Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 39


__ADS_3

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Kak Zayn saat ini. Masalahnya bukan karena aku ragu dengan perasaanku, tapi karena aku ragu dengan perasaan Kak Zayn sebenarnya. Entah dia benar-benar mencintaiku atau tidak, tapi yang jelas aku tidak ingin percaya begitu saja dengan kata-kata manisnya.


"Ra, kamu dengar aku?" Kak Zayn kembali bertanya, lebih baik aku pura-pura tidur saja daripada nanti ditanya-tanya lagi.


Aku mengatur napas dan memejamkan mata, wajahku yang terbenam di dadanya membuatku mudah untuk berpura-pura tidur. Biar saja, aku memang tidak ingin menjawabnya sekarang. Siapa tahu saja besok perasaannya berubah lagi.


"Kamu udah tidur, ya?" Kak Zayn mengecup keningku.  "Walaupun aku belum cinta sama kamu, tapi aku akan berusaha mencintaimu Dera. Semoga cintamu buatku tidak berubah." Aku bisa merasakan Kak Zayn mengecup bibirku.


Jantungku berdebar tidak karuan karena perlakuannya. Semoga kali ini kamu benar-benar tulus, Kak. Aku memang masih mencintaimu.


*


*


*


Pernikahan Kak Dion dan Kak Yumna yang mendadak memang diadakan secara tertutup di rumah Kak Yumna. Hanya anggota keluarga saja yang menghadiri pernikahan mereka, alasannya karena perut Kak Yumna memang sudah terlihat buncit.


Sebenarnya aku sangat menyayangkan kenapa mereka bisa melakukan hubungan yang sejauh itu. Kenapa mereka tidak menikah saja kalau memang sudah sama-sama yakin?


"Dera, apa kabar?" Kak Yumna terlihat canggung saat aku menghampirinya usai mereka melangsungkan akad nikah.

__ADS_1


"Baik Kak, selamat ya untuk pernikahan dan kehamilannya, semoga sehat terus sampai melahirkan," ucapku dengan tulus.


Kak Zayn masih mengekor di belakangku, sepanjang acara dia memang selalu berada di sampingku, tidak mau bergabung dengan para laki-laki, yang akhirnya membuat orang-orang mengejeknya karena tidak mau jauh dariku.


"Terima kasih, Dera."


"Selamat ya, udah jadi suami dan calon ayah buat anak kalian." Kak Zayn menyalami Kak Dion.


"Boleh aku pegang Kak?" Aku benar-benar penasaran dengan perut Kak Yumna. Meskipun belum besar tapi sudah terlihat buncit, bagaimana ya rasanya hamil?


"Boleh kok." Kak Yumna menarik tanganku untuk memegang perutnya, tak lama aku merasa gerakan kecil yang seperti menyikut atau mungkin menendang telapak tanganku.


"Kenapa bisa bergerak begini?" tanyaku heran, aku senang merasakan gerakan makhluk kecil itu di perut Kak Yumna, bukankah itu artinya dia sehat?


"Kak dia gerak-gerak loh," kataku pada Kak Zayn yang masih berdiri di belakangku.


"Nanti kita buat sendiri kalau kamu suka," jawab Kak Zayn yang membuatku menjauhkan tangan dari perut Kak Yumna.


Seminggu setelah menikah, kami memang belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tapi dia mengatakan seolah membuatku hamil adalah hal yang mudah.


"Kita ke sana dulu ya, Kak," pamitku pada Kak Yumna dan Kak Dion.

__ADS_1


Kemudian, aku menarik tangan Kak Zayn untuk meninggalkan pengantin baru itu. Kami berjalan ke luar di halaman depan rumah Kak Yumna.


"Kenapa? Kamu pengen pulang terus buat sekarang? Nanti ya Ra, aku belum yakin sama hati aku," kata Kak Zayn saat kami sampai di dekat mobil Kak Zayn yang terparkir.


"Apaan sih, Kak Zayn angan kepedean deh," jawabku sinis.


"Terus ngapain kamu ajak aku ke sini?" tanya Kak Zayn.


Iya juga ya, kenapa aku ajakin dia ke sini. Ah, gara-gara dia bilang mau buat anak sendiri, kan aku jadi salah tingkah gini.


"Em, ya nggak papa. Jangan ngomongin hal begituan depan umum, malu tau!"


♥️♥️♥️


...Bang Zayn kapan sih kamu ngakunya? Nggak pengen nyusul Oppa Sen sen honeymoon?...


Selamat pagi gaes, happy sunday.


Biarkan mereka berantem berantem dulu ya.


Jangan lupa ritualnya 🥰🥰

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2