
ZAYN
Tubuh mungil bayiku telah terbujur kaku. Aku sendiri yang menggendongnya menuju pemakaman. Seandainya aku bisa membayar siapa pun untuk menghidupkannya, memberikannya kehidupan lebih lama bersamaku, aku pasti akan menukar semua harta yang aku miliki untuk menyelamatkan nyawanya.
Tidak. Semua sudah terlambat. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengikhlaskannya. Sebagai ayahnya, tugasku yang terakhir adalah memakamkannya dengan layak.
Sayang, selamat jalan. Waktu kita memang hanya sebentar, tapi bisakah kita bertemu lagi di surga nanti.
Aku mendekap tubuh kecil yang beratnya saat lahir tidak sampai satu kilo gram. Laki-laki kecilku, akan beristirahat dengan tenang. Tuhan lebih menyayanginya. Oase.
Sadikit demi sedikit, gundukan tanah mulai menutupi tubuh bayi kecil itu. Aku sudah merelakan kepergiannya, dan aku juga sudah mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Sekarang, yang ada di pikiranku adalah, bagaimana cara mengatakannya pada Dera?
"Yang sabar, Bos." Asisten Kaisar menepuk pundakku.
"Sabar Zayn, Dera pasti lebih sedih, dan kamu harus bisa menguatkannya," kata Arsen.
Aku hanya mengangguk. Memang benar saat ini kondisi Dera lebih penting dari perasaanku.
...****************...
Setelah dari pemakaman dan mampir sebentar ke rumah untuk mandi dan mengambil baju-baju Dera, aku kembali ke rumah sakit. Sampai sore ini, belum ada kabar tentang kondisi Dera dan anak-anak kami yang lain.
"Bos nggak apa-apa saya tinggal?" tanya Asisten Kaisar yang mengantarku sampai ke rumah sakit.
"Iya, kamu pulang aja." Aku membuka pintu mobil dan langsung berjalan masuk dengan perasaan was-was.
Kalau Dera sadar, bagaimana aku mengatakan kematian anak kami? Aku harus mulai dari mana?
__ADS_1
"Dera belum sadar, Ma?" tanyaku pada mama mertua.
"Belum, sudah selesai pemakamannya?"
Aku mengangguk.
Mama pamit keluar untuk ke menengok cucu-cucunya. Hanya ada aku dan Dera di ruangan rawat ini.
"Queen, apa kamu masih mengantuk? Tidakkah kamu ingin bangun dan memelukku?" Aku mencium keningnya sangat lama.
Wajah cantik itu masih terlelap dalam tidurnya. Perasaanku jadi tidak karuan, bagaimana kalau dia tidak bisa sadar lagi?
Aku duduk di sampingnya, membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kamu hebat, kamu pasti kuat." Aku duduk di kursi sambil terus menggenggam tangannya.
"Queen, kamu udah sadar?" tanyaku, lalu mengecup keningnya.
"Kakak." Suara Dera terdengar lemah, mungkin karena tenaganya belum pulih sepenuhnya.
"Queen, aku panggil dokter dulu." Aku memencet sebuah tombol khusus yang memang diperuntukkan untuk memanggil tenaga medis.
"Kak, anak kita gimana? Aku pengen lihat," kata Dera.
"Mereka masih di ruangan khusus Sayang, kita cuma bisa lihat dari balik kaca, nanti kalau kamu sudah pulih, kita ke sana ya." Aku tersenyum untuk menenangkan pikiran Dera.
"Jenis kelaminnya gimana Kak, ceritain." Dera tersenyum, meski suaranya masih lemah, tapi aku tahu dia sangat bahagia.
__ADS_1
"Yang pertama dan kedua laki-laki, yang ketiga dan keempat perempuan."
"Tuhan benar-benar adil ya, Kak."
Aku hanya tersenyum tipis, lalu dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Dera.
Bersamaan dengan pemeriksaan Dera yang telah selesai, mama mertua kembali dari ruang NICU, tempat bayi-bayi kami dirawat.
"Mama dari mana?" tanya Dera.
"Mama barusan liat bayi-bayi kamu," jawab Mama.
Aku menarik napas berat, sebentar lagi Dera pasti bertanya tentang anak kami.
"Mama nggak fotoin mereka? Mereka sebesar apa Ma? Aku pengen banget lihat mereka." Dera meraih tangan mamanya.
Aku dan Mama saling lirik. Dera baru saja sadar, apa dia bisa menerima kenyataan pahit ini?
"Em, mama nggak bawa hape tadi. Zayn, kasih tahu Dera ya. Mama mau telfon papa dulu." Mama berjalan cepat, tangannya mengusap air mata saat berbalik membelakangi Dera.
"Mama kenapa Kak?"
Aku meraih tangan Dera. Menundukkan kepala yang terasa berat sekali saat menatap matanya.
Ya Allah, kuatkan hati istriku.
❤❤❤
__ADS_1