membiarkan mereka yang memutuskan." Nyonya Sofia menghela napas. "Tapi aku kan mengenal anakku. Shasa kan wanita pertamanya, aku takut Leo terlalu gengsi atau pasif. Aku juga tidak tahu apa mereka berencana untuk memiliki anak."


"Hahahahaha... Tante ini. Jika sudah waktunya, mereka pasti akan memikirkan perihal anak. Tante tidak perlu khawatir." Dokter Sam mencoba menenangkan. " Ah, tapi aku teringat sesuatu. Leo itu marah sekali kalau aku menyentuh nona Shasa, padahal aku hanya memeriksanya. Dia bahkan mempekerjakan perawat wanita untuk mendampingiku. Jadi kalau nona Shasa sakit, perawat itu yang akan mengurus nona berdasarkan instruksiku."


Nyonya Sofia mengerutkan dahi. "Itu tentu saja karena dia tidak mau kau menyentuh istrinya, Sam." Tanggap Nyonya Sofia cepat.


Dokter Sam menggelengkan kepala pelan. "Aku rasa tidak hanya itu. Dia bilang padaku seperti ini. Sam, jangan sentuh dia seperti itu. Aku pun bahkan belum pernah menyentuhnya." dokter Sam memeragakan kembali gaya bicara Leo saat itu.


Duarrr. Nyonya Sofia terduduk lemas. Dokter Sam jadi ingin tertawa lagi melihatnya.


"Tante, mereka kan menikah tanpa ada pendekatan dulu. Tidak seperti tante dan om Gusta yang berpacaran sebelum menikah. Biarkan mereka melakukan pendekatan dulu." Dokter Sam mengatakan dengan menahan tawanya.


"Sepertinya aku harus mengatur bulan madunya setelah pesta pernikahan nanti." Pikir Nyonya Sofia masih dengan wajah seriusnya.


Nyonya Sofia benar-benar tidak berubah dari dulu. Dia masih saja bergerak lebih agresif untuk hal-hal yang berhubungan dengan Leo, bahkan lebih agresif daripada Komisaris Gusta.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2