
ZAYN
Ini adalah kali kedua aku mendatangi rumah Dera. Aku memang mengajaknya untuk makan malam bersama, untuk memancing berita hubunganku dengannya. Namun, bukannya siap dan langsung pergi, gadis itu malah masih sibuk di kamarnya saat aku datang. Terpaksa aku harus berbasa-basi dengan keluarga Dera sambil menunggu gadis itu turun dari kamarnya.
Sebenarnya aku malas sekali membicarakan hal yang tidak begitu penting ini, karena aku lebih suka membahas bisnis dan keuntungan.
Saat masih menunggu Dera sambil menyesap minuman yang disuguhkan pemilik rumah, aku melihat seorang laki-laki yang kira-kira seusia denganku masuk ke rumah ini tanpa permisi. Siapa dia? Apa dia bagian dari rumah ini juga?
"Dera mana, Kek? Aku mau ajak dia keluar sebentar," ucap laki-laki itu yang kemudian ikut duduk bergabung, matanya melirik ke arahku, seakan memindai dengan penuh curiga.
"Lagi siap-siap mau pergi sama calon suaminya, Zayn Wiguna," jawab kakek yang kutanggapi dengan seutas senyum.
"Calon suami?" Sepasang mata tajam itu kembali menatapku, membuat darahku berdesir, apa dia tidak mengenali namaku?
"Zayn, calon suami Dera." Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan laki-laki itu.
"Dion, sepupunya Dera," jawabnya dengan membalas jabatan tanganku.
Oh, jadi laki-laki ini sepupunya Dera. Aku pikir dia cowok yang suka sama Dera.
Suara high heels yang menapaki anak tangga, membuatku menoleh pada gadis itu.
Dera tampil sangat cantik dengan gaun berwarna putih, rambut lurusnya tergerai indah. Kulitnya yang seputih susu seakan menyatu dengan gaun yang dipakainya.
"Kak Zayn, maaf ya lama." Gadis itu sudah berdiri di hadapanku, entah sejak kapan. Aroma bunga yang segar menguar saat ia menyibakkan rambutnya.
__ADS_1
Benar-benar sempurna.
"Iya, nggak apa-apa," jawabku sedikit tercengang.
"Kak Dion ngapain ke sini?" Dera bertanya pada laki-laki bernama Dion itu sambil tersenyum.
Kenapa harus senyum begitu sih, apa dia se-ganjen itu?
"Aku tunggu di mobil," ucapku pada Dera, kemudian aku berpamitan pada mereka semua.
***
Makan malam kali ini sudah diatur oleh Asisten Kai, aku sendiri takjub dengan cara asistenku itu membuat acara makan malam seromantis ini.
"Kak Zayn romantis sekali ternyata." Dera menutup mulutnya sambil tersenyum-senyum, apa segitu bahagianya dia?
Asisten Kai memesan meja yang menghadap langsung pada pemandangan malam ibu kota, kerlap kerlip lampu di bawah sana terlihat seperti bintang-bintang dari tempat tinggi ini.
"Kamu mau makan sambil berdiri?" tanyaku karena melihat Dera hanya diam dengan bibir yang senyum-senyum tak segera duduk di kursinya.
"Harusnya Kak Zayn tarik kursi aku, terus aku duduk deh," kata Dera yang membuatku tertawa.
Gadis ini lucu sekali tingkahnya.
"Kamu punya dua tangan kan? Memangnya kamu nggak bisa narik kursi sendiri?" tanyaku.
__ADS_1
Raut wajahnya mulai berubah, sedikit cemberut lalu menarik kursi untuk duduk. Tuh kan, dia bisa duduk sendiri.
Satu per satu makanan mulai datang. Aku mulai menikmati makan malam ini, tapi tidak dengan Dera. Gadis itu sibuk mengaduk-aduk makanannya. Bahkan gelas minumannya juga diaduk-aduk. Kenapa sih gadis ini, jangan sampai ada wartawan yang meliput tingkah anehnya.
"Kamu nggak suka makanannya?" tanyaku setelah frustasi dengan tingkah Dera yang aneh.
"Bukan Kak, aku lagi cari cincin kejutannya, karena aku nggak mau di tengah-tengah acara makanku, aku menemukan kejutan itu," jawab Dera yang membuatku mengerutkan dahi.
"Cincin kejutan apa? Siapa yang menaruh cincin di makanan, jorok sekali!"
"Kak Zayn nggak ngasih cincin di makanan aku?" tanya Dera dengan ekspresi anehnya.
Aku tertawa sinis, gadis ini bodoh atau apa? Buat apa menaruh cincin di makanan, memangnya tidak bahaya kalau sampai tertelan?
"Enggak."
Dera menyandarkan punggungnya ke belakang, ia terlihat lemas bersandar di kursi.
"Kak Zayn nggak romantis."
Kenapa dia? Beberapa saat lalu memujiku romantis, sekarang bilang aku tidak romantis. Dasar gadis plin-plan.
❤❤❤
...Abang, kamu yang nggak paham maksudnya Dera. Si Dera juga kepedean sekali sih 😅😅...
__ADS_1
Yuk komentar dan likenya. 🤗🤗