
Laki-laki itu masih memelukku, bahkan pelukannya kini terasa semakin erat. Napasku semakin sesak. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh kekarnya, tapi tetap saja tidak berhasil. Akhirnya aku menggigit bahunya supaya bisa melepaskan pelukannya.
“Ahhhh.” Laki-laki itu menjerit mungkin merasakan sakit akibat gigitan ku.
“Dasar vampir!” umpatnya yang aku balas dengan pukulan bertubi-tubi di dadanya.
“Salah sendiri kenapa peluk kenceng banget, aku sampai nggak bisa napas tau.” Aku masih memukul pelan dada bidang suamiku itu.
“Maaf, maaf, maaf. Habisnya aku kangen banget, Ra.” Kak Zayn menangkap pergerakan tanganku, lalu memelukku lagi. Kali ini tidak seerat tadi, tapi juga disertai ciuman bertubi-tubi di wajahku.
“Oh, kirain ada apa?”
Aku dan Kak Zayn menoleh pada Kak Zea yang mungkin terganggu dengan teriakan Kak Zayn barusan. Setelah itu Kak Zea kembali masuk ke kamarnya. Sementara itu Zayyan yang juga keluar dari kamarnya, hanya menatap kami dengan tatapan aneh. Mungkin Zayyan kesal atau kecewa, atau apalah.
"Masuk yuk, aku udah kangen banget." Kak Zayn tidak membiarkanku melihat Zayyan terlalu lama, entah apa yang cowok itu rasakan saat ini, aku khawatir dengannya.
Kak Zayn kembali menciumi leherku dan sesekali menjilatnya. Ia menuntunku untuk semakin masuk ke kamarnya, setelah berhasil menutup dan mengunci pintunya.
"Kak jangan, sakit …."
Kak Zayn menggigit daun telingaku sambil terus mendorongku, tangannya tidak tinggal diam, menyusup masuk di dalam kaus, dan mere mas bukit kenyal yang dulu ia samakan dengan bola pingpong.
__ADS_1
Akhirnya, Kak Zayn berhasil merebahkan tubuhku di ranjang miliknya, dan dia langsung menindihku.
"Mandi dulu, Kak." Aku berusaha mendorong tubuhnya yang kini menciumku dengan penuh gai* rah.
"Aku udah nggak tahan, kelamaan." Kak Zayn malah melahap bibirku dengan buas.
Sekali lagi aku mendorongnya, dan dengan sekuat tenaga aku menahan Kak Zayn yang akan kembali menciumku.
"Mandi dulu biar seger, nanti kita lanjut lagi, Kak." Ciuman dariku mendarat di pipinya. "Mandi dulu, ya!"
"Tapi mandiin." Kak Zayn bangkit lalu menggendong tubuhku menuju kamar mandi.
"Aku udah mandi, Kak," protesku sambil mengalungkan tangan di lehernya.
Satu demi satu Kak Zayn membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu melepaskan juga piyama yang kukenakan, hingga kami berdua sama-sama tak mengenakan apapun.
"Aku kangen, Ra." Perlahan, Kak Zayn kembali mencum*bu dan membuatku pasrah, ia pun bisa menikmati semua yang ada di tubuhku sesuka hatinya.
*
"Kamu mau main di kamar mandi nggak?" tanya Kak Zayn saat aku menyabuni tubuhnya.
__ADS_1
"Main apa? Main air? Nggak lah, udah selesai nih." Aku kembali menyalakan shower yang kemudian mengeluarkan air hangat yang membasahi tubuhnya, dan sedikit mengenai tubuhku.
Setelah itu, aku memakaikan handuk di tubuhnya. Ya, seperti bayi besar yang tidak bisa mandi sendiri, Kak Zayn memintaku memandikannya seperti bayi. Untung saja, rambutku tidak basah saat memandikannya tadi.
"Ra, aku udah gak bisa nahan lagi, si Juna tersiksa banget, Ra," kata Kak Zayn saat aku mengusap rambut basahnya dengan handuk.
"Bentar lagi, ini hampir selesai kok," jawabku mengabaikan wajah memelasnya.
"Kelamaan, Ra." Kak Zayn langsung membawaku kembali ke kamarnya.
Kemudian, ia melepaskan handuk yang kami pakai dengan sangat mudah. Aku hanya bisa pasrah menerima ciuman dan semua perlakuan hangatnya, karena aku pun juga merindukan sentuhannya dan akhirnya, si Juna bersiap masuk ke rumahnya.
"Ra, pintunya rapet banget, susah masuknya."
♥️♥️♥️
Dobrak aja Kak, atau buka pake kunci serep.
Selamat pagi, awali pagi dengan yang manis manis kan ya. Kayak Kak Zayn ini 🥰
Jangan lupa ritualnya,
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘