
ZAYYAN
Aku sangat lega saat Putri bilang belum mendapatkan datang bulan. Kuciumi kepala istriku yang sedang memelukku dengan erat. Hampir tiga bulan yang lalu saat terakhir kali kami bermesraan.Rindu yang selma ini selalu mengganggu pikiran, akhirnya bisa tersalurkan melalui dekapan, kecupan dan juga ungkapan sayang.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama, aku membawa Putri dalam gendonganku, menuju kasur empuk kualitas terbaik yang menjadi andalan hotel ini. Dengan hati-hati aku membaringkan Putri di kasur, lalu aku memposisikan diri untuk menindihnya.
"Kamu makin cantik," pujiku setelah cukup lama hanya diam memandangi wajahnya. Ia hanya tersenyum malu-malu yang membuatku semakin gemas ingin memakannya. "Kamu beneran udah siap?" tanyaku untuk memastikan kami tidak terpaksa melakukan ini.
"Kakak kelamaan, ih." Tanpa kuduga, putri menyerang bibirku. Kedua tangannya saling melingkar di belakang leherku. Sementara ciuman kami semakin intens dan semakin memabukkan.
Tangan Putri bergerilya menarik kausku ke atas. Pergerakan tangannya lebih cepat dari yang aku duga. Bahkan, aku sendiri belum melakukan apa-apa di tubuhnya.
"Kamu agresif banget ya."
__ADS_1
Putri berhasil melepaskan kausku, lalu tangannya bergerak cepat membuka celanaku. Ia mendorong tubuhku sampai telentang di kasur, dan Putri semakin leluasa melepaskan celanaku.
"Putri, kamu liar banget, Honey," ucapku yang pasrah dengan perlakuan Putri yang di luar kendaliku. Ya, bukan aku yang mengendalikannya, tapi Putri yang dengan liar mengendalikan tubuhku.
"Aku nggak suka berlama-lama, Kak. Nanti keburu tamunya datang emang Kakak mau?" tanyanya yang kini berhasil membuatku hanya memakai pakaian dalam, sedangkan ia masih memakai seluruh pakaiannya.
"Slowly baby, santai saja, aku masih punya banyak waktu, tapi aku mau melakukannya dengan lembut," ucapku setelah berhasil membalik posisi kami. Saat ini Putri berada di bawah kekuasanku.
Dengan sangat lembut, aku mencium kembali bibir Putri. Dimulai dari bawah, aku melu*mat bibir bawahnya, lalu setelah puas berganti bibir atasnya. Tanganku juga tidak tinggal diam, bergerilya memainkan dua bulatan indah di dadanya.
Susah payah aku menelan ludah saat benda kenyal itu terlihat menggoda untuk dimainkan. Dengan pelan, aku mulai menggenggam gumpalan lemak yang terus membayangiku selama tiga bulan terakhir. Mulutku dengan lincah bermain di salah satu ujungnya yang kecil, menghisap pelan lalu semakin lama semakin kuat, meski aku tau itu akan sia-sia karena tidak akan ada yang keluar.
Puas bermain di gunung, aku mulai turun mencari lembah yang tertutup hutan tipis yang sepertinya baru ditebang masal. Hidungku menghirup kuat aroma khas yang membuat Jupiter semakin terasa sesak. Dengan ragu, aku mendekatkan bibirku ke area paling pribadi dari tubuh istriku, tapi sayangnya Putri melarangku. Ia tidak mau aku melakukan itu pada areanya karena katanya itu sangat geli.
__ADS_1
Mendapat penolakan di bibir bawah, akhirnya aku kembali merangkak naik, mendekat pada wajah Putri yang merah padam. Ia kembali menyerang bibirku, sementara tangannya bergerak turun menyelamatkan Jupiter yang sedang tersiksa. Sampai akhirnya Jupiter berhasil diselamatkan, dan dengan gagahnya menjulang keras.
"Kakak, Jupiter kan gede banget, aku takut nggak muat, nanti sakit," kata Putri. Ia memelukku dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam Jupiter dengan posesif.
"Nggak apa-apa Honey, aku masukin pelan-pelan nanti, atau mau kamu sendiri yang masukin?" tawarku yang terus menciumi seluruh wajahnya yang bisa kucium. Aku ingin dia semakin bernap*su dan tidak kesakitan nantinya.
"Aku aja deh," kata Putri yang membuatku bersorak dalam hati.
Kalau dia sendiri yang memasukkan Jupiter ke sarangnya, dia pasti akan bisa mengira-ngira bagaimana supaya tidak sakit.
❤❤❤
Kalem kalem, nggak usah esmosi jiwa, nggak aku kentangin lagi kok, ini lanjut 2 bab. tapi awas kalau jempolnya kepleset bab ini nggak dapat like, bayar denda kirim kembang sama kopi satu trek 😍😍
__ADS_1
Wajib jempol jempol jempol, sebelum skroll.😍😍😍