
Aku dan Kak Zayn sudah sampai di rumah mertuaku. Suamiku itu sangat menyayangi mamanya. Kami selalu mampir ke rumah Mama setiap dua sampai tiga hari sekali, dan tentu saja aku tidak mau menginap.
Bukan karena aku bermasalah dengan mertua atau ipar, tapi sejujurnya aku tidak ingin menyakiti Zayyan, dan supaya dia bisa lebih mudah move on dariku.
Sesekali adik iparku itu masih suka mengirimkan pesan atau mengomentari unggahan di media sosialku.
Mama sedang memasak, dan Papa sedang menikmati kopinya, ditemani Zayyan yang sedang menatap layar komputer jinjingnya.
"Aku temui Mama ya," kataku pada Kak Zayn.
"Iya, Ra." Kak Zayn lalu duduk, dan aku menghampiri Mama di dapur.
Aku tidak melihat Kak Zea, Mama sedang dibantu oleh asisten rumah tangganya.
"Anak Mama udah datang?" sapa Mama setelah melihatku.
"Iya, Ma. Baru saja kok." Aku menyalami tangan Mama yang sedang memegang spatula.
"Terusin ya, Bi." Mama menyerahkan spatula pada asisten rumah tangganya.
"Kamu kok rapi, usah mulai magang ya?" tanya Mama sambil menepuk pundakku.
"Iya, Ma. Baru hari pertama," jawabku.
Lalu Mama mengajakku bergabung dengan para laki-laki.
"Nanti kalian nginep kan? Udah lama loh kalian nggak nginep," kata Mama sambil mengajakku duduk.
Aku duduk di sofa bersama Mama, berhadapan langsung dengan Zayyan, sedangkan Kak Zayn duduk di dekat Papa Elvan.
"Kalau itu maunya Mama yaudah, kita nginep," kata Kak Zayn yang membuatku mengerutkan dahi.
Kali ini aku akan merasa tidak nyaman lagi, apalagi ada Zayyan.
"Kamu baik-baik aja, Ra?" tanya Zayyan.
"Em iya, Za" jawabku.
"Emang Dera kenapa, kamu pikir aku nggak jagain dia sampai dia bisa kenapa-napa," kata Kak Zayn yang kemudian duduk di sampingku.
__ADS_1
"Kak Zayn," bisikku sambil mencubit pinggangnya.
"Ah, ah, ah, sakit, Ra."
Aku melepaskan capitan tanganku di pinggangnya.
Entah kenapa Kak Zayn selalu begitu jika bersama Zayyan. Entah apa yang sudah Zayyan lakukan, dosa apa yang anak baik itu perbuat, sampai kakaknya yang menyebalkan ini bersikap seperti itu.
"Kamu kenapa sih Zayn, selalu begitu sama adikmu." Papa El memandangi putra sulungnya sambil menyeruput lagi kopinya.
"Em, nggak kenapa-napa sih Pa," jawab Kak Zayn datar.
"Ra, kamar yuk!" ajak Kak Zayn yang kini menarik tanganku, ia sudah berdiri dan memaksaku untuk berdiri juga.
"Kalian mau ngapain?" tanya Mama.
"Mau mandi dulu, Ma. Masa mau buat cucu, ya kan Ra?"
Aku berdiri dibantu Kak Zayn yang sudah meraih tanganku.
"Apaan sih Kak."
"Apa Papa waktu muda dulu seperti itu, Ma?" tanya Papa.
"Ya, sebelas dua belas."
"Kalau gitu kapan-kapan kita mandi bersama lagi."
*
*
*
Kami semua sudah selesai makan malam. Kak Zayn dan Papa masih ada di bawah, sedangkan aku yang tadinya sudah ke kamar mendadak merasa haus dan akhirnya memutuskan untuk ke dapur.
Saat sedang minum, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.
"Kakak, kalau aku tersedak bagaimana?" tanyaku sambil meletakkan gelas di atas meja.
__ADS_1
"Aku akan menciumnya, sampai rasa sakitnya hilang," jawab Kak Zayn yang kemudian membalik tubuhku dan mencium tenggorokanku.
Aku yang kegelian langsung berpegangan pada pundaknya.
"Kak, jangan! Stop!"
Akan tetapi, Kak Zayn tetap tidak peduli, ia terus membuatku merasakan geli dan nikmat secara bersamaan.
"Ini di dapur Kak, nanti kalau Mama Papa lihat gimana?"
"Yaudah ayo ke kamar."
Dengan sigap Kak Zayn langsung menggendongku, dan membawaku ke atas menuju kamarnya.
"Kak, malu kalau ada yang lihat," rengekku masih sambil berpegangan pada lehernya.
"Nggak apa-apa Ra, kita sudah menikah."
"Tadi aja di kantor udah, sekarang masih lagi, emangnya Kak Zayn nggak capek? Nggak bosen?"
"Nggak akan, Ra. Yang bikin nagih emang nggak bisa bikin berhenti, nggak akan ngebosenin."
♥️♥️♥️
Selamat sore gaess 😘😘
Ada yang nungguin?
Semoga masih ada 🤭🤭
Aku mau bikin adegan nganu-nganu, ada yang setuju nggak.
Angkat jempol kakinya di kolom komen.
Kalau nggak setuju, yaudah aku skip lagi 🤭🤭🤭
Jangan lupa jempolnya,
Sampai ketemu lagi 😘😘😘
__ADS_1