
"Apa yang bisa meyakinkan kami untuk menerimamu sebagai pendamping anak kami?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir calon mertua—eh papanya Dara— sukses membuatku gelagapan. Beruntung asisten rumah tangga Dara menyuguhkan teh dan juga biskuit rasa kelapa yang cukup terkenal. Jadi, ada kesempatan untukku memutar otak demi mendapatkan jawaban yang tepat.
"Diminum dulu, Nak Kaisar." Mama Dara menyodorkan minuman itu tepat di depan lututku.
"Makasih, Tante." Aku sengaja meraih gelas yang terasa panas itu sambil mengulur waktu, siapa tahu saja setelah minum teh pikiran cerdasku kembali berfungsi.
Minuman manis itu meluncur membasahi kerongkongan yang membuat jakunku naik turun dengan pelan. Suara decitan pintu yang terbuka membuatku berhenti menelan. Kukembalikan gelas yang tinggal separuh itu ke atas meja.
Dara berjalan mendekat padaku, tapi suara papanya sukses menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Duduk di sini, kamu masih milik papa bukan milik laki-laki itu." Suara bariton itu nyatanya mampu membuatku kesulitan menelan saliva. "Biar dia menjawab dulu!" imbuhnya yang membuatku semakin merasa tercekik.
Setelah diam cukup lama, akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab. Walaupun tidak yakin dengan jawabanku sendiri. "Mungkin saya bukan laki-laki yang Om dan Tante harapkan untuk menjadi suami Dara, tapi saya akan melakukan segala cara agar Dara tetap nyaman berada di samping saya. Saya akan berusaha menjadi suami sebaik mungkin yang saya bisa. Seperti Om dan Tante yang menyanginya tanpa syarat, seperti itulah saya akan berusaha, walau mungkin tidak sesempurna cinta orang tuanya."
Kulihat Dara berkaca-kaca, mamanya juga tersenyum puas, sedangkan papanya hanya menunduk. Kali ini, pertanyaan apa lagi yang akan beliau lontarkan.
"Orang tuamu bagaimana?" tanya Papa Dara setelah mengangkat wajah, beliau menatapku dengan tajam.
"Ayah saya sudah meninggal saat saya SMA, ibu saya seorang janda dua anak, dan saat ini adik saya sedang kuliah di kampus saya dulu karena beasiswa," jawabku dengan sejujur-jujurnya. "Ibu saya menjual kue di pasar, untuk menyekolahkan saya dan adik saya. Saat saya kuliah dan bekerja banting tulang, tiba-tiba Tuhan mengirimkan jawaban dari semua kesulitan saya, dengan mendatangkan Tuan Bos," imbuhku panjang lebar.
Baiklah, jika kali ini beliau menolakku, berarti Dara memang bukan jodohku. Setidaknya, tidak ada yang kututup-tutupi dari mereka.
__ADS_1
"Pa, aku cinta sama Mas Kai, aku nggak peduli kalau harus hidup susah, aku bahagia sama dia, Pa." Dara merengek, menggoyang-goyangkan tangan kekar papanya yang hanya diam bergeming.
"Dara, jangan seperti anak kecil." Mamanya meraih tubuh Dara dan membawanya dalam pelukan.
Keluarga Dara yang kaya dan terhormat, mungkin tidak sepadan dengan keluargaku yang pada dasarnya memang miskin.
Aku percaya, Tuhan sudah merencanakan jodohku dengan sebaik-baiknya.
"Saat masih hidup, ayah saya hanya pedagang bakso keliling. Semenjak ayah meninggal, beberapa pelanggan juga meninggalkan kami. Sampai akhirnya, saya mendapat beasiswa dan bisa kuliah, serta mendapat tambahan uang dari pemerintah untuk kebutuhan sehari-hari saya. Saya tetap bekerja serabutan untuk ibu dan adik saya."
Setelah mengatakan semua itu, ruangan ini mendadak hening. Kulihat punggung Dara bergetar, tandanya dia sedang menangis saat ini. Mamanya membelai rambut hitam Dara yang panjang itu. Diterima atau tidak, setidaknya aku jujur. Kalaupun ditolak, itu bukan karena kesalahanku.
__ADS_1
"Kapan kamu membawa ibumu ke mari?" tanya Papa Dara yang membuatku mengalihkan pandangan dari putrinya. "Kalau kamu memang benar-benar serius, segera nikahi putri saya. Kalau tidak, cepat angkat kaki dari rumah ini!"
♥️♥️♥️