
Setelah drama skripsi,juga sidang yang mendebarkan, akhirnya hari ini aku resmi dinyatakan lulus. Tentu saja aku sangat lega dan bahagia. Perjuangan, usaha dan kerja kerasku akhirnya berbuah manis.
Setelah melihat pengumuman di kampus, aku menghubungi Kak Zayn yang menjanjikan untuk berlibur jika aku lulus. Aku menghubungi Kak Zayn langsung yang ternyata sedang berada di bengkel Zayyan.
Dengan nebeng di mobil Nadya, aku mendatangi bengkel yang belum pernah aku kunjungi selama menikah dengan Kak Zayn. Katanya, bengkel itu bersebelahan dengan toko kue Mama yang sekarang dikelola oleh Kak Zea.
Mobil Nadya berhenti tepat di depan bengkel motor yang sangat ramai. Tempatnya sangat besar jika dibandingkan dengan bengkel motor pada umumnya.
“Gila, ini bengkelnya si Zayyan?” tanya Nadya yang juga terkagum-kagum, sama sepertiku.
“Maps-nya emang mengarah ke sini Nad, tuh liat plang-nya ‘Bengkel Elvan’, masa iya kita salah alamat.” Aku menunjuk sebuah papan berwarna biru tua yang disangga dengan kokoh oleh sebuah tiang besi.
“Gila, ini bukan bengkel motor aja segede ini, Ra. Eh, ada bengkel mobilnya juga, Ra.” Nadya menunjuk bangunan sebelah bengkel yang sepertinya memang bengkel mobil.
“Mampir sekalian yuk, Nad!” ajakku sebelum membuka pintu mobil.
“Nggak deh Ra, kapan-kapan aja. Aku ada janji sama pacarku,” kata Nadya.
“Oke, makasih ya, dan hati-hati. Jangan ngebut!” Aku membuka pintu lalu keluar setelah melambaikan tangan pada Nadya.
Aku berjalan menyeberangi jalan raya, karena mobil Nadya berhenti di seberang jalan. Setelah menyeberang, aku tidak menemukan mobil Kak Zayn diparkir.
__ADS_1
Aku meraih ponsel untuk menelepon Kak Zayn. Baru membuka layarnya, seseo
“Dera,” panggil Kak Zea yang muncul dari toko kue.
Aku menghampiri Kak Zea di toko kue, karena matahari yang terik, terasa membakar kulitku. Sangat tidak bagus jika berlama-lama di luar ruangan saat cuaca seperti ini.
“Kak Zayn ke mana ya, Kak?” tanyaku pada Kak Zea.
“Nggak tau, emang Zayn ke sini Ma?” Kak Zea bertanya balik kepada mama mertua yang sedang mengobrol dengan pembelinya.
“Tadi bilang ke mama sih mau benerin mobil. Mungkin di belakang, Ra,” kata Mama.
“Di belakang mana sih Kak?” tanyaku yang belum paham maksud Mama.
“Ini istrinya Zayn?” Pembeli yang tadi mengobrol bersama Mama itu menyentuh pundakku.
“Iya, ini Dera, anak perempuanku,” jawab Mama sambil merangkulku.
“Hai Tante,” sapaku lalu bersalaman dengannya.
“Wah cantik ya, body nya bagus, pantesan kita gagal jadi besan ya Jeng,” kata pembeli itu.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Dina juga cantik kok, tapi cinta memang tidak bisa dipaksa kan Jeng," kata Mama.
"Oh iya, sudah lulus belum sih, jangan menunda hamil. Kalau sudah lulus kuliah langsung program hamil. Masih muda kalau ditunda nanti malah sulit punya anak loh,” kata pembeli itu panjang lebar.
“Maaf tapi kami tidak menunda, hanya saja mungkin kami belum dipercaya.” Rasanya enggan sekali menjawab kata-kata itu.
"Oh, saya kira nunda. Iya jangan ditunda, punya anak itu menyenangkan loh. Saya permisi dulu ya Jeng Marisa." Wanita itu meninggalkan toko kue Mama setelah berpamitan.
"Nggak usah dimasukan ke hati, Ra." Kak Zea menepuk pundakku.
"Iya, Kak. Aku udah biasa kok digituin."
"Sabar, semua ada masanya, yang penting tetap berdoa dan berusaha, selanjutnya pasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa." Mama memelukku. Entah kenapa aku terharu memiliki mertua dan ipar yang baik seperti mereka.
“Ra."
♥️♥️♥️
Nah loh siapa? Cari tahu jawabannya di bab selanjutnya.
__ADS_1
Karena aku doble up. Yee 🥰🥰🥰