
ZAYYAN
Setelah melakukan penyatuan terindah kami, aku pikir kami akan mengulangi kegiatan halal yang sangat nikmat itu. Ternyata, aku salah. Putri tidak mengizinkanku mengulanginya lagi. Walaupun aku sudah merayu dan membujuknya, ia tetap tidak mau, karena katanya sangat perih dan sakit. Bahkan, semalam dia tidur lebih awal dariku.
Pagi ini, seharusnya kami terbangun di pagi yang hangat, dengan kulit yang saling bersentuhan, tapi nyatanya tidak. Kami masih berpakaian lengkap, dan tidur masing-masing. Aku tengkurap memeluk bantal, dan Putri tidur miring memunggungiku, bukan suasana romantis, 'kan?
Tubuhku bergerak mendekat padanya, memeluk dari belakang yang tadi malam tidak mau dikelonin.
"Kakak, aku masih ngantuk ih," protesnya dengan suara parau khas bangun tidur, saat aku mengecup pipinya.
"Udah pagi Put, aku lapar," balasku.
Ia tiba-tiba membuka mata, lalu bangun seketika, dan langsung turun dari kasur.
"Ah, ini kan masih di hotel, aku pikir kita di rumah." Ia kembali duduk di kasur. Aneh sekali.
"Emang kenapa kalau kita di rumah?" tanyaku kembali memeluknya.
"Nggak enak sama mama kalau bangun kesiangan," jawabnya.
"Ya udah, kita sarapan dulu, terus kita pulang. Biar kamu bisa jadi menantu mama yang baik."
__ADS_1
"Ih, Kakak. Ya udah, ayo mandi, terus pulang." Putri mencoba melepaskan belitan tanganku yang memeluk perutnya.
"Ayo, mandi bareng kan?" tanyaku yang langsung bersemangat.
"Enggak! Mandi sendiri-sendiri," kata Putri, lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Mandi berdua kan pasti enak," gumamku. "Jupiter, kasihan sekali kamu, cuma dijasih kesempatan sekali, setelah enam bulan nikah."
***
Sebelum keluar dari hotel, Mama meneleponku dan mengatakan bahwa Mama dan Papa menginap di rumah Kak Zayn. Lalu, aku dan Putri memutuskan untuk kembali mengunjungi rumah Kak Zayn sekalian menengok ketiga keponakanku. Semenjak lahir, aku belum menengok langsung mereka, kemarin bahkan aku tidak sempat menggendongnya.
Aku dan Putri membelikan beberapa baju dan mainan untuk anak-anaknya Kak Zayn. Saat memelah dan memilih baju yang pas untuk mereka, tiba-tiba seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur mendekati kami.
"Eh, nggak kok, ini buat keponakan," jawab Putri.
"Oh, saya kira mbaknya lagi hamil muda, kok udah pilih-pilih baju."
"Hehe, bukan Nyonya, kakaknya suami saya, istrinya baru saja melahirkan," balas Putri.
Aku hanya diam dan mendengarkan perbincangan mereka, sambil melihat-lihat baju-baju lucu dengan berbagai macam warna dan gambar.
__ADS_1
"Anak muda jaman sekarang itu, banyak yang melewati batas sampai-sampai hamil terus anaknya dibuang, ya ampun. Nggak habis pikir, mau enaknya aja, bayi nggak berdosa dibuang begitu saja, nggak ada hati nuraninya," oceh wanita itu yang membuatku merasa aneh.
Putri hanya tersenyum simpul, ia mungkin juga merasa aneh dengan omongan wanita itu.
"Iya Bu, makanya saya nikah muda, biar terhindar dari hal-hal yang seperti itu." Putri menarik tangan kananku, dan memamerkan cincin pernikahan kami.
Wajah wanita itu langsung berubah datar, lalu ujung bibirnya tertarik sedikit, membuat senyum tipis yang seolah dipaksakan.
"Kakak, kayaknya emang kita terlalu muda deh kalau punya anak, nanti dikira hamil duluan. Kita tunda aja ya, Kak." Putri bergelayut manja di lenganku, membuat wanita itu langsung pamit meninggalkan kami.
"Sukurin! Emangnya semua anak muda itu sama? Lagian apanya yang enak, orang sakit banget kok," gerutu Putri setelah wanita itu pergi.
"Sakit di awal, tapi di akhirnya kan enak juga," sahutku.
"Tetep aja, setelah selesai, perihnya masih terasa."
"Terus kita kapan kita lakuin lagi?" tanyaku.
"Nanti kalau udah ilang sakitnya."
❤❤❤
__ADS_1
Jempolnya jangan lupa, diangkat semua 🥲🥲🥲