Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 22


__ADS_3

PUTRI


Saat ini di hadapanku ada tiga buah alat tes kehamilan dengan merek berbeda. Awalnya aku menolak, tapi Kak Dera dan Kak Zayyan memaksa. Akhirnya, Kak Za menemaniku ke kamar mandi untuk melakukan tes.


"Aku nggak mual, nggak muntah juga, Kak. Kalau hamil kan biasanya gitu," ucapku sambil mencelupkan ketiga alat itu ke dalam wadah.


"Ya kita kan sama-sama nggak tau, Put. Berdoa aja yang baik," balasnya yang juga turut membantuku memegang alat tes itu.


Aku hanya mengangguk, tapi dalam hati mengaminkan doa terbaik untuk kehamilanku.


Setelah beberapa saat, garis di alat tes itu muncul. Dua garis yang menandakan bahwa aku hamil. Tunggu! Hamil?


"Ini jelas, Put. Garisnya dua." Kak Za menunjukkan 2 alat tes yang lainnya. Hasilnya sama, dua garis.


Kak Za memelukku yang masih bingung dan tidak percaya dengan hasil tes itu. Ini tiga-tiganya loh yang menunjukkan hasil sama, artinya aku benar-benar hamil, 'kan?


"Kak ini nggak bohong 'kan ya?" tanyaku pada Kak Za yang masih memelukku. Senyumnya terus terpancar dan aku harap ia tidak kecewa kali ini.


"Nggak Put, masa tiga-tiganya eror. Nanti kita cek ke dokter, ya. Kamu ngeluarin darah, 'kan?"

__ADS_1


"Bukan darah, Kak. Kayak flek gitu. Iya nanti kita periksain sekalian," jawabku yang lalu membalas pelukannya.


Cukup lama kami berpelukan di kamar mandi, sampai akhirnya suara ketukan membuat pelukan kami terlepas.


"Putri, Zayyan kalian lama banget di kamar mandi? Bisa nggak sih?" Suara Kak Dera mengiringi ketukan pintu yang sangat keras.


Kak Za membuka pintu dan aku langsung menunjukkan hasil tes kami pada Kak Dera.


"Ah, akhirnya. Selamat ya," kata Kak Dera yang langsung memelukku setelah melihat sendiri hasil tes kehamilan itu.


"Bau-baunya berhasil nih." Suara Kak Zayn terdengar saat Kak Za berjalan keluar kamar mandi.


"Oke. Sama Dokter Nayla aja. Orangnya baik dan asik kok," kata Kak Dera.


Pelukan kami terlepas, lalu Kak Dera mengajakku bergabung bersama Kak Za dan Kak Zayn.


*


*

__ADS_1


*


Kak Za jadi bolos ke bengkel untuk mengantarku menemui Dokter Nayla. Demi meyakinkan hati dan mendapatkan informasi yang jelas, kami memang tak ingin berlama-lama menunda untuk menemui Dokter Nayla.


Sesampainya di ruangan sang dokter, aku mulai diperiksa kesehatan, mulai dari berat badan, tekanan darah, lalu pemeriksaan melalui USG juga untuk melihat langsung keadaan rahimku.


"Itu sudah terlihat dedeknya. Usianya sudah enam minggu lebih, dan semua normal." Dokter Nayla menjelaskan dengan tangan yang terus memegang alat yang dihubungkan dengan perutku.


Aku tidak melihat bayi atau janin di monitor yang dipantulkan dari komputer Dokter Nayla. Hanya ada bayangan hitam putih yang tidak begitu jelas bentuknya. Namun, aku tetap antusias mendengarkan apa yang Dokter Nayla nasehatkan untukku.


"Karena ada riwayat abortus, Ibu Putri harus benar-benar istirahat. Bedrest, dan jangan sampai terlalu stres."


Aku mengangguk, paham sekali dengan apa yang dokter cantik ini katakan.


"Oh iya. Bapak juga harus belajar menjadi suami siaga. Kalau ada masalah sekecil apa pun bisa langsung hubungan saya," jelas Dokter Nayla sebelum akhirnya meresepkan vitamin untuk kehamilanku.


❤❤❤


Selamat malam gaess. Ngantuk-ngantuk masih aku usahakan update, so maaf kalau typo berlebihan ya 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya 😘😘


__ADS_2