
"Sudah malam sebaiknya pulang!" ucap Papa Dara dengan tegas.
"Yang tadi, maaf ya, Om. Saya nggak bermak—"
"Pulanglah, ini sudah malam. Jangan lupa segera hubungi keluargamu supaya kalian cepat menikah, sebelum terjadi hal yang tidak-tidak," ucap papanya Dara yang memotong pembicaraanku.
Aku mengangguk, reaksi beliau ternyata di luar dugaanku. Setelah bersalaman dan pamit pulang, aku kembali ke mobil untuk pulang.
Rasa lelah mulai menghampiri, padahal sewaktu bersama Dara tadi, semuanya baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi pegal-pegal begini ya?
Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya aku sampai di apartemen yang kubeli tahun lalu, dengan uang hasil kerja kerasku. Di sinilah aku tinggal bersama adikku Putri Prameswari. Satu-satunya saudara yang kupunya.
Masuk ke apartemen, aku langsung mencari adikku.
"Put, Putri." Aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, sampai akhirnya ia keluar dengan memakai piyama tidur lengan pendek.
"Mas mau ngomong," ucapku lalu meninggalkan kamarnya.
Putri mengikutiku ke ruang tv, tempatku mengistirahatkan tubuh di sofa.
"Kamu ada hubungan apa sama Tuan Muda?" tanyaku tanpa basa basi. Aku mengeluarkan martabak manis yang sengaja kubelikan untuknya.
"Maksudnya Mas Kai, si Zayyan itu?" Putri bertanya balik, ia mencicipi makanan itu sambil bersuara
"Iya, kalian ada hubungan apa?"
__ADS_1
Putri menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar.
"Dia itu udah ngerusakin laptop aku, Mas. Terus dia juga yang udah bikin buku aku masuk ke selokan. Nah, tadi dia belikan buku sama laptop baru buat aku," kata Putri dengan menggebu-gebu.
"Ya ampun Putri, kamu tau nggak dia siapa?" tanyaku dengan nada sedikit lebih tinggi.
"Mana ku tahu, yang aku tahu namanya Zayyan, dia kakak tingkat aku di kampus," jawabnya dengan santai, sambil terus melahap martabak manisnya.
Aku mengambil napas dalam lewat hidung, lalu mengembuskan dengan kasar melalui mulut. "Dia itu adik bosnya Mas di kantor, yang ngasih kerjaan buat mas, buat bayar sekolah kamu juga, Tuan Muda Zayyan itu adiknya Tuan Bos Zayn, kamu paham nggak Putri Prameswari."
Mendadak kepalaku terasa pusing. Tuan Muda mengadu pada kakaknya, lalu bagaimana dengan nasibku? Aku kan belum menikahi Dara.
"Ya, aku kan nggak salah, Mas. Yang salah tu Tuan Mudanya Mas Kai itu." Dara bangkit dan berjalan menuju dapur.
Tak lama, ponselku berbunyi membuatku buru-buru mengeceknya, siapa tahu Dara atau Tuan Bos yang menelepon.
"Halo Bos," sapaku setelah menjawab panggilannya.
"Kai, kamu di mana?" tanyanya dari seberang sana.
"Di rumah, Bos. Ada apa?"
"*Belikan bakso yang isinya telor puyuh, kuahnya dipisah biar baksonya nggak kepanasan."
"Jangan lupa nggak pakai bawang goreng*." Suara Nyonya Bos yang ikut menyahut.
__ADS_1
"Hah? Jam segini nyari bakso, Bos?" tanyaku untuk memastikan. Kulirik jam di tanganku sudah pukul 23:10. Mau cari bakso di mana?
"Iya, Dera ngidam pengen bakso katanya," jawab Bos Zayn dengan entengnya.
Bukankah dia yang menghamili, kenapa aku yang harus menuruti ngidam istrinya.
"Kamu dengar Kai?"
"Ah, iya Bos. Nanti saya carikan," jawabku tak bisa menolak.
"Baguslah, nanti aku kasih hadiah rumah, kalau kamu nikah." Kata-kata yang Bos Zayn ucapkan langsung membuat semangatku menggebu-gebu.
"Oke, Bos. Saya usahakan dapat baksonya."
Panggilan diakhiri setelah aku menyanggupinya. Enaknya kerja sama big bos itu ya seperti ini. Beli bakso saja bisa dapat rumah. Seperti kejatuhan durian, harus bisa dapat pokoknya.
"Put, tau nggak orang jualan bakso yang ada puyuhnya?" tanyaku pada Putri yang sedang minum di dapur.
"Em, coba bakso dekat mal yang jalan mawar di ujung gang, Mas. Aku pernah beli di sana, rasanya enak kok, tapi jam segini apa masih buka?" Putri terlihat ragu-ragu.
"Ada lagi nggak referensi, kalau mas dapat reward setelah berhasil dapetin bakso, nanti mas tambah uang jajanmu bulan depan jadi dua kali lipat," tawarku yang membuat mata Putri membulat.
"Aku tanyain temen-temenku, Mas. Nanti aku kabarin kalau dapat info lagi," kata Putri dengan mata berbinar.
"Oke, kabari secepatnya, keburu malam. Mas pergi dulu."
__ADS_1
♥️♥️♥️