Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Makan Siang


__ADS_3

Leo sudah sampai di kantor bersama asisten Haris yang mengikutinya. Asisten Haris mengingatkan Leo bahwa jadwalnya padat hari ini. Leo akan ada beberapa sesi meeting dengan direktur dan manajer operasional.


"Haris, kau tega sekali memberiku jadwal sepadat ini." Leo menyindir asisten Haris sambil mengecek email di tabletnya.


"Maaf, Tuan. Karena beberapa jadwal sudah diundur berkali-kali, jadi saya harus mengalihkannya ke hari lain, salah satunya hari ini."


"Pokoknya tetap jadwalkan aku pulang tepat waktu."


"Baik, Tuan."


"Haris, kirimkan buket bunga ke rumah."


Asisten Haris berpikir sejenak. "Untuk siapa, Tuan?"


"Tentu saja untuk istriku." Leo masih mengotak-atik tabletnya. "Nah, yang seperti ini." Leo menunjuk sebuah gambar buket bunga yang besar dari tabletnya kepada asisten Haris.


"Apakah Nyonya hari ini ulang tahun, Tuan?" Tanya asisten Haris polos.


Leo mengalihkan pandangannya ke asisten Haris dan menatapnya. "Apa kau pikir aku akan di sini kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya?" Leo menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku tidak perlu menunggu hari spesial untuk memberikan bunga padanya."


Asisten Haris tersenyum. Dia seperti melihat Leo yang dulu lagi, yang tergila-gila pada Shasa sampai melakukan hal-hal yang mengejutkan tanpa bisa ditebak Shasa.


"Baiklah, Tuan, akan saya siapkan." Asisten Haris sudah ingin pamit, tapi dia berhenti. "Tuan, kapan Nyonya Shasa akan kembali ke kantor lagi? Sudah lebih dari 2 minggu Nyonya beristirahat di rumah."


Leo mendesah. "Entahlah. Aku masih belum yakin melepasnya pergi ke kantor lagi. Tapi aku akan terlihat jahat kan kalau mengurungnya terus-terusan di rumah? Aku harus membuat keadaan normal lagi, seperti sebelumnya, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku akan berbicara padanya malam ini." Kemudian Leo tiba-tiba memicingkan matanya kepada asisten Haris.


"Tuan, kenapa anda melihatku seperti itu?"


"Sejak kapan kau peduli pada istriku?"


Salah satu sudut bibir asisten Haris berkedut menahan ketawa. 'Tuan, anda benar-benar sudah kembali. Kecemburuan anda yang membabi buta itu sudah menunjukkan kebiasaan tingkah laku anda kalau nama Nyonya Shasa disebut-sebut.' batinnya.


"Maaf, bukan begitu, Tuan. Aku hanya berpikir kalau Nyonya kembali lagi ke kantor, akan lebih mudah bagi anda untuk menemuinya kalau-kalau tiba-tiba anda ingin bertemu."


Leo tersenyum menghina. Asisten Haris menggelengkan kepalanya pelan, tak percaya dengan kelakuan bosnya ini.


*****

__ADS_1


Shasa sudah bersiap di kamarnya. Dia memakai baju formal yang rapi dan sopan. Riasan di wajahnya natural tapi tetap manis dilihat. Pelayan yang membantunya bersiap telah keluar dari kamar Shasa.


"Lita, jangan katakan padanya kalau aku akan ke sana. Aku ingin memberinya kejutan."


"Baik, Nyonya."


Shasa keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan. Mobil dan supirnya telah siap. Shasa masuk ke mobil bersama Lita.


Sepanjang perjalanan, Shasa hanya diam saja. Lita yang duduk di sampingnya jadi menerka-nerka apa yang dipikirkan Shasa. Entah apa yang ingin dilakukannya karena beberapa saat setelah Lita datang tadi, Shasa langsung memintanya untuk mengantar Shasa ke kantor. Bukan untuk bekerja, tetapi untuk menemui Leo.


Lita berpikir tentang isi kepala Shasa. Tadi pagi sudah pasti Shasa sarapan bersama dengan Leo. Dan baru beberapa jam sejak Leo berangkat kerja, Shasa sudah ingin menyusulnya. Entah karena rindu atau apa, Lita pun tidak tahu.


Di lobby kantor XY Group, Shasa disambut dengan hormat oleh petugas di lobby. Shasa tersenyum ramah pada mereka sambil berjalan menuju lift VIP. Tepat saat di lift, Lita mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan.


'Setidaknya, Haris harus tahu kalau Nyonya akan tiba di ruangan Presdir.' batin Shasa.


Ketika sebuah pesan masuk dari Lita berbunyi di ponsel asisten Haris, betapa kagetnya dia hingga langsung berlari ke ruangan Leo. Asisten Haris agak jengkel karena Lita baru memberitahunya setelah sampai di kantor, bahkan mereka sudah di lift menuju ruangan Presdir.


"Kenapa kau tergesa-gesa begitu?" Tanya Leo yang terkejut melihat asisten Haris sudah ada di hadapannya.


"Tuan, maaf. Nyonya Shasa datang ke kantor. Dia sudah menuju ke ruangan anda."


'Sial. Kenapa dia datang di saat begini. Jadwal Presdir pasti berantakan lagi.' gerutu asisten Haris dalam hatinya. Dia segera menyusul ke luar ruangan.


"Sayang!" Leo melihat Shasa di luar ruangan sedang mengobrol kecil dengan sekretarisnya.


Shasa tersenyum melihat Leo. Dia pun mendekat ke titik di mana Leo berdiri.


"Sayang..." Balas Shasa menyapa.


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau ingin datang?"


"Aku ingin memberi kejutan. Apa aku mengganggumu? Tiba-tiba saja aku ingin makan siang denganmu." Jasab Shasa.


'Huh... Aku pikir Shasa kenapa. Ternyata dia hanya ingin makan siang bersamaku.' batin Leo lega. Tadi dia berpikir, Shasa mungkin datang karena ada seuatu yang penting atau darurat.


"Harusnya kau menelponku jika ingin makan siang bersama. Aku akan pulang dan makan siang bersamamu."

__ADS_1


Shasa menggeleng. "Kau pasti repot kalau harus pulang ke rumah. Jadi, aku saja yang ke sini." Shasa tersenyum tak berdosa. Tidak menyadari wajah asisten Haris yang sedang pusing memikirkan jadwal Leo.


'Makan siang di rumah atau makan siang di sini, sama saja, Nyonya. Sama-sama membuat jadwal Presdir berantakan.' batin asisten Haria menyeringai. Dia menatap Lita yang berdiri di belakang Shasa dengan tatapan membunuh.


Leo menggandeng tangan Shasa, membawanya masuk ke dalam ruangan.


"Haris, aku akan makan siang di sini. Siapkan semuanya." Perintah Leo saat masuk ke ruangan.


Asisten Haris mengerti bahwa itu artinya siapkan meja makan di ruangannya, siapkan makanan, dan batalkan semua jadwalnya beberapa jam ke depan. Leo tidak mungkin dan tidak akan menolak kalau Shasa sudah meminta sesuatu.


Di dalam ruangan, Shasa duduk di sofa membaca beberapa majalah, sementara Leo menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Leo baru saja kembali dari rapat. Jadi, dia baru menyentuh dokumennya saat duduk di meja beberapa menit sebelum Shasa datang.


Secepat kilat, asisten Haris, dibantu dengan Lita, menyiapkan meja makan siang untuk Leo dan Shasa. Dia langsung memesan makanan dari salah satu restoran yang biasa jadi tempat makan Leo.


Setelah tiba jam makan siang, Leo menyudahi pekerjaannya dan mendekati Shasa yang bersantai di sofa.


"Sayang, ayo kita makan." Ajak Leo sambil mengulurkan tangannya.


Shasa menyambut tangan Leo dan berjalan ke sebuah meja yang telah dipersiapkan asisten Haris dan Lita dengan begitu rapi. Letaknya di dekat jendela ruangan Leo sehingga mereka bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi di langit biru.


Leo dan Shasa mulai menikmati makanannya. Di tengah-tengah waktu makan, Shasa membuka suara.


"Sayang..." Panggilan Shasa membuat Leo otomatis menoleh padanya. "Setelah aku pikirkan matang-matang, demi kebaikan bersama, sepertinya aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku."


Deg! Leo terkejut mendengar keinginan Shasa itu. Suatu ide yang tidak pernah berani terbesit dalam pikiran Leo selama ini.


*****


Epilog:


Shasa menerima sebuah buket bunga besar dari Leo. Dia begitu senang hingga ssnyum-senyum sendiri memandangi bunga itu.


Selama ini Leo tidak pernah memberinya bunga. Shasa tidak menyangka kalau Leo bisa membaca keinginan Shasa sejak lama. Dia pun langsung memikirkan ide untuk membalas bunga dari Leo.


'Aku akan memberi kejutan padanya di kantor dan makan siang di sana. Sekaligus akan jadi waktu yang tepat juga untuk mengatakan tentang rencanaku.' batin Shasa dengan senyum di wajahnya.


Shasa tidak tahu kalau kehadirannya justru akan membuat asisten Haris bekerja keras mengatur jadwal Leo yang sudah berantakan sejak Shasa keguguran beberapa waktu lalu.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2