Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 102


__ADS_3

Kak Zayn hanya bisa pasrah, ia terduduk lemas sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sementara kedua nenek itu sudah memanyunkan bibir yang bersiap mencium Kak Zayn.


"Tunggu kita foto dulu ya, buat kenang-kenangan." Aku mengambil ponsel untuk mengabadikan momen langka ini.


"Jangan, Ra. Aku nggak mau."


"Satu, dua, tiga." Aku berhasil mengabadikan momen lucu saat Kak Zayn dicium dua nenek yang seluruh kulitnya telah keriput itu.


Kak Zayn langsung berdiri usai mendapat ciuman dari dua nenek tadi.


"Kamu tega banget, Ra."


"Makasih Ganteng, besok-besok kalau pengen dicium, nenek juga masih mau kok."


"Ayo kita pulang!" Kak Zayn menarik tanganku.


"Dah nenek." Aku melambaikan tangan karena Kak Zayn terus menarikku tanganku.


Kami gagal menikmati sunset di tepi pantai, karena Kak Zayn benar-benar membawaku kembali ke villa.


"Kita kan mau liat sunset, Kak," protesku saat Kak Zayn menutup pintu dan menguncinya.


"Lagian kamu jahat banget sih, Ra. Kenapa kamu biarin nenek-nenek itu cium suami kamu?" tanya Kak Zayn yang kemudian merapatkan tubuhnya padaku.


"Karena aku seneng aja liat muka Kak Zayn yang bikin gemes," jawabku yang kemudian berusaha melepaskan tubuhku darinya.

__ADS_1


Kak Zayn malah semakin mengeratkan pelukannya, sehingga aku hanya bisa pasrah saat tubuh kami saling menempel seperti ini.


"Cium aku, atau aku nggak akan biarin kamu bebas malam ini." Kak Zayn mendekatkan wajahnya, bersiap untuk mendapatkan ciuman dariku.


"Biar dicium nenek aja ya, aku mau taruh di sosmed foto yang tadi."


"Jangan bikin aku malu, Ra. Jangan aneh-aneh deh!" Wajah Kak Zayn terlihat kesal, ia pasti akan marah.


Dengan cepat aku mencium kedua pipinya dan langsung berlari setelah berhasil melepaskan diri.


Aku terus berjalan menaiki tangga menuju atap villa, karena saat tadi baru sampai Kak Zayn memberitahuku kalau di atap villa ada rooftop yang bisa melihat langsung ke pantai.


Saat sampai di atap, angin pantai berembus kencang menerpa tubuhku. Lalu, tiba-tiba Kak Zayn sudah memelukku dari belakang.


"Iya dan nggak perlu ketemu nenek-nenek."


Aku tertawa mengingat ekspresi Kak Zayn saat dikeroyok ibu-ibu di pantai tadi.


"Nantinya juga aku akan jadi nenek-nenek."


"Kalau nenek-neneknya kamu, aku pasti jadi kakek-kakek yang bahagia."


*


*

__ADS_1


*


Pagi harinya, aku hanya memasak mie instan karena tidak ada bahan masakan lain yang bisa dimasak.


"Baunya enak banget, ini mie apa?" tanya Kak Zayn yang baru saja keluar dari kamar hanya memakai bokser.


"Mie instan. Pakai baju sana Kak!"


"Nggak ah, gini aja." Ia menarik kursi dan aku menyajikan mie yang sudah siap di mangkok untuk Kak Zayn dan untukku sendiri.


"Awas nanti kalau masuk angin." Aku juga menarik kursi dan duduk di sampingnya.


Lalu, kami mulai menikmati sarapan kami. Hanya mie goreng instan yang ditambah telur. Tidak ada nasi, karena memang tidak ada beras yang bisa dimasak.


"Kita di sini berapa hari sih, Kak? Kayaknya kita perlu belanja deh," kataku saat hampir menyelesaikan makananku.


"Nanti sore kita udah balik, nggak usah belanja nanti kita beli aja, kamu nggak perlu capek-capek masak," jawab Kak Zayn.


"Ya ampun, padahal aku masih pengen nikmati liburan."


"Maaf ya, Ra. Nanti kalau ada waktu senggang lagi, pasti kita liburan lagi."


"Iya deh, Kak Zayn kan Big Boss."


♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2