Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 62


__ADS_3

Pada akhirnya, aku menginap di rumah mertuaku dengan didampingi oleh Asisten Kaisar. Tentu saja, semua ini karena perintah Kak Zayn yang menyebalkan itu.


Untuk pertama kalinya, aku menginap di rumah mewah ini. Di kamar bernuansa abu-abu dan hitam inilah, aku menghabiskan malamku sendiri, di kamar pribadi suamiku.


Kak Zayn sepertinya sangat menyukai mobil, terlihat dari banyaknya koleksi miniatur mobil yang ada di kamarnya, juga beberapa mobil mewah terparkir di garasi rumah ini, yang kata Kak Zea adalah milik Kak Zayn.


Beberapa foto masa kecil terpajang rapi di dinding kamar. Ada juga foto Kak Zayn dengan kakek dan kakek buyutnya, pasti laki-laki yang memakai tongkat itu yang bernama Kakek Darma. Nama kakek yang sering disebutkan Kak Zea setiap kali berdebat dengan Kak Zayn. Seberapa mengerikan Kakek Darma ya? Apa sama menyebalkannya dengan Kak Zayn?


Saat masih asik memperhatikan koleksi-koleksi Kak Zayn, tiba-tiba sang pemilik kamar menghubungiku. Dengan cepat, aku menggeser tombol hijau pada layar ponselku sebelum Kak Zayn mematikan lagi teleponnya.


"Kamu lagi apa, Ra?" tanya Kak Zayn setelah melihat gambarku yang tengah berdiri.


"Aku lagi lihatin cucunya Kakek Darma waktu kecil," jawabku jujur.


Dari gambar layarku, terlihat Kak Zayn sedang senyum-senyum.


"Kamu lagi bayangin wajah anak kita nanti ya?" tanya Kak Zayn masih sambil senyum-senyum.


"Ih, kok mikirnya ke situ. Aku tu lagi ngebayangin gimana nyebelinnya Kakek Darma jaman dulu." Aku memilih duduk di tepi ranjang.


"Jangan kamu bayangin, kakek itu bukan cuma nyebelin tapi juga kejam, nggak punya hati, tapi itu dulu banget, sebelum ada Zayyan."


"Berarti kehadiran Zayyan itu membawa kebaikan ya buat Kakek Darma."


"Ngarang aja. Sebelum ada Zayyan kakek juga udah berubah."


"Kak Zayn kenapa sih kayaknya sebel banget sama Zayyan."


"Nggak, aku nggak sebel kok, kalian aja yang negatif thinking sama aku."


"Yaudah deh, terserah Kak Zayn aja. Kakak kapan pulang?"

__ADS_1


"Nanti, kalau kamu kangen Juna," godanya sambil mengedipkan mata. Genit!


"Ih, apaan sih, berarti kalau aku nggak kangen Juna, Kak Zayn nggak pulang?"


"Ya pulang, kalau Juna kangen rumahnya."


"Dih, me*sum aja."


"Loh, emang kamu tau rumahnya Juna di mana?"


"Nggak tau. Udah ah, aku mau tidur."


"Ra, kamu beneran nggak kangen aku?"


"Emangnya kalau kangen kenapa? Kak Zayn mau pulang sekarang?"


"Ya nanti, kalau udah selesai urusan di sini, Ra."


"Em, mungkin dua atau tiga hari lagi."


"Rapat aja lama amat."


"Jangan mengeluh dulu, nanti kalau kunjungan tahunan bisa satu bulan aku nggak pulang, makanya kamu ikut aja."


Begitulah, obrolan via telepon video yang dua malam ini kami lakukan. Kami akan mengobrol, lebih seringnya berdebat, mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting. Sampai akhirnya, aku harus menunggunya sampai tertidur.


*


*


*

__ADS_1


Pagi pertama di rumah mertua, aku bangun sangat pagi. Syukurlah, aku tidak kesiangan. Bisa malu kan kalau sampai terlambat bangun?


"Loh, Non sudah bangun, ada yang bisa bibi bantu?" sapa Bibi di rumah ini.


"Iya Bi. Saya malah mau bantu-bantu, ada yang bisa saya bantu nggak?" tanyaku pada dua wanita yang tengah sibuk membersihkan sayur dan mencuci beras.


"Nggak usah, Non. Biar kami saja."


"Kamu ngapain, Ra?"


Aku menoleh ke belakang, ternyata Zayyan juga sudah bangun.


"Ini, aku mau bantu di dapur sih, tapi bingung mau bantu apa?"


"Ikut aku jogging mau nggak?" Zayyan dengan ramah mengajakku berolahraga lari.


"Emm, gimana ya, mau sih tapi …."


"Mau jogging ke mana memangnya, Tuan Muda Zayyan?" tanya Asisten Kaisar yang tiba-tiba muncul di belakang Zayyan.


♥️♥️♥️


...Di mana ada Dera, di situ ada Kaisar. Ingat Kai, Big Boss bisa marah kalau sampai Zayyan dekat-dekat sama Dera 😅😅😅...


Selamat siang, masih ada yang menunggu 😅😅


Jangan lupa ritualnya.


Setelah bab ini aku mau kasih pengumuman buat ikut Give Away. Tungguin ya.


Sampai ketemu lagi 😘😘

__ADS_1


__ADS_2