
ZAYYAN
Saat ini, aku sedang berada di acara lamaran dari asisten pribadi kakakku, alias kakaknya Putri si Tikus Got itu. Kalau bukan karena Mama, aku malas sekali ikut acara begini. Lamaran kakakku sendiri saja, aku tidak hadir.
Balik lagi ke acara lamaran. Prosesi tukar cincin baru akan dimulai, Putri sedang berdiri di samping kakaknya sambil membawakan nampan yang di atasnya terdapat cincin.
Asisten Kai mengambil satu cincin dan akan memasangkannya ke jari pasangannya. Tiba-tiba Kak Zayn datang dan membuat acara tukar cincin jadi terhenti.
"Tunggu! Kamu nggak mau nunggu aku Kai? Tega sekali kamu, padahal aku bela-belain sampe kena macet." Kak Zayn duduk di sebelahku, sedangkan Dera duduk di sebelahnya Kak Zayn.
"Zayn, kamu yang sopan dong," kata Papa. Kak Zayn tidak menanggapi, justru calon mertua Asisten Kai yang meminta maaf.
Acara tukar cincin dilanjutkan, dan mereka berhasil melakukannya dengan sempurna, walaupun wajah tegang keduanya sangat terlihat jelas.
Aroma parfum wanita sangat menyengat semenjak kedatangan Kak Zayn dan Dera. Aku sedikit mengendus dan ternyata Kak Zayn juga memakai parfum yang sama dengan Dera.
"Kakak pakai parfum cewek?" tanyaku setengah berbisik.
"Kenapa emangnya?" Kak Zayn malah bertanya balik.
"Aneh aja sih Kak, masa cowok aroma vanila stroberi gini sih," cibirku sambil geleng-geleng.
"Ini tu nuruti permintaan calon ponakan kamu," balasnya
Ada rasa berdesir di hatiku saat Kak Zayn mengatakan kata 'ponakan', yang dalam bayanganku mereka sudah sering meelakukan ritual suami istri. Memang tidak salah sih, mereka adalah suami istri yang pasti akan melakukan itu.
Aku hanya diam saja, Mama dan Dera mengobrol hangat, Kak Zayn mulai menggoda asistennya. Akhirnya, aku keluar dengan alasan menelepon, padahal aku ingin menenangkan diri. Berdeketan dengan Dera membuatku mengingat kedekatan kami.
__ADS_1
Di luar rumah, aku hanya bermain ponsel, dan memilih duduk di mobil. Bermain game pasti lebih menyenangkan daripada mendengar obrolan orang tua.
Naru saja membuka aplikasinya, tiba-tiba kaca mobil diketuk dari luar Saatku menatapnya, ternyata Putri sudah berdiri di samping mobil. Dengan terpaksa aku membuka kaca mobil.
"Kak disuruh masuk sama mamanya Kakak!" ucapnya sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Ngapain, aku di sini aja, bilangin ke Mama!" balasku lalu kembali menutup kaca jendela.
Beberapa detik kemudian, Putri kembali mengetuk kaca mobil. Aku pun kembali menurunkan kaca mobil.
"Apa lagi? Nggak jelas aku ngomongnya?" tanyaku dengan nada tinggi, pasalnya Putri membuat permainanku kalah padahal sedikit lagi aku menang.
"Kok Kakak nyolot sih? Emangnya Kakak siapa nyuruh-nyuruh aku? Makanya kalau nggak siap ketemu kakak ipar mending nggak usah ikut-ikutan acara gini, kan jadinya nyesek sendiri," ejeknya yang kemudian pergi begitu saja.
Kata-kata Putri membuat aliran darah di kepalaku tiba-tiba terasa panas. Aku membuka pintu mobil dan mengejar Putri yang belum terlalu jauh.
"Apaan sih, Kak?" Putri meronta saat tangannya kucekal, lalu aku membawanya mepet ke mobil, dengan tangannya yang masih kucekal.
Putri melotot dan tiba-tiba menginjak kakiku, membuatku meringis kesakitan.
"Kalian sedang apa?" Suara Dera membuatku dan Putri menoleh bersamaan, posisinya aku sedang mengukung Putri mepet ke mobil supaya dia tidak bisa kabur. "Kalian ...."
"Kita em—" Putri tidak bisa melanjutkan ucapannya karena aku langsung menutup mulutnya dengan satu tanganku.
"Diam, jangan banyak bicara!" Ancamku dengan berbisik. Putri semakin melotot.
Mulutku hampir menjawab pertanyaan Dera, saat tiba-tiba Kak Zayn keluar dari rumah, dan merangkul Dera. Walaupun sedikit, masih ada rasa cemburu di hati yang membuat hatiku terasa panas.
__ADS_1
"Queen, kamu ngapain di sini?" tanya Kak Zayn, lalu mengecup pipi Dera dan mengusap perutnya.
"Aku lagi pengen di luar aja, tapi ada pemandangan bagus yang aku lihat."
"Apa?"
Dera menunjuk langsung ke arahku dan Putri, sehingga Kak Zayn bisa melihat jelas apa yang kami lakukan.
"Za, kamu ngapain?" tanya Kak Zayn yang kini berjalan mendekat padaku dan Putri. Terpaksa aku melepas cengkraman tangan dan juga bekapanku di mulut Putri.
"A–aku, aku ...."
"Kamu sama adiknya Kai?"
"Iya, dia pacarku," jawabku secara refleks.
"Pacar?" Putri melotot tidak terima.
"Kalian pacaran?" Kak Zayn kini sudah berhadapan denganku dan Putri.
"Iya, kami pacaran. Salah ya? Kak Zayn juga pernah pacaran, Kak Zea juga pacaran. Nggak masalah kan kalau aku juga pacaran?" tanyaku sambil merangkul pinggang Putri.
"Apa apaan sih, Kak?" Putri berusaha melepaskan tanganku yang merangkul di pinggangnya.
"Kita udah gede Put, nggak masalah juga kalau ternyata kakakmu kerja sama kakakku." Aku tersenyum menatap Putri.
"Kamu gila ya?" bisik Putri tepat di telingaku.
__ADS_1
"Diem, aku akan lakuin apapun permintaanmu kalau kamu mau ikuti permainanku," balasku dengan berbisik juga di telinga Putri.
♥️♥️♥️