
ZAYYAN
Hasil yang ditampilkan oleh alat tes kehamilan itu tidak menunjukkan garis dua seperti harapan kami. Tidak ada garis sama sekali yang muncul di sana.
"Kok gini." Putri mendekatkan alat itu ke arahnya. Sepertinya ia juga merasa aneh dengan hasil yang alat itu tunjukkan. "Harusnya garis dua, atau garisnya satu. Ini kok nggak ada ya," celotehnya lagi.
"Mungkin eror, kamu ada alat lain, 'kan?"
Putri menatap alat tes itu sambil menggeleng pelan. Itu berarti hari ini kami gagal melakukan tes dan harus menunggu esok hari untuk hasil yang lebih akurat.
"Ya udah nanti kita beli lagi, nggak apa-apa." Aku memeluknya yang terlihat sedih. Aku tidak ingin bertanya lebih detail kenapa hal itu bisa terjadi, takutnya Putri malah semakin sedih.
"Padahal aku udah penasaran banget," jujurnya.
Aku hanya bisa menenangkan hatinya dengan kata-kata semangat suapaya Putri tidak terlalu kecewa.
*
*
Aku mengantarkan Putri ke kampus. Ia masih cemberut semenjak insiden tes kehamilan tadi pagi.
"Udah, jangan sedih, nanti kita langsung ke dokter aja untuk mastiin. Jangan sedih gitu dong!" Aku mencubit pipi Putri yang membuat bibirnya manyun tapi beberapa detik kemudian berubah jadi senyuman.
"Kalau aku nggak hamil gimana? Sayang duitnya buat ke dokter."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Sayang. Nanti kalau negatif, liburan semester ini aku ajak ke suatu tempat."
"Honeymoon."
"Iya dong, gimana kalau anak kita made in puncak. Kak Zayn kayaknya ada hotel di sana, nanti aku tanya-tanya dia," kataku.
Putri tersenyum menanggapi ideku. "Tapi, kalau aku hamil, aku mau di rumah aja, sambil bikin skripsi."
"Iya, terserah kamu aja deh. Ya udah, aku ke bengkel dulu ya. Cari uang buat kamu sama calon anak kita nanti."
"Iya, Kak Za. Aku juga mau belajar dulu, biar nanti bisa ngajarin anak kita." Putri mencium punggung tanganku, lalu aku membalas dengan kecupan mesra di keningnya.
Setelah memastikan ia tersenyum, aku meninggalkan kampus dan langsung ke bengkel.
*
*
*
"Kamu kenapa, Honney?" Aku menghampiri Putri yang masih berdiri di depan pintu setelah masuk ke ruanganku.
"Kakak, aku nggak hamil beneran," jawabnya yang kini mememelukku dengan erat. Ia mulai menangis di dadaku.
"Kok kamu tahu? Emangnya kamu udah cek ke dokter? Atau kamu pakai alat tes?"
__ADS_1
"Aku ...." Putri melepas pelukan kami, lalu mendongak untuk menatapku.
"Iya, kamu kenapa?"
"Aku datang bulan," jawabnya yang kembali menangis, bahkan saat ini suara tangisannya terdengar histeris.
Untung saja ruanganku aman. Kalau tidak, mungkin karyawan dan pelanggan yang datang ke bengkel ini bisa medengar suara tangisan Putri. Dia masih seperti anak kecil.
"Ya udah nggak apa-apa, masih banyak waktu buat kita usaha, Put. Saat ini kita belum dipercaya sama Tuhan. Kita harus lebih khusyuk lagi berdoa." Aku hanya bisa mengusap rambutya untuk menenangkan perasaannya, mengulang-ulang kalimat yang sama setiap kali ia bersedih karena merindukan kehadiran buah hati.
"Udah nggak apa-apa ya, kan nanti kita bisa usaha lagi. Atau kamu mau coba lagi sekarang?" godaku.
Putri menatapku dengan tajam, mata bulatnya melotot padaku. Kali ini ia terlihat menyeramkan.
"Aku kan lagi datang bulan."
"Hah? Puasa seminggu dong?"
"Ya, bisa aja, mungkin lebih."
Tidak, aku benci saat-saat harus berpuasa begini. Yah, meskipun ada tangan dan mulut Putri yang masih bisa bekerja menggantikan rumahnya Jupiter.
❤❤❤
...Selamat malam, gaess. Cie cie cie yang salah nebak. Wkkk. Tenang aku nggak lama-lamain kok bikin Putri hamil, tapi aku masih pengen bikin mereka honeymoon dulu. Biar kayak Aira sama Rafka, anaknya made in New York. Upss. keceplosan....
__ADS_1
Jangan lupa ritual jejaknya. Seperti biasa