
Pagi ini kami terlambat bangun. Kak Zayn yang bagun di pagi buta, kembali mengajakku terbang ke awang-awang. Sampai akhirnya kami benar-benar kelelahan dan kembali tidur tanpa sempat membersihkan diri.
"Nggak usah masak, Ra. Kita sarapan di kantor aja. Aku udah telfon Vivi," kata Kak Zayn saat kami baru selesai mandi.
Masih memakai bathrobe, aku sibuk mencarikan dasi yang sesuai dengan setelan jas yang akan dipakai Kak Zayn. Lalu, aku mencari pakaian untukku sendiri.
"Kak Zayn sih, pakai acara nambah segala, jadinya kita telat kan." Aku mengomel sambil memakai pakaianku, sementara Kak Zayn dengan santai mengancingkan kemejanya.
Dengan tergesa-gesa akhirnya aku selesai dengan pakaianku, sementara Kak Zayn sepertinya kesulitan memakai dasinya.
"Ya ampun, dulu sebelum nikah siapa sih yang pakaikan dasi?" omelku sambil mengikatkan dasi di kerah kemeja Kak Zayn.
Ia hanya diam tidak menjawab apapun. Perutku yang terasa lapar, membuatku semakin tidak konsentrasi. Meraih kotak kosmetik, aku juga menyambar tas yang biasa kupakai. Sedangkan Kak Zayn masih terlihat santai.
"Ayo cepat, kita ini sudah terlambat!"
Aku heran dengan sikap Kak Zayn yang dengan santainya berjalan mengekori aku, sementara jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, dan kami masih berada di parkiran apartemen.
Kak Zayn masuk ke mobil, aku juga. Dengan hati-hati aku memakai peralatan riasku. Suamiku hanya tertawa memperhatikanku yang sedari tadi terburu-buru.
"Kenapa sih? Kita itu udah telat." Aku menatap kesal pada Kak Zayn yang tanpa rasa bersalah malah tersenyum terus dari tadi.
"Kamu kalau terlambat takut dimarahi siapa emangnya?" tanya Kak Zayn yang sedang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Takut dimarahi Pak Riko," jawabku apa adanya.
Pak Riko itu pembimbing yang mengawasi kerjaku selama magang, dan hari ini aku terlambat. Pasti Pak Riko akan memarahiku, dan itu hal yang wajar karena aku salah.
"Kamu pernah dimarahi Pak Riko?"
Aku menoleh pada Kak Zayn yang kini menatap jalanan lurus di depannya.
Memang belum pernah sih, tapi sebelumnya kan memang aku tidak pernah terlambat.
"Kalau dia berani marahi kamu, artinya dia cari mati," lanjutnya yang membuatku seperti melupakan sesuatu.
"Kenapa?"
Suara rem yang diinjak membuatku tersadar, kami sudah sampai di kantor.
Aku keluar dari mobil dan berjalan cepat, melewati lobi dan berhenti tepat di belakang dua karyawan yang menunggu lift terbuka.
Saat lift terbuka dan aku akan melangkah masuk, Kak Zayn meraih tanganku. Karena reflek, aku menarik tangannya juga sehingga kami sama-sama masuk ke dalam lift.
Dua karyawan menatap kami saat posisi Kak Zayn tepat di hadapanku, dengan jarak yang sangat dekat.
"Ngapain sih masuk lift ini, kita kan bisa pakai lift khusus," omelnya yang membuatku mendorong tubuhnya.
__ADS_1
"Aku lupa," jawabku sambil merapikan rambut.
Kak Zayn menegakkan posisminya, lalu menarik ujung jasnya ke bawah. Pasti ia kesal.
"Keluar kalian!" perintahnya saat lift terbuka dan seorang OB hendak masuk, tapi urung karena mendengar Kak Zayn mengusir dua karyawannya.
Kak Zayn menekan angka lantai tempatnya kerja, lalu mendorongku ke dinding lift setelah pintu tertutup, dua tangannya berpegangan di dinding untuk menahan tubuhnya.
"Jangan bilang kalau kamu juga lupa bahwa kamu istri big boss." Kak Zayn mencium bibirku, merasakan bibir bawahku yang membuat tubuhku memanas.
Tidak lama pintu lift terbuka.
"Zayn." Suara seseorang memaksa Kak Zayn melepaskan ciumannya dan menoleh ke belakang, dengan posisi tangan masih berpegangan dinding di belakangku.
♥️♥️♥️
...Nah loh, siapa tuh yang manggil 😂😂 Ganggu orang mesra mesraan aja. 🤭🤭🤭...
Jangan lupa ritualnya.
Sampai ketemu minggu depan 😘😘
Minggu depan itu kapan ya 😂😂
__ADS_1