
Setelah bersih-bersih, aku dan Dera keluar kamar untuk menemui Arsen dan istrinya. Dera terlihat sangat antusias, mungkin karena dia menyukai belanja.
"Mereka lama banget ya," keluhnya sambil melihat jam di tangannya.
"Mereka kan suami istri beneran, Ra, nggak seperti kita," sahutku sambil mengecek email laporan di ponsel.
"Maksudnya?" Dera mengerutkan keningnya. Dia ini benar-benar polos atau bagaimana sih?
"Ya, mereka kan suami istri, pasti disempetin nganu dulu lah, Ra. Emangnya kita."
Dera memalingkan wajah, ia tidak mau menatap mataku.
"Itu mereka." Dera menunjuk dua orang yang berjalan ke arah kami.
Seharusnya mereka datang lebih lama, biar aku puas menggoda Dera.
*
Kami sudah berada di mobil, Dera duduk di sampingku, sedangkan Arsen dan Kimmora duduk di belakang. Sepasang suami istri itu tidak henti-hentinya mengumbar kemesraan. Arsen sangat perhatian dengan istrinya, dan aku harus banyak belajar darinya.
Setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit, kami sampai juga di tempat belanja oleh-oleh yang kata Dera terbesar di Bali.
"Kim, ayo kita bersenang-senang dan habiskan uang mereka!" Dera mengatakannya seolah ia ingin benar-benar menghabiskan uangku.
Ingin sekali aku menjawab omongan Dera, walau dia membeli semua toko ini, uangku tidak akan habis.
__ADS_1
Dua wanita dengan tinggi hampir sama itu bergandengan memilah dan memilih kain dengan sangat serius, walau sesekali mereka tertawa.
Sedangkan Arsen yang mengekor bersamaku, tidak henti-hentinya memgawasi gerak-gerik Kimmora.
"Kamu dari tadi perhatiin Kimmora terus, dia nggak akan hilang kok," ucapku pada Arsen.
"Aku khawatir aja dia kenapa-napa, Dera kelihatannya sangat energik, aku tidak mau Kimmy kelelahan mengikuti Dera," jawab Arsen masih mencuri-curi pandang dari istrinya.
"Mereka sudah besar Arsen, tidak mungkin mereka jatuh karena belanja," kataku mencoba menenangkan pikiran Arsen.
Namun, mendadak aku teringat tingkah Dera saat mencari diskon besar-besaran beberapa bulan lalu. Memang benar yang dikatakan Arsen, Dera sangat luar biasa lincahnya.
"Kimmy lagi hamil muda sebenarnya, makanya aku sedikit khawatir." Arsen duduk di sampingku, tapi pandangannya tidak jauh dari istrinya. Ia seperti sedang menjaga Kimmora dari kejauhan.
"Apa? Jadi, Kimmora hamil? Wah, selamat ya kamu sudah menjadi calon ayah." Aku menepuk pundak Arsen yang terlihat kembali bahagia, tidak seperti beberapa saat lalu yang kelihatan suram karena mengkhawatirkan istrinya.
"Puasa? Maksudnya nggak boleh begituan selama hamil?" tanyaku serius.
Kalau wanita hamil itu normalnya selama sembilan bulan, apakah Arsen juga harus puasa selama itu?
"Ya, begitulah. Selama tiga bulan mungkin, harus puasa, tapi kalau bayinya sehat nggak masalah kata dokter."
"Tapi kan kamu dulu juga puasa pas awal nikah."
"Ya, itu beda lagi, kalau dulu murni main sama sabun, kalau sekarang mungkin Kimmy masih bisa membantu."
__ADS_1
"Kalau aku malah sama sabun terus."
"Bukannya kalian …."
"Ya, begitulah, nasib kita hampir sama, Dera sama Kimmora sama-sama buat kita jadi suami perjaka."
"Tapi, aku sudah tidak perjaka Zayn." Arsen tertawa, kali ini dia benar, dan dia menang.
Arsen bahkan sudah berhasil membuat makhluk kecil, sedangkan aku, masuk goa saja belum pernah. Nasib, nasib!
Dua wanita itu berjalan menuju kasir, Arsen yang sedari tadi mengawasi istrinya dari kejauhan langsung berdiri menghampirinya. Aku pun juga ikut berdiri mengikuti Arsen.
"Biar aku yang bawakan," kata Arsen setelah membayar semua barang belanja.
Tentu saja, aku tidak mau kalah dari Arsen, aku mengambil barang belanja Dera setelah membayar semua tagihannya dengan kartu debit.
Dera berbisik pada Kimmora, entah apa yang ia katakan, dua wanita itu malah tertawa senang.
♥️♥️♥️
...Dera seneng Kak Zayn, karena Kak Zayn udah perhatian sama Dera, walaupun niruin Arsen 😅😅...
Selamat pagi, selamat beraktifitas.
Jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘