Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 177


__ADS_3

ZAYYAN


Putri bukanlah gadis polos seperti dalam imajinasiku. Dia cukup liar meski bisa dibilang pemula. Masalahnya, tontonan yang dia pelajari itu sudah menecemari pikiran Putri.


"Jangan nonton gituan lagi, kakak nggak suka," ucapku sambil memperhatikan dengan lekat kedua matanya yang bergerak pelan dan menatapku kembali.


"Aku kan belajar buat nyenengin Kakak, emang Kak Za nggak suka kalau aku bisa puasin Kakak?" Putri mengelak. Dia memang polos dan mudah dipengaruhi, apalagi rasa ingin tahunya sangat tinggi. Aku takut jika dia salah dalam bergaul.


"Iya, kakak tahu tujuan kamu baik, tapi kakak nggak mau kalau kamu sampai kecanduan dan akhirnya memuaskan diri dengan, ya begitulah."


Satu pukulan lebih keras mendarat di pundakku.


"Aduh, sakit Putri. Kenapa sih?" tanyaku sembari menahan rasa sakit.


"Habisnya Kakak tuh ngaco, ya aku nggak mungkinlah mau sama orang lain, itu kan lebih dosa Kak," kata Putri.


"Lah, emangnya lihat begituan nggak dosa?"


"Ah, tau ah. Aku kan cuma pengen nyenengin Kakak, malah salah lagi. Kakak emang nyebelin, ngeselin, sana minggir! Jangan dekat-dekat sama aku!" Putri mendorong tubuhku.


Terpaksa, aku menyingkir dari tubuhnya. Putri berbalik memunggungiku, lalu menutup muka dengan bantal.

__ADS_1


"Kamu ngambek?" Aku memeluk tubuhnya dari belakang.


Putri bergeming, tidak ada sahutan atau pun pergerakan. Hal itu membuatku gemas dan semakin mengeratkan pelukan. Putri masih diam, dan timbul keisengan di otakku. Satu tanganku menangkup sebuah benda padat dan


p ke dalam baju yang dipakai Putri.


"Kakak," teriak Putri. Ia kini membuka bantal yang menutup wajahnya.


"Kenapa?" tanyaku tanpa melepaskan genggamanku pada benda kenyal itu.


"Kakak ngapain sih?" Tangan Putri berusaha menyingkirkan tanganku dari dadanya.


"Kakak, jangan!" Putri semakin mendelik dan aku langsung mencium bibirnya.


"Pegang aja emang nggak boleh ya? Nanti kamu dosa loh!" ancamku. Dengan satu kedipan mata, Putri pun mengangguk pasrah.


"Pelan-pelan tapi ya Kak," balasnya.


"Iya, Honey. Cuma pegang dikit, sama icip ya," kataku dengan manja.


"Jangan digigit."

__ADS_1


Kata-kata Putri membuatku sangat ingin tertawa, tapi aku menahannya karena tidak ingin dia ngambek lagi.


Dengan sigap aku melepaskan pakaian Putri supaya bisa lebih bebas memainkan dua benda kenyal yang kini terpampang nyata di hadapanku.


Ternyata ini sebabnya, Papa dan Mama sangat protektif dengan hubunganku dan perempuan. Ternyata, semua yang ada di tubuh perempuan itu sangat menggoda. Aku bersyukur bisa menikmati keindahan ini setelah Putri resmi menjadi istriku.


"Kakak, kenapa cuma dilihatin?" tanya Putri. Ia membuyarkan lamunanku yang sedang mengagumi dua beda kenyal dengan puncak kecil berwarna merah muda menggemaskan.


"Hah? Nggak kok, Honney. Aku mulai ya," jawabku seraya mengarahkan mulutku pada benda kenyal itu. Lidahku mulai memainkan puncaknya, sedangkan Putri mulai mengeluarkan suara yang membuatku merinding.


"Kakak, geli ... tapi kok enak." Putri terus meracau seiring dengan gerakanku yang semakin liar. Bahkan aku mulai merasakan bahwa Jupiter sudah berdiri tegak dan sesak di bawah sana.


"Honey, Jupiter wake up," ucapku tanpa melepaskan puncak kecil itu dari japitan gigiku.


"Ah, Kakak jangan gigit, nakal banget sih."


❤❤❤


Dah lah ya, aku udah ngantuk banget buat bikin panjang, masalahnya ngetik segini aja itu seharian. Mungkin beberapa yang punya wa ku pasti tahu kok. Semangatin dong, biar tidurku nyenyak 😍😍


Likenya jangan lupa 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2