
DERA
Kak Arsen masih koma di rumah sakit, Kak Zayn dan Asisten Kaisar sudah menemukan dalang dari kecelakaan itu, bukti kuat juga sudah di dapat dan saat ini polisi sedang memproses kasusnya. Dalam waktu tiga hari, anak buah mereka berhasil mengungkap fakta kecelakaan itu, sesuatu yang sangat mengejutkan memang. Mungkin itulah salah satu keuntungan menjadi seorang bos besar.
Setelah menjenguk Kak Arsen, aku dan Kak Zayn mampir ke dokter kandungan yang berada di rumah sakit yang sama. Kebetulan hari ini ada jadwal praktek Dokter Nayla di rumah sakit ini.
Akhirnya, setelah sampai di ruangan Dokter Nayla, Kak Zayn meminta Dokter Nayla untuk melakukan USG.
"Ada keluhan tidak?" tanya Dokter Nayla sambil memeriksa bayiku dengan alat USG.
"Nggak ada, Dok. Cuma mual-mual aja," jawabku.
"Masa nyium tubuh saya bisa mual, Dok? Saya sampai harus pakai parfum perempuan gini," curhat suamiku pada Dokter Nayla.
"Itu wajar kok, Pak. Selama tidak muntah berlebihan tidak apa-apa," balas Dokter Nayla.
"Gimana, Dok? Apa sudah ketahuan jenis kelaminnya?" tanyaku tidak sabar.
Dokter Nayla tersenyum, lalu ia menunjukkan dua titik putih di monitor. "Belum terlihat Bu, usianya masih tujuh minggu. Di sini ada dua kantung janin, kemungkinan bayinya kembar."
Kata-kata Dokter Nayla membuat hatiku seakan disiram ribuan bunga.
"Benarkah, Dok?" Kak Zayn lebih antusias.
"Bulan depan kita periksa lagi, untuk saat ini semuanya normal. Karena ini kehamilan kembar, resikonya lebih tinggi. Jadi, harus dijaga dengan baik. Perhatikan makan dan istirahat yang cukup.
...****************...
Setelah pemeriksaan dengan Dokter Nayla, Kak Zayn menghubungi mamanya. Akhirnya, Mama Marisa mengajak kami untuk makan malam bersama, syukuran kecil-kecilan.
Saat ini, aku dan Kak Zayn sudah sampai di rumah Mama. Zayyan juga datang bersama adiknya Asisten Kaisar. Entah bagaimana mereka bisa bersama, tapi kata Zayyan mereka sudah berpacaran.
__ADS_1
"Selamat ya Sayang, langsung dikasih dua," sambut Mama Marisa yang memberikan pelukan hangat padaku.
"Iya Ma, terima kasih."
"Ayo duduk dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu sebelum waktunya makan malam." Mama Marisa meminta kami untuk duduk di sofa keluarga. Setelahnya, Mama juga menyambut Putri yang kebetulan datang bersamaan dengan kami.
"Kakak," bisikku pada suamiku yang sibuk dengan tablet-nya.
"Hem, kenapa Queen," jawabnya tanpa menoleh padaku.
"Aku pengen naik motornya Zayyan, tadi ada di parkiran." Aku merangkul lengan Kak Zayn yang duduk di sebelahku, menggoyangkannya dengan manja supaya mau menurutiku.
"Jangan aneh-aneh deh, naik motor itu bahaya," tolaknya yang membuatku cemberut.
"Kakak jahat deh, Kimmy bilang naik motor berdua itu lebih romantis daripada naik mobil."
Kak Zea dan suaminya telah datang, pasangan yang baru beberapa bulan menikah itu terlihat sangat bahagia. Masih hangat-hangatnya pengantin baru.
"Ra, aku nggak mau anak-anak kita kenapa-napa. Motornya Zayyan itu motor gede, bahaya!"
Kak Zayn hanya diam dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Mengabaikan permintaanku yang sangat sederhana.
"Kalian kenapa?" tanya Kak Zea yang kini duduk di sofa bersama kami.
Putri dan Zayyan juga ikut duduk, sedangkan Mama entah pergi ke mana.
"Aku pengen dibonceng naik motornya Zayyan," jawabku tidak bersemangat.
"Motorku?" Zayyan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, aku pengen diboncengin Kak Zayn naik motor, tapi dianya nggak mau, tuh pura-pura nggak denger!"
__ADS_1
Kak Zayn tetap mengabaikanku, kali ini ia berdiri karena menerima telepon.
"Ya, Kai. Kenapa?"
Pasti soal pekerjaan, kalau sudah begini, keinginanku tidak akan dituruti.
"Emangnya Kak Zayn nggak bisa naik motor ya Kak?" tanyaku pada Kak Zea.
"Bisa kok, di rumah juga ada motornya Zayn. Kamu belum pernah diboncengin Zayn?"
Aku menggeleng lemah, memang belum pernah sekali pun, setelah satu setengah tahun kami menikah.
"Bicaranya pelan-pelan, mungkin dia khawatir karena kamu kan lagi hamil," kata Kak Zea.
Aku mengangguk setuju, nanti akan aku coba lagi bicara dengannya. Tiba-tiba Kak Zayn kembali setelah menerima telepon dari asistennya.
"Za, kamu sama Putri bisa nggak anterin ibu sama pak de Putri pulang ke desa besok?" tanya Kak Zayn tanpa basa-basi.
"Kenapa aku?"
"Kamu kan pacarnya Putri, kamu tega Putri bolak balik sendiri? Aku nggak ngizinin Kai soalnya besok ada rapat penting."
"Gimana, Put?"
"Terserah Kakak aja," jawab Putri pasrah.
"Oke deal, kalian berdua yang ngantar, biar Kai tetep di sini," putus Kak Zayn lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Jadi gimana? Aku pengen naik motor."
Kak Zayn mengacak rambutnya lalu menghela napas berat.
__ADS_1
"Ya udah, naik motor kakak aja ya," ucapnya yang membuatku tersenyum menang.
❤❤❤